Saat Duka Menyapa…

Sebut saja namanya Hamidah. Midah, begitu orang-orang memanggilnya. Janda tanpa anak, belum genap dua puluh empat tahun, masih teramat muda untuk menyandang gelar janda. Lahir dan  dibasarkan dipinggiran  ibukota. Pinggiran  bukan   sekedar area-X yang abu-abu dengan ancaman tergusur –untuk memperhalus ‘digusur’-, tapi betul-betul dipinggiran karena memang dipinggirkan.

Midah, sulung enam bersaudara pasangan Rahmat dan Aminah (sengaja disamarkan dengan nama-nama ini agar tidak kentara pribumi atau pendatang). Hidup bersama kedua orang tuanya dalam gubuk sederhana, teramat sederhana bila melihat disekelilingnya berdiri gedung-gedung tinggi menjulang menantang. Hidup dari mengurus dan menjual sayuran yang mereka tanam diatas sepetak tanah milik seorang kaya berhati agak dermawan, ya agak sermawan  sebab ia masih menerima seperempat dari hasil tanahnya yang tak seberapa bila disbanding segudang property yang ia miliki. Baca entri selengkapnya »

Iklan