Saat dia datang..

Hari ini taman hati Aisyah berbunga, seperti taman kecil didepan rumahnya yang asri. Setangkai mawar merah merekah, membuat seekor kumbang datang bertandang, membantu menjatuhkan benangsari ke putik, agar bunga berbuah dan berbiji, meneruskan siklus hidup dan menjaga komunitas agar tetap bertahan.

Hati Aisyah berbunga, seorang pangeran yang lama dinanti kini telah tiba. Melamar, ya melamarnya untuk dijadikan permaisuri, menyempurnakan separuh dien, agar hidup semakin bermakna.

Pangeran pujaan akan  datang tanpa menaiki kereta kencana, tanpa mahkota, tidak pula diiringkan penjaga dan punggawa. Ia hanya seorang laki-laki bermuka tirus, berkacamata minus, semakin menambah kesan serius dengan postur tubuhnya yang kurus.  Tapi pangeran tetaplah pangeran, dalam ketirusan wajahnya terdapat sorot mata yang tajam, dibalik kacamata minusnya tampak keluasan ilmu dan amal. Kerutan di dahinya menjadi bukti bahwa waktu telah menempanya menjadi seorang laki-laki dewasa.

Orang yang aneh dalam kacamata akademis, betapa tidak, ia kuliah syariah tapi ia juga programmer komputer yang handal, ia mengkajji sirah  dan tarikh tapi kimia dan fisika seakan menempel di kepalanya, ia mendalami fiqih dan ushul tapi ia juga melahap biologi dan astronomi, ia hafal karya sastra klasik  dan kontemporer sekaligus memahami hapal  rumus-rumus matematika. Subhanallah, multi talenta, begitu orang-orang memanggilnya. Tak susah mencarinya, pagi  di kampus, siang di perpustakaan, sore di mushala kampus, malam mengisi kajian rutin.

Aisyah mendapat kehormatan untuk menjadi calon pendamping sang pangeran, sungguh kebahagiaan yang tiada tara walau ijab dan Kabul belum hendak diakadkan hari ini.

bersambung…

arhsa@yahoo.co.id

Iklan
Ditulis dalam Cinta. 2 Comments »

Pelajaran Cinta

Entah mengapa, yang jelas hari ini ingin posting tentang cinta. paling tidak ada tulisan yang bisa untuk dibaca.

Anis Matta menulis :

Memang tidak mudah. sebab tidak karena kamu mencintai, lalu hendak memberi, atau kamu menebar pesona, maka cintamu berbalas. Fakta ini mungkin pahit. tapi begitulah adanya: kadang-kadang kamu harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan cinta. Sebabnya sederhana saja. cinta itu banyak macamnya. ada cinta misi: cinta yang memang kita rencanakan sejak awal. cinta ini lahir dari misi yang suci, didorong oleh emosi kebajikan dan didukung dengan kemampuan memberi. misalnya cinta para nabi kepada umatnya, atau guru kepada muridnya, atau pemimpin kepada rakyatnya, atau ibu kepada anaknya. Jiwamu dan jiwa orang yang kamu cintai tidak mesti bersatu. cinta ini sering tidak berbalas. bahkan sering berkembang jadi permusuhan. lihatlah bagaimana nabi-nabi itu dimusuhi umatnya, atau para ibu yang ditelantarkan anak-anaknya dimasa tua, atau pemimpin yang baik dibunuh rakyatnya, atau guru yang dilupakan murid-muridnya. Inilah cinta yang paling luhur.paling suci. sebagian besar kebaikan yang kita saksikan dalam kehidupan kita, bahkan dalam sejarah umat manusia, sebenarnya adalah buah dari cinta yang lain.

ambilah contoh: 1,3 milyar umat islam saat ini adalah hasil perjuangan berdarah-darah sang Nabi beserta para sahabat-sahabatnya. itu cinta misi. Tapi ada jenis cinta lain. cinta jiwa. cinta ini lahir dari kesamaan atau kegenapan watak jiwa. jiwa yang sama atau berbeda tapi saling menggenapi biasanya akan saling mencintai. cinta ini yang lazim ada dalam hubungan persahabatan dan perkawinan atau keluarga. cinta ini mengharuskan adanya respon yang sama: cinta tidak boleh bertepuk sebelah tangan disini. Inilah cinta yang paling rumit.serumit kimia jiwa manusia… Ada cinta ketiga. cinta maslahat. cinta ini dipertemukan oleh kesamaan kepentingan. mereka bisa berbeda watak atau misi. tapi kepentingan mereka sama maka mereka saling mencintai. misalnya hubungan baik yang lazim berkembang di dunia bisnis. suara ramah dari penjawab telepon, atau senyum manis seorang pramugari, atau layanan sempurna seorang resepsionis hotel: semua berkembang dari kepentingan tapi efektif menciptakan kenyamanan jiwa (confortability). anda adalah bagian dari pekerjaannya. bukan jiwanya. anda adalah kepentingannya. bukan jiwanya.

Entahlah,yang jelas Anis Matta lebih faham apa yang telah ia tuliskan.

Untuk beberapa hati.


Anis Matta, Serial Cinta, hal. 86

Ditulis dalam Cinta. 2 Comments »