Bagaimana Memulai Menulis?

Muqodimah

Judul tulisan ini barangkali menjadi pertanyaan awal sekaligus masalah bagi para pemula yang ingin menulis. Seperti semua jenis kegiatan lain, menulis pun memiliki kesulitan dan kemudahan. Yang seharusnya dilakukan adalah memulai, bukan sebaliknya mengumpulkan segudang kelemahan yang menjadi penghambat untuk bisa menulis. Belum mulai menulis tapi sudah menghakimi bahwa menulis itu susah. Kalimat “Tidak Bisa” diucapkan diakhir, setelah semua usaha dilakukan namun tetap tidak mampu, bukan diucapkan dipermulaan sebelum melakukan proses apapun sehingga menjadi penghambat kreatifitas.

Menulis, Penulis, Pakar Menulis, dan Tulisan yang bermanfaat

Sebelum memulai menulis, Anda harus membedakan antara “Menulis”, “Penulis” dan “Pakar Menulis”. Mari membuka senjata utama dalam menulis, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut KBBI, Menulis artinya: 1. Membuat huruf (angka dsb.) dengan pena (pensil, kapur, dsb); 2. Melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; 3. Menggambar, melukis; 4. Membatik (kain). Penulis artinya: 1. Orang yg menulis; 2. Pengarang; 3. Panitera, sekretaris, setia usaha; 4. Pelukis, penggambar. Pakar artinya: ahli, spesialis. Pakar Menulis adalah orang yang ahli di bidang kepenulisan.

Melihat definisi Menulis dan Penulis, sepertinya tidak sulit untuk memulai menulis. Ambil pena dan kertas lalu mulailah menulis, itulah modal awal untuk menulis, sangat sederhana. Jadi, yang harus kuat pondasinya adalah keinginan untuk menghasilkan tulisan, bukan untuk memaksa diri melahirkan tulisan yang berkualitas. Sebab, ada tahapan yang harus dilalui secara gradual (bertahap) mulai dari level basic, intermediate sampai expert.

Adapun untuk bisa menjadi Pakar Menulis tentu memerlukan waktu. Predikat ini akan tercapai sambil berjalannya waktu (learning by doing), dengan meningkatkan kualitas tulisan. Ada yang harus Anda catat, bahwa Pakar Menulis adalah orang yang sangat paham tentang dunia kepenulisan: cara menulis, metodologi, tata bahasa, alur, plot, diksi, dan segudang istilah kepenulisan lainnya. Akan tetapi, bukan berarti Pakar Menulis juga menjadi pakar dalam semua topik atau semua disiplin ilmu.

Point selanjutnya yang harus menjadi dasar bagi kita untuk menulis adalah menghasilkan tulisan yang bermanfaat. Yang dimaksud dengan tulisan yang bermanfaat adalah tulisan yang lahir dari seseorang yang punya bakat tertentu kemudian membuat tulisan berdasarkan bakatnya. Atau punya keahlian di bidang tertentu kemudian menulis sesuai dengan keahliannya tersebut. Atau orang yang melihat suatu masalah dan ia punya jawaban atau solusi untuk permasalahan tersebut kemudian menulisnya agar bisa memberi manfaat.

Tulisan yang bermanfaat bisa lahir dari orang yang sama sekali tidak faham metodologi kepenulisan, dari seorang ustadz yang bukan guru Bahasa Indonesia, atau bahkan dari seorang santri yang jelas bukan pakar menulis. Namun, tulisannya berisi solusi, memberikan pencerahan dan melahirkan semangat untuk maju dan berprestasi.

Inilah tujuan utama dari artikel ini, yaitu ajakan untuk menuliskan sesuatu yang bermanfaat sesuai latar belakang dan kemampuan masing-masing, dengan harapan tulisan tersebut bisa bermanfaat dan menjadi tabungan kebaikan. Melepaskan diri dari belenggu kepakaran dan keahlian yang menghambat pemula untuk mau belajar. Sebab, cita rasa menulis dan kualitas tulisan akan berkembang setelah menulis berulang-ulang.

Bagaimana memulai?

Seperti sudah disebut diatas, caranya sangat mudah dan simple, ambil pena dan kertas lalu menulislah! Tapi mungkin bagi sebagian orang, walaupun pena dan kertas sudah tersedia, sepertinya tangan berubah menjadi seberat gunung atau seperti mobil mogok yang harus didorong atau diderek. Untuk memberi motivasi, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan, diantaranya:

a. Menulis apa saja

Jika mengacu kepada definisi menulis: “Melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan” maka apapun bisa menjadi tulisan. ketika Anda memandang indahnya mentari pagi diiringi nyanyian burung-burung, Anda bisa menulisnya. Ketika Anda melihat murid-murid sedang berleha-leha padahal sudah di ambang ujian, Anda bisa menulis tips belajar yang membahas pentingnya belajar di masa muda untuk bekal disaat tua. Jadi, apapun bisa menjadi tulisan!

b. Pilih materi yang Anda kuasai

Agar tulisan Anda tidak terkesan dipaksakan karena kurang menguasai topik yang Anda tulis, silahkan menulis berdasarkan kemampuan pribadi. Contoh: Anda yang mahir Berbahasa Arab tulislah artikel tentang cara menguasai Bahasa Arab, sehingga hasilnya akan lebih objektif daripada Anda menulis tips menguasai Bahasa Inggris. Anda yang punya bakat menjadi motivator tentu lebih baik menulis tentang motivasi diri daripada membahas hukum-hukum fiqih yang tidak begitu Anda kuasai. Ketika Anda menulis sesuai dengan keahlian yang Anda miliki, maka Anda sudah mengetahui segmentasi tulisan dan calon pembacanya.

c. Fahami siapa pembaca tulisan Anda

Bagian ini sangat penting. Bisa jadi tulisan Anda sangat hebat tapi justru kurang bermakna saat salah dalam menentukan pangsa pasar bagi tulisan Anda. Contoh: Anda menulis tentang Hermeneutika, sekularisme, dan seabrek istilah lain dengan tujuan counter liberalisme tapi pembaca tulisan Anda adalah anak-anak tingkat menengah di Pesantren yang jarang berinteraksi dengan hal-hal demikian. Jangankan untuk mencerna isi, untuk memahami judul dan istilah saja banyak yang kesulitan.

Apakah tidak boleh? Tentu saja boleh, bahkan harus, tapi dengan beberapa sentuhan, gunakan pendekatan sederhana yang bisa dicerna oleh mereka. Menjadikan tulisan yang berat menjadi lezat. Mengupas masalah yang susah dengan bahasa yang indah. Jadi, saat menulis jangan hanya memandang dari kaca mata Anda sebagai penulis, tapi juga memperhatikan kaca mata para pembaca yang akan menikmati sajian yang Anda berikan. Barangkali buku Capita Selecta karya Mohammad Natsir bisa menjadi contoh yang bagus.

d. Menjaga Kontinuitas

Segala sesuatu memerlukan pengulangan agar menjadi kebiasaan. Tidak mungkin hanya melakukan sekali kemudian mengakar dan berbuah. Begitu juga menulis. Jangan hanya sekali, harus berulang kali. Tentukan sejak awal bahwa Anda harus menghasilkan satu tulisan setiap mingu, setiap bulan, setiap tiga bulan atau setiap enam bulan, dan seterusnya.

Untuk menjaga kontinyuitan menulis, anda bisa membuat prograam bahtsul ilmi atau menyiapkan kajian tematik. Mengangkat suatu masalah kemudian mencari jawabannya di buku atau kitab, setelah ketemu dibuat satu tulisan.

e. Pengeditan

Proses menulis biasanya bercampur dengan proses menghadirkan ide, menyerap referensi, mencari kalimat dan istilah, menyimpulkan, dan hal-hal lainnya. Maka, tulisan yang baik biasanya jadi setelah mengalami proses pengeditan yang seringkali tidak cukup hanya satu kali. Pengeditan ini mencakup tata bahasa, struktur kalimat, diksi, ejaan, istilah, margin tulisan, dan lain-lain.

Anda menulis artikel hanya satu kali, tapi mungkin proses pengeditannya bisa lebih dari dua kali. Sebagai pemula, jangan menjadikan tata bahasa sebagai hambatan, lanjutkan menulis dan sambil berjalan perbaiki kelemahan di bidang tata bahasa.

f. Mengendapkan Tulisan

Jika pengeditan adalah mengoreksi tulisan Anda dari sisi bahasa, maka mengendapkan adalah mengoreksi dan memperkaya tulisan dari sisi ide, penjabaran, pengayaan referensi, pendalaman makna, dan hal-hal lainnya.

Biasanya, karya yang paling bagus dari seorang penulis ada dua: Pertama, tulisan pertama pada saat ia mulai menulis. Tulisan pertama bukan berarti bagus dari semua sisi, tapi bagus dari sisi penyajian. Sebab seorang pemula pasti berusaha untuk menciptakan karya terbaiknya walaupun menurut kaidah dan aturan ia belum bisa dianggap benar, karena ia memang belum menguasainya. Kedua, tulisan saat dia sudah menjadi seorang pakar dalam menulis. Karena dia sudah tahu ilmunya sehingga karya-karya tersebut menjadi karya terbaik yang pernah ia ciptakan.

Akan tetapi, ada kesamaan untuk kedua karya tersebut, yaitu Mengendapkan Tulisan. Seorang pemula tidak akan langsung menulis dan langsung mengirim atau menerbitkan tulisannya. Tapi ia akan mengedit, memperbaiki, meminta pendapat, membaca ulang, menyimpan beberapa saat untuk kemudian dilihat kembali, sampai ia yakin itulah karya awal yang sudah final sesuai dengan kafasitasnya. Adapun penulis yang sudah ahli tentu saja karena pengalaman dan penguasaannya terhadap segala hal yang berhubungan dengan kepenulisan.

g. Membuka Kamus

Di bagian atas sudah ditulis bahwa senjata utama dalam menulis (artikel Berbahasa Indonesia) adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kamus berguna untuk memastikan kosa-kata yang akan kita gunakan, apakah termasuk Bahasa Baku atau bukan. Contoh: dalam sub judul d. Menjaga Kontinuitas. Saya menulis ‘Kontinuitas’. Padahal, selama ini selalu menulis ‘Kontinyuitas’ karena sesuai dengan pengucapan. Ternyata yang benar adalah Kontinuitas tanpa huruf “y”.

Contah lain: dalam sub judul e. Pengeditan, saya menggunakan pengeditan bukan editing, karena yang ada di KBBI adalah pengeditan atau penyuntingan bukan editing. Adapun kata-kata yang tersedia adalah edit, editor dan editorial. Sedangkan editing tidak tersedia karena serapan langsung dari Bahasa Inggris, walaupun sangat populer penggunaannya .

Contoh lain: dalam sub judul f. Mengendapkan Tulisan saya menggunakan ‘Mengendapkan’ bukan ‘Pengendapan’. Menurut KBBI, Mengendapkan salah satu artinya: menunda untuk dipikirkan (dipertimbangkan) dalam-dalam. Kata ini berupa kata kerja intransitif dan bukan kata benda. Maka, saat disimpan sebagai judul saya tambah kata Tulisan, sehingga menjadi jumlah fi’liyah dan bisa disimpan sebagai judul. Sedangkan Pengendapan istilah Geologi yang artinya: peletakan bahan padat yang terbawa dari tempat jauh oleh sungai, angin, gletser, air laut. Walaupun secara umum boleh menggunakan Pengendapan, tapi secara fungsi lebih pas menggunakan Mengendapkan.

Jika KBBI cukup mahal atau tidak praktis karena cukup tebal dan harus membuka ratusan halaman, maka ada solusi lain yaitu membuka KBBI Online dari Pusat Bahasa di situs ini http://kbbi.web.id atau download KBBI offline dari situs ini http://ebsoft.web.id/download/ Keuntungan dari KBBI baik online maupun offline adalah kecepatan dalam penggunaannya, Anda hanya perlu mengetik kata yang Anda inginkan kemudian copy paste hasilnya.

h. Memahami Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi dan Ejaan Van Ophuijsen. Contoh perubahan dari ejaan lama ke EYD adalah penggantian ‘oe’ menjadi ‘u’ : soerat surat. ‘tj’ menjadi ‘c’ : tjutji → cuci. ‘dj’ menjadi ‘j’ : djarak → jarak . ‘j’ menjadi ‘y’ : sajang → sayang. ‘nj’ menjadi ‘ny’ : njamuk → nyamuk. ‘sj’ menjadi ‘sy’ : sjarat → syarat. ‘ch’ menjadi ‘kh’ : achir → akhir

Awalan ‘di-‘ dan kata depan ‘di’ dibedakan penulisannya. Kata depan ‘di’ pada contoh “di rumah”, “di sawah”, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara ‘di-‘ pada “dibeli” dan “dimakan”, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. [http://id.wikipedia.org/wiki/EYD]

Selain ejaan, EYD juga menjelaskan tentang tanda baca. Seperti penggunaan titik, koma, titik dua, titik koma, tanda kutip, dan lain-lain. Pemahaman EYD juga akan bermanfaat dalam membedakan bahasa baku dan bahasa slang atau prokem. Contoh: sih, nih, tuh, dong, aja, lho/loh, lo/lu, gue/gua/gw, bokap, nyokap, adalah beberapa contoh bahasa slang/prokem yang tidak cocok untuk masuk ke dalam artikel ilmiah atau tulisan resmi. “Kamu sih, datang terlambat.”, “Ini, nih. Yang suka merusak suasana.”, “Ambilin air, dong.” Atau Bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa lain . Seperti: “Kamu mah, sudah dinasihati masih aja begitu.” “Kamu teh kalau sudah besar mau menjadi apa?”.

i. Sediakan Referensi!

Jika tulisan yang Anda buat hanya “Melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan” maka Anda bisa langsung menulis tanpa perlu menyediakan referensi. Akan tetapi, jika Anda menulis tentang topik yang berhubungan dengan disiplin ilmu tertentu, maka referensi mutlak diperlukan. Sebab, jika tidak ada referensi maka Anda menulis sesuatu tidak ada dasarnya. Atau jika tulisan yang Anda buat kebetulan sudah ada yang menulis dan hampir sama isinya, bisa jadi tulisan Anda dianggap plagiat/jiplakan. Paling tidak, ada dua macam referensi yang harus Anda sediakan, yaitu:

1). Referensi tentang bahasa

Sudah di jelaskan pada sub judul k. Memahami Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Minimal, Anda menyiapkan satu kamus Bahasa Indonesia dan satu buku tentang EYD. Jika Anda ingin lebih, silahkan tambah dengan buku-buku tentang sastra.

2). Referensi tentang isi tulisan

Referensi ini tergantung jenis tulisan yang Anda buat. Jika tulisan Anda tentang Tafsir, siapkan kitab-kitab tafsir. Yang harus Anda perhatikan adalah sudut pandang yang berbeda dalam satu bidang yang sama. Contoh: tafsir satu ayat bisa berbeda antara Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir At-Thobari, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Al-Jalalain, dan Tafsir Fi Dzilalil-Qur`an.

Perbedaan sudut pandang tergantung pada pendekatan yang dilakukan penulis, seperti perbedaan antara Tafsir bil ma`tsur, tafsir bil ma’qul dan tafsir yang membahas sisi bahasa. Juga perbedaan waktu penulisan antara yang klasik (turots) dan yang kontemporer (sekarang).

Sebetulnya, perbedaan sudut pandang ini bisa menjadi keuntungan dan bisa juga menjadi kendala. Keuntungannya karena dari beberapa referensi saja bisa menghasilkan tulisan yang banyak dan luas. Kendalanya adalah waktu yang diperlukan menjadi lebih banyak karena membutuhkan ketelitian dalam memahaminya.

j. Memperluas Wawasan

Memperluas wawasan bisa dengan dengan banyak membaca buku, mengikuti pelatihan menulis, menjadi anggota komunitas kepenulisan atau mengikuti perlombaan. Bahkan, bisa juga dengan mengirim karya terbaik Anda ke media (media internal atau media profesional). Nanti Anda akan mengetahui kelemahan dan kekurangan dari tulisan yang Anda kirim karena ada proses pengeditan terhadap tulisan Anda.

Wawasan yang Anda perluas jangan terpaku pada bidang yang Anda kuasai, tapi juga pada bidang-bidang lain sehingga bisa menjadi referensi tambahan. Saat membahas tafsir, Anda bisa memberi contoh dengan pendekatan ilmu biologi (seperti ayat tentang perkembangan janin), pendekatan ilmu geologi (seperti tentang pergerakan gunung ‘perputaran bumi’), pendekatan ilmu oceanologi (seperti tentang tidak bersatunya air laut dengan air sungai di Surat Ar-Rahman), pendekatan ilmu Astronomi (seperti tentang bintang yang meledak akan tampak seperti bunga mawar ‘wardatan kad-dihan’ atau bahwa alam semesta semakin lama semakin mengembang), pendekatan ilmu arkeologi (seperti tentang ditemukannya kadar garam di tubuh mumi Firaun yang menjadi lawan nabi Musa, sebagai bukti bahwa ia mati tenggelam), dan pendekatan-pendekatan lainnya.

Pendekatan seperti ini akan membuat tulisan Anda enak dibaca dan tidak monoton atau membosankan. Juga memberi bukti kepada pembaca bahwa karya Anda lahir dari hasil membaca dan menganalisa, bukan sekedar menampung berbagai tulisan dengan sedikit pengeditan. Sehingga, Anda betul-betul menjadi penulis, bukan menjadi sales atau marketing yang hanya memasarkan tulisan dan ide orang lain di kertas Anda.

k. Pelajari Karya Tulis Tertentu.

Tips yang sudah ada diatas, dari a. sampai j. kalau dipraktekkan sudah lebih dari cukup untuk bekal menulis. Tapi, biasanya orang suka yang instan. Belajar sekejap dan langsung menjadi hebat. Sangat mustahil, tapi tetap bisa dicapai dengan sedikit sentuhan. Judul inilah jawabannya, mempelajari karya tertentu yang dibuat oleh tokoh tertentu yang ahli pada bidang tertentu.

Dari karya yang sudah jadi, Anda bisa mempelajari banyak hal sekaligus. Seperti bahasa: ejaan, bentuk tulisan, gaya bahasa, diksi (pilihan kata yg tepat dan selaras untuk mengungkapkan gagasan sehingga memperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan), dan lain-lain. Juga dari sisi lainnya seperti cara pengungkapan (ta’bir), pemilihan kata dan istilah, kerangka berfikir, pemecahan masalah, sampai menghadirkan solusi yang tepat.

Secara pribadi saya suka membaca buku-buku karya Al-Marhum KH. Rahmat Abdullah (Ust. Rahmat) dan M. Anis Matta. Tulisan Ust. Rahmat luas dalam penjabaran, kaya dengan istilah Berbahasa Arab, penuh dengan kritik sosial. Terkadang, tulisannya menusuk sampai ke hati tapi tidak melukai. Sedangkan tulisan Anis Matta ringkas dan bernas, kaya dengan data, memandang jauh ke depan, berjejal motivasi. Dalam bidang kepenulisan, keduanya patut dijadikan teladan.

Sebenarnya, saya punya dua tokoh yang paling berperan membuat saya suka membaca dan mau untuk menulis. Yang pertama; al-marhum Bastian Tito. Andai saja saya tidak kenal tokoh yang satu ini, mungkin saya sama sekali tidak akan suka buku, membaca, apalagi menulis. Jika Anda tidak kenal siapa Bastian Tito, beliau adalah penulis cerita silat Wiro Sableng.

Kedua; Goenawan Mohammad, pendiri dan mantan pemred Majalah Tempo. Tulisan Goenawan di kolom “Catatan Pinggir” Majalah Tempo sangat menarik untuk dibaca. Singkat, padat, penuh makna, padahal hanya berupa tulisan pendeks. Pertama kali saya membacanya di Majalah-Majalah Tempo jadul tak bersampul yang ada di perpustakaan Darussalam saat mondok dulu, sebagian besar tidak saya fahami namun secara bahasa sangat enak dinikmati.

Hanya saja, setelah saya kuliah, saya kemudian tahu bahwa Goenawan Mohammad termasuk dedengkot kaum liberal. Saya pun kemudian berhenti membaca tulisannya, berpindah ke bacaan islami dari pemikir-pemikir muslim yang lurus, seperti Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Fathi Yakan, dll.

Jika Anda merasa sulit untuk cinta membaca, kenapa tidak mulai dari bacaan yang ringan dan segar. Cersil, cerbung, cerpen, novel, fabel, biografi, dan lain-lain. Hanya barangkali, Anda yang sekarang sudah menjadi guru, sudah tidak cocok untuk membaca Wiro Sableng. Sebab, saya juga membacanya dulu mulai kelas 2 SD sampai tamat Pesantren. Mungkin Anda bisa mulai dengan buku biografi tokoh atau ulama, novel islami atau novel motivasi. Kemudian beralih ke materi yang lebih berat.

l. Amanah Ilmiah

Dalam menulis ada beberapa kesalahan yang masih bisa dimaafkan, tergantung pada tingkat kesalahan-kesalahan tersebut. Seperti kesalahan pengetikan dan lain-lain. Semuanya bisa diperbaiki dengan ralat. Tapi, ada satu yang tidak bisa dimaafkan, yaitu masalah amanah ilmiah, atau kejujuran dalam tulisan. Kesalahan dalam masalah ini sangat fatal.

Diantara kesalahan yang menyangkut amanah ilmiah adalah mengutip pendapat, keterangan, informasi dari sumber tulisan lain tanpa menyebutkan sumbernya. Atau bahkan mengaku hasil karya orang lain sebagai karya miliknya. Atau mengatakan suatu pendapat, informasi, dan lain-lain dengan merujuk referensi tertentu padahal hal tersebut tidak terdapat didalam referensi tersebut. Atau memelintir, mengambil sebagian (yang tidak lengkap) informasi dari referensi tertentu untuk digunakan padahal bertentangan dengan keseluruhan isi referensi tersebut. Dan bentuk-bentuk lainnya yang menunjukan kebohongan.

Maka, amanah ilmiah adalah dasar utama yang harus dipegang bagi seorang penulis. Sehingga, jika mengutip apapun dan dari sumber manapun harus selalu menyebut/menuliskan sumbernya. Baik dari buku, Koran, majalah, video, internet, wawancara, berita, dan lain-lain sesuai dengan aturan masing-masing. Paling tidak, tulis nama buku, pengarang dan halamannya. Kalau kutipannya dari internet, sertakan nama situs, link aktif, nama penulis dan waktu (hari, tanggal dan jam). Sebab, informasi di internet berubah setiap detik.

m. Bagaimana Menghadirkan Ide?

Jika Anda ditanya, “Kenapa belum menulis?” kemudian Anda menjawab, “Belum ada ide”, maka Anda wajib memperhatikan judul ini. Ide sebetulnya sangat menumpuk dalam diri siapapun. Hanya kemampuan untuk mengeksplorasi, mengembangkan, dan menjadikannya terarah menjadi satu bentuk nyata bisa berbeda antara setiap orang.

Cara terbaik untuk menelurkan ide adalah tidak berkutat dalam konsep, tapi langsung ke tahap eksekusi atau praktek. Ambilah pena, beberapa buku referensi dan mulailah menulis. Apa yang ditulis? Apa yang saat itu ada dalam pikiran, tumpahkan menjadi tulisan. Setelah cukup tertulis, baca kembali, koreksi, tambah, baca kembali, koreksi, tambah lagi. Begitulah sampai tulisan Anda enak dibaca.

Jika sudah terbiasa, nanti ide dengan sendirinya berhamburan ingin keluar dari kepala Anda. Dan pada posisi seperti itu, justru Anda tidak memiliki cukup waktu untuk menuliskannya. Sebagai contoh, berikut adalah sebagian tulisan saya yang sudah terbit di Buletin Figur, lahir karena ide yang ingin cepat dilahirkan.

1. Mengembalikan tradisi keilmuan

Ide: Setelah membaca buku “Kontribusi Intelektual muslim terhadap peradaban Dunia” karya Haidar Bammate (terjemahan) dan e-book “Baghdad” karya Salah Zaimeche (berbahasa Inggris).

Tujuan: Mengajak siapapun untuk mencintai ilmu dan nostalgia ke masa lampau bahwa kaum muslimin pernah berjaya dan menjadi kiblat ilmu pengetahuan.

2. Jangan berhenti membaca

Ide: -Melihat santri Darussalam sudah jarang menenteng buku, padahal saat saya SD di Darul Aitam kami selalu melihat santri Darussalam selalu membawa buku, hatta saat olah raga ke lapangan (kami sering menemukan buku tertinggal yang kotor atau bahkan sudah terkena hujan). -Melihat koleksi buku di Maktabah Ibnu Sholah Darul Aitam yang lebih dari cukup untuk mencerdaskan seisi Pesantren

Tujuan: mengajak siapapun untuk cinta membaca. Baik melalui buku cetak di perpustakaan, beli sendiri atau via Maktabah Syamilah.

3. Ketika kita berhenti menulis

Ide: Setelah membaca buku “Dari Gontor Merintis Pesantren Modern” karya K.H. Imam Zarkasyi dan artikel tentang “Transformasi Nilai dan ajaran Pondok Pesantren Darussalam” karya K.H. Asep Sholahuddin Mu’thie.

Tujuan: -mengajak guru-guru untuk mensarikan ilmu dan pengalaman menjadi tulisan. Agar ilmu dan pengalaman tidak hilang bersama kematian. -Ajakan untuk menyerap pola fikir, pandangan, derap langkah, ide dan mimpi-mimpi besar Trimurti. (Sekarang, Salah salah satu Trimurti sudah mendahului kita, membawa segudang ilmu dan pengalaman yang sebagian besar belum tertuang menjadi tulisan).

4. Alumni, Aset Penting Pesantren

Ide: Tulisan ini adalah reportase, rangkuman ceramah Trimurti saat temu alumni.

Tujuan: Dokumentasi temu alumni agar yang tidak hadir bisa ikut menikmati hasil pertemuan

5. Kaderisasi pemimpin

Ide: Tafakur bahwa pemimpin/tokoh suatu saat akan meninggal dan perlu pengganti setelahnya, yang harus dipersiapkan bukan diwariskan.

Tujuan: Ajakan untuk mencontoh cara kaderisasi yang dilakukan Rasulullah Saw. Dengan memilih orang yang tetap pada posisi yang tepat, bukan hanya melihat hubungan darah dan kekerabatan.

6. Mengenal dan mengembangkan talenta dengan pendekatan multiple intelligence

Ide: -Qobla Jum’at melihat persiapan mukhoyyam (perkemahan), Ba’da jum’at melihat pameran hasil karya santri, kemudian melihat panggung gembira.

Tujuan: Ajakan untuk mengenal potensi masing-masing dan mengembangkannya. Mengingatkan bahwa tidak ada anak yang bodoh, semua anak cerdas sesuai dengan potensi kecerdasan masing-masing.

7. Sang pembelajar

Ide: Ada santri bertanya, “Apakah saya harus kuliah atau tidak perlu?”. Saya jawab, “Kalau diperlukan dan memungkinkan, kenapa tidak. Tapi kalau tidak memungkinkan, kenapa memaksakan diri. Banyak tokoh yang bisa sukses hanya dengan autodidak.”

Tujuan: Mengajak untuk berfikir realistis, bahwa belajar tidak mesti formal, sesuaikan dengan situasi dan kondisi.

8. Kematian sebuah keniscayaan

Ide: Ketika mendapat kabar bahwa satu persatu orang yang saya kenal telah mendahului menghadap Ilahi.

Tujuan: Dzikrul maut.

9. Antara identitas simbolis dan identitas ideologis

Ide: Larangan penggunaan jilbab di Eropa.

Tujuan: ajakan untuk berbangga dengan identitas keislaman kita dan memunculkan identitas pribadi yang islami.

10. Seri menjadi pelajar berprestasi; siapakah pelajar?, seni mengenali diri dan motivasi belajar.

Ide: Rasa khawatir akibat banyaknya kasus tawuran dan kenakalan remaja/pelajar bahkan sampai menyebabkan kematian

Tujuan: ajakan untuk mengenal siapakah sesungguhnya pelajar dan memahami apa tugas pelajar

11. Bagaimana Memulai Menulis?

Ide: menyadari bahwa ternyata tanpa memiliki pengalaman dan tanpa ikut pelatihan pun kita bisa menulis

Tujuan: ajakan untuk menulis sebagai wasilah untuk mengikat ilmu, dan mewariskannya dalam bentuk tulisan. qoyyid shuyudak!

Itulah beberapa judul tulisan yang pernah saya tulis beserta sumber ide dan tujuannya. Kalau diperhatikan, apapun bisa menjadi ide. Membaca ayat, hadits, membaca buku, membaca fenomena alam, mendapat masalah, menemukan solusi, mendapat kebahagiaan, mendapat bencana, dan apapun bisa menjadi ide untuk ditulis. Jadi, saya tidak sependapat dengan mereka yang berkata, “belum ada ide”. Jawaban yang pas adalah, “belum ada waktu, belum sempat atau niat.”

n. Kerangka Tulisan

Agar tulisan terarah, sistematis dan fokus, sebaiknya membuat kerangka karangan. Seperti: muqodimah, latar belakang masalah, penjabaran, solusi atau kesimpulan, dan penutup. Sehingga, apa yang kita tulis tidak melebar sehingga tidak jelas arahnya, juga tidak menyempit sehingga terlalu kaku dan dipaksakan.

  1. Mengasah Kualitas

kemampuan menulis harus terus diasah, sehingga berkembang dan semakin berkualitas. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, membaca, berdiskusi, mengikuti pelatihan, mengikuti lomba, bergabung dengan komunitas, menulis di buletin, majalh, koran, website, media sosial, atau menulis buku.

Bijih besi jika tidak ditempa hanyalah onggokan pasir. Intan dan berlian yang tidak diasah tidak akan gemerlap. Maka benarlah apa yang dikatakan penyair:

التبر كالترب ملقا فى أماكنه والعود فى أرضه نو من الحطب

Bijih emas ibarat butiran tanah jika tetap ditempatnya. Batang pohon yang masih tertanam tidak berbeda dengan kayu bakar.”

t. Tujuan Menulis

Judul ini adalah inti dari artikel yang sedang anda baca. Dari ‘a’ sampai sampai ‘s’, silahkan Anda abaikan, cukup membaca judul ‘t’ ini saja, “Tujuan Menulis”. Pertama, ibadah. Sebab jelas Allah Swt telah berfirman, “alladzi ‘allama bil qolam, ‘allamal insana ma lam ya’lam.” kedua, nasyrul fikroh. Mengajarkan ajaran islam, menyebarkan kebaikan, menyampaikan pengetahuan, mengingatkan yang lupa, menyadarkan yang lalai, meluruskan yang keliru, dan mengembalikan yang tersesat. Ketiga, mengabadikan ilmu dan pengalaman. Jika bukan karena kitab-kitab yang ditulis para ulama, maka dari mana kita akan tahu?bagaimana ajaran Islam akan tetap bertahan?

Jika Anda berkata sudah ada buah karya para ulama, atau berdalih siapalah saya hanya orang biasa? Betul. Tapi apakah kitab-kitab karya para ulama bisa secara langsung difahami orang awam? Padahal untuk menguasai Bahasa Arab saja perlu waktu dan kesungguhan. Jika sekarang apa yang Anda kuasai dan apa yang Anda fahami Anda sarikan dalam tulisan, maka akan ada banyak orang yang bisa mengambil manfaat darinya.

Jika tulisan yang Anda buat bisa bermanfaat, sehingga mengingatkan yang lupa, menyadarkan yang lalai, meluruskan yang keliru, mengembalikan yang tersesat, dan mengantarkan hidayah, maka sungguh ia adalah amal jariyah yang akan terus mengalir pahalanya. Maka, segeralah ambil pena dan menulislah, jangan menunggu nanti, sebab kita tahu kematian sedang menanti, mengajak kita untuk kembali, akan membawa apa menghadap Ilahi. Wallohu a’lam.

Penutup

Tulisan ini disarikan dari pengalaman menghasilkan tulisan yang lahir bukan dari hasil keahlian, tapi dari keinginan untuk menulis. Jika Anda menilai dari sudut pandang ilmu kepenulisan, baik tata bahasa, ejaan, dan lain-lain, Anda akan menemukan banyak kesalahan dalam tulisan ini.

Tapi, jika Anda melihat dari sudut pandang isi yang ingin disampaikan, Anda bisa memahami tulisan ini dengan sederhana. Sudut pandang inilah yang ingin saya sebarkan. Mengajak untuk menulis yang bermanfaat yang bisa difahami isinya oleh pembaca, bukan mengedepankan teori menulis, tata bahasa dan lain-lain. Permudahlah dan jangan mempersulit, beri kabar gembiralah dan jangan membuat orang lari. Yassiruu wala tu’assiru, bassiru wala tunaffiru…

Marilah menulis tentang materi pelajaran yang Anda ajarkan, mudah-mudahan menjadi suplemen bagi anak didik Anda sehingga menambah wawasan mereka tentang materi yang mereka dapat di kelas. Jika ada murid Anda bertanya tentang sesuatu, maka bukalah buku, kitab atau bukalah internet, kumpulkan referensi lalu sarikan menjadi tulisan ringkas yang cukup untuk satu atau dua artikel di Figur. Dengan demikian pertanyaan dari satu orang murid menghasilkan jawaban bagi semua orang.

 awal ditulis: Rabu 10 April 2013 M/29 Jumadil awwal 1434 H

rilis: 25-10-2014/1-1-1436 20:55

3 Tanggapan to “Bagaimana Memulai Menulis?”

  1. Ade Malsasa Akbar Says:

    OOT: apakah akang sudah tahu adanya http://bengkelubuntu.org?


بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: