Mengirim Lamaran Kerja Yang Menarik

1
Melamar pekerjaan gampang-gampang susah. Maksudnya, bisa gampang atau juga bisa susah :). Melamar pekerjaan tidak sekedar memasukan berkas lamaran kemudian menunggu panggilan. Tapi, lamaran harus bisa menjadi wakil pelamar satu-satunya, menggambarkan kepribadian pelamar secara utuh (yuabbir ‘an nafsihi), terutama keunggulan yang dimiliki sehingga bisa menembus HRD, agar lamaran yang masuk tidak sekedar mampir, memenuhi laci arsip lalu dimusnahkan, mengenaskan…
Kelemahan lamaran kerja yang masuk (setidaknya kepada kami) ada pada kelemahan visi dan misi pelamar sendiri. Beberapa lamaran yang masuk hanya menyampaikan lamaran umum, menyerahkan curriculum vitae dan melampirkan scan berkas. Padahal, kekuatan lamaran juga ada pada eksplorasi kapasitas pribadi, skill/kemampuan tambahan, dan pengalaman kerja.
Menyikapi hal ini, kami ingin berbagi sudut pandang dengan para pelamar. Paling tidak, pelamar bisa mengetahui hal-hal yang bisa membuat lamarannya lolos, mendapat panggilan, dan lebih jauh bisa diterima. Apa yang akan kami paparkan tentu saja bisa berbeda atau serupa dengan HRD-HRD di lembaga lain. Setidaknya, ini yang kami inginkan dari para pelamar yang mengirim lamaran kepada kami.
Selanjutnya, yang menentukan diterima atau tidak adalah, “apakah data di lamaran kerja sesuai dengan kenyataan saat proses test berlangsung?”. jika ya, selamat Anda bisa menembus HRD. Jika tidak, mohon jangan mengulangi kesalahan menulis data berbeda antara lamaran dan kenyataan!
Sudut Pandang Pelamar
Dalam sub bab ini, kami ingin menyampaikan kelemahan lamaran dan sekaligus alternatif solusinya, sebab bisa jadi ada solusi lain yang lebih pas dan jitu yang sudah disampaikan para HRD di tempat lain. Berikut adalah hal-hal yang sebaiknya diperhatikan para pelamar: Baca entri selengkapnya »

Siapakah Pelajar? (bagian 2)

(Seri Menjadi Pelajar Berprestasi. Bagian 1b)

 [download tulisan ini dalam format PDF]

 

Keempat: ath-tathollub, mencari berulang-ulang dan mencari di beberapa tempat

            Kemampuan otak manusia sungguh luar biasa, diantara keistimewaan otak adalah daya ingat yang menakjubkan. Otak tidak pernah overload, tidak pernah kekurangan kafasitas, tidak pernah bertanya apakah informasi yang baru kita dapat harus disimpan (save) atau dibiarkan hilang. Tidak seperti komputer yang selalu bertanya setiap terjadi input baru baik berupa gambar, angka, hurup, suara, dan data masuk lainya.

            Otak seperti live streaming, tapi semua hasil streaming-nya tersimpan dalam hardisk yang tidak memiliki batas kafasitas, diatas jutaan terabyte. Hampir tidak ada kalimat “Low disc space on brain!” seperti yang terjadi pada hardisk “Low disc space on drive …!”. Keunggulan lainnya, proses penyimpanan informasi dan data baru ke otak sebagian besar tidak disadari oleh manusia, kecuali hasil proses belajar formal yang dilakukan dengan kesadaran penuh.

Nothing perfect (tidak ada yang sempurna). Maka, diantara kehebatan otak tersebut masih ada batasan-batasan diluar kesempurnaan. Diantara hal tersebut adalah ‘kemampuan mengingat’. Ada perbedaan signifikan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Penyebab perbedaan kemampuan mengingat bisa bermacam-macam. Penyakit, keterbelakangan mental, gizi buruk, kekerasan fisik, gangguan psikhis, usia tua, dan sebab-sebab lainnya. Baca entri selengkapnya »

Siapakah Pelajar? (bagian 1)

(Seri Menjadi Pelajar Berprestasi. Bagian 1a)

[download tulisan ini dalam format PDF]

Muqodimah

Mendengar kata pelajar, pasti terbayang anak-anak dengan seragam putih merah, putih biru tua, putih biru benhur, putih abu-abu, putih hitam, dan beberapa corak kemeja batik serta kaos olahraga sesuai dengan sekolah, lembaga, atau pesantren tempat mereka belajar.

Lalu, siapakah sebenarnya pelajar? apakah kamu yang sekarang sedang dalam masa belajar menyadari bahwa kamu adalah pelajar? Apakah kamu betul-betul mencari ilmu karena sadar sebagai pelajar, karena disuruh orang tua atau sekedar menyelesaikan masa belajar di setiap jenjang pendidikan yang ada? Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut mari kita lihat siapa sebenarnya pelajar.

Dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas “pelajar” dari pendekatan etimologis. Yaitu definisi tentang asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna. Bukan pendekatan terminologis atau definisi istilah. Dan pelajar yang dibahas disini dalam konteks islami atau pelajar muslim.

  1. Definisi Pelajar dalam Bahasa Indonesia?

Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) pelajar adalahanak sekolah (terutama pd sekolah dasar dan sekolah lanjutan); anak didik; murid; siswa. Berasal dari akar kata ‘ajar’ artinya petunjuk yg diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut).

Belajar memiliki beberapa arti: 1. berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; 2. Berlatih; 3. berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Mempelajari artinya belajar (sesuatu) dengan sungguh-sungguh; mendalami (sesuatu). Kata lain yang memiliki makna sama dengan pelajar adalah murid dan Siswa. [1]

  1. Definisi Pelajar dalam Bahasa Arab?

Dalam Bahasa Arab ada banyak istilah yang menjadi padanan kata ‘pelajar’. Agar tulisan ini tidak terlalu panjang maka penulis hanya akan membahas empat macam saja, yaitu: Tilmidz (تلميذ), Muta’allim (متعلم), Daris (دارس), dan Tholib atau Tholibul ilmi ( طالب).

Makna kalimat Tilmidz.

Makna تلميذ menurut Ibnul Mandzur dalam kitab Lisanul Arab artinya ‘pembantu’ atau ‘pengikut’ ( تلمذ: التلاميذُ: الخَدَمُ والأَتباع، واحدهم تِلْميذٌ ). Az-Zubaidi dalam kitab Tajul ‘Arus juga menyebutkan makna yang sama bahwa tilmidz adalah pelajar atau pembantu khusus bagi seorang guru ( أَن المُرَاد مِنْهُ المتعلّم، أَو الْخَادِم الخاصّ للمعلِّم ). [2]

Tilmidz adalah istilah yang digunakan untuk pelajar pada jenjang dasar sampai menengah. Pada jenjang tersebut pelajar biasanya sangat tergantung pada guru yang mengajar. Mengikuti apa yang mereka ajarkan dan apa yang mereka arahkan, sehingga disebut sebagai pengikut.

Dalam hal ini, ada syahid (bukti) bahwa suatu ketika Khalifah Harun Al-Rasyid melihat anak-nya sedang menuangkan air untuk gurunya ketika berwudhu. Khalifah menegur guru tersebut, “Kenapa engkau tidak suruh dia untuk menuangkan air dengan satu tanganya dan mencuci kakimu dengan tangannya yang lain.” [3]

Maka, titik tekan dari tilmidz adalah guru menjadi teladan dalam semua aspek terutama akhlak dan pelajar berusaha meneladani semua hal-hal positif yang dicontohkan oleh guru. Jadi, lebih menitik beratkan pada akhlak (amal praktis) dibanding pemberian materi (teoritis).

 

Makna kalimat Muta’allim.

Muta’allim berasal dari akar kata ‘alima (عَلِمَ) yang darinya muncul istilah ilmu (عِلْمٌ), dan ta’allama (تَعَلَّمَ) yang menjadi asal istilah muta’allim (مُتَعَلِّمٌ) . Az-Zubaidi dalam kitab Tajul ‘Arus mengutip pendapat Ar-Raghib Al-Asbahani bahwa ilmu artinya ‘mengetahui sesuat dengan sebenar-benarnya’ (إدْراكُ الشَّيءِ بِحَقيقَتِه ).

Ilmu terbagi dua; Teoritis, bisa sempurna dengan pengetahuan saja seperti pengetahuan tentang adanya alam semesta. Dan Praktis, tidak sempurna kecuali setelah dipraktekan, seperti ilmu tentang ibadah (shalat, zakat, dll.).

Ar-Raghib menyebutkan bahwa ta’lim (pengajaran) secara spesifik (khusus) membutuhkan pengulangan (تكرير) dan pengayaan (تكثير) sehingga penghasilkan efek (pengaruh) bagi muta’allim. Dari pendapat tersebut bisa difahami bahwa esensi (titik tekan) dari muta’allim adalah usaha untuk mempelajari ilmu dengan pengulangan dan pengayaan sehingga menguasai ilmu tersebut dengan sebenar-benarnya.

Makna kalimat daris.

Daris (دارس) berasal dari kata darasa (درس) artinya membaca (قرأ) (kitab/buku) dengan berulang-ulang sehingga mudah untuk dihafal. Dari darasa muncul tiga istilah yang sangat populer, yaitu; ad-dars (pelajaran), al-mudarris (guru) dan al-madrasah (sekolah).

Ad-Dars, sejumlah ilmu yang dipelajari pada waktu tertentu (المقدار من الْعلم يدرس فِي وَقت مَا). Al-Madrasah, tempat belajar dan mengajar (مَكَان الدَّرْس والتعليم). Al-Mudarris, laki-laki yang banyak belajar, banyak membaca dengan menulis dan selalu mengulang-ngulang pelajaran atau bacaannya (الرَّجُلُ الكَثِيرُ الدَّرْسِ، أَي التِّلاَوَةِ بالكِتَابة والمُكَرِّر لَهُ). (lihat Tajul ‘Arus dan Mu’jam Wasith). [4] [5] Untuk lebih memahami makna darasa bisa dipelajari dua ayat berikut:

{وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ} [آل عمران: 79[

Artinya: “Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.”

{أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ} [القلم: 37]

Artinya: “Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?.”

Makna kalimat tholib.

Tholib berasal dari akar kata tholaba. Ibnul Mandzur dalam Lisanul Arab menyebutkan beberapa makna dari akar kata (طلب) . Makna-makna tersebut menggelitik hati penulis karena berhubungan erat dengan kondisi pelajar saat ini. Berikut adalah beberapa makna tersbut:

Pertama: الطَّلَبُ (ath-tholabu) : مُحاوَلَةُ وِجْدانِ الشَّيءِ وأَخْذِهArtinya : usaha untuk menemukan sesuatu dan mengambilnya.

Kedua: طَلَبَ (tholaba) :   رَغِبَArtinya : Menyukai

Ketiga: الطِّلْبَةُ (ath-thilbah) : مَا كَانَ لكَ عِنْدَ آخرَ مِنْ حَقٍّ تُطالِبه بِهِ Artinya : Anda memiliki suatu hak pada orang lain yang harus diambil/dituntut.

Keempat: التَّطَلُّبُ (ath-tathollub) : الطَّلَبُ مَرَّةً بَعْدَ أُخرى و طَلَبٌ فِي مُهْلة مِنْ مَوَاضِعَ Artinya : mencari berulang-ulang atau mencari di beberapa tempat.

Kelima: الطَّلِبَةُ (ath-tholibah) : الحاجةُ Artinya : kebutuhan, hajat(need).

Keenam: إِطْلابُ (ithlab) : إِنجازُها وقضاؤُهاArtinya : menyediakan dan melaksanakan.

Mari kita bahas lebih dalam makna-makna kata ‘tholib’ diatas sehingga bisa difahami menjadi satu kesatuan makna. Baca entri selengkapnya »

KEMATIAN, SUATU KENISCAYAAN

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

 Satu tahun kebelakang (Kamis-Jum’at 6-7 September 2012 M/19-20 Syawwal 1433 H) istri saya memberi kabar bahwa dua orang tetangga di kampung meninggal dunia. Yang satu wanita setengah tua dan yang satu lagi laki-laki separuh baya.

Beberapa bulan yang lalu, (10 Pebruari 2013 M – 29 Rabiul Awwal 1434 H) istri saya kembali memberi kabar bahwa dua orang tetangga di Kampung meninggal dunia. Dua-duanya laki-laki separuh baya.

Awal bulan Juli 2013 (sebelum Ramadhan), giliran uak (kakak ibu) saya yang dipanggil ke hadirat ilahi. Saya melihat jelas wajah al-marhum saat kain kapan bagian wajahnya dibuka untuk masukan kedalam liang lahat. Wajah tua yang teduh dengan sedikit senyuman, seakan pertanda ridho dijemput untuk kembali ke tempat asal.

Ibarat daun yang telah menguning di sebuah pohon, akan terlepas dari tangkai jika telah datang masanya. Tapi, manusia berbeda dengan daun, kematian bukan hanya niscaya bagi mereka kaum tua, ia bisa menyapa anak muda, balita bahkan bayi yang masih berada dalam rahim ibu yang mengandungnya. Baca entri selengkapnya »

Antara Identitas Simbolis dan Identitas Ideologis

Muqadimah

Identitas adalah tanda pengenal yang sifatnya mutlak. Tanpa identitas tidak ada kejelasan pribadi yang bisa dipertanggung jawabkan. Seorang penduduk suatu negara pasti memiliki kartu tanda penduduk sebagai identitas bahwa dia termasuk penduduk negeri tersebut. Dalam ranah mikro, seorang pelajar pasti memiliki kartu pelajar sebagai identitas bahwa ia bagian dari lembaga pendidikan tempat ia belajar. Seorang muslim juga memiliki identitas yang menunjukan dia sebagai bagian dari umat islam.

Identitas ada yang simbolis dan ada juga yang idiologis. Keduanya sama-sama identitas namun isinya sangat jauh berbeda. Identitas simbolis lebih bersifat manusiawi dan universal sedangkan identitas ideologis lebih berdasar pada bimbingan wahyu transendental (ukhrowi). Identitas simbolis lebih menekan pada bentuk pengenalan dan penegasan pribadi sedangkan identitas ideologi adalah ruh dari pribadi tersebut.

Identitas Simbolis

Seorang muslim yang pernah melaksanakan Ibadah haji kemudian menambahkan awalan ‘H.’ sebelum namanya adalah salah satu contoh identitas simbolis. Sebab, penambahan awalan ‘H.’ tersebut bukan jaminan haji mabrur , hanya Allah Swt. yang tahu kualitas ibadah seorang hamba. Sejatinya, melaksanakan ibadah haji adalah identitas ideologis jika dilakukan dengan ikhlas dan sempurna syarat serta rukunnya. Maka, kita harus selalu memohon kepada Allah agar ibadah haji kita menjadi identitas simbolis sebagai penegasan bahwa kita seorang muslim yang taat sekaligus menjadi identitas ideologis sebagai bukti bahwa setelah berhaji ketakwaan kita semakin meningkat dan selalu terawat. Baca entri selengkapnya »