Siapakah Pelajar? (bagian 1)

(Seri Menjadi Pelajar Berprestasi. Bagian 1a)

[download tulisan ini dalam format PDF]

Muqodimah

Mendengar kata pelajar, pasti terbayang anak-anak dengan seragam putih merah, putih biru tua, putih biru benhur, putih abu-abu, putih hitam, dan beberapa corak kemeja batik serta kaos olahraga sesuai dengan sekolah, lembaga, atau pesantren tempat mereka belajar.

Lalu, siapakah sebenarnya pelajar? apakah kamu yang sekarang sedang dalam masa belajar menyadari bahwa kamu adalah pelajar? Apakah kamu betul-betul mencari ilmu karena sadar sebagai pelajar, karena disuruh orang tua atau sekedar menyelesaikan masa belajar di setiap jenjang pendidikan yang ada? Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut mari kita lihat siapa sebenarnya pelajar.

Dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas “pelajar” dari pendekatan etimologis. Yaitu definisi tentang asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna. Bukan pendekatan terminologis atau definisi istilah. Dan pelajar yang dibahas disini dalam konteks islami atau pelajar muslim.

  1. Definisi Pelajar dalam Bahasa Indonesia?

Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) pelajar adalahanak sekolah (terutama pd sekolah dasar dan sekolah lanjutan); anak didik; murid; siswa. Berasal dari akar kata ‘ajar’ artinya petunjuk yg diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut).

Belajar memiliki beberapa arti: 1. berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; 2. Berlatih; 3. berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Mempelajari artinya belajar (sesuatu) dengan sungguh-sungguh; mendalami (sesuatu). Kata lain yang memiliki makna sama dengan pelajar adalah murid dan Siswa. [1]

  1. Definisi Pelajar dalam Bahasa Arab?

Dalam Bahasa Arab ada banyak istilah yang menjadi padanan kata ‘pelajar’. Agar tulisan ini tidak terlalu panjang maka penulis hanya akan membahas empat macam saja, yaitu: Tilmidz (تلميذ), Muta’allim (متعلم), Daris (دارس), dan Tholib atau Tholibul ilmi ( طالب).

Makna kalimat Tilmidz.

Makna تلميذ menurut Ibnul Mandzur dalam kitab Lisanul Arab artinya ‘pembantu’ atau ‘pengikut’ ( تلمذ: التلاميذُ: الخَدَمُ والأَتباع، واحدهم تِلْميذٌ ). Az-Zubaidi dalam kitab Tajul ‘Arus juga menyebutkan makna yang sama bahwa tilmidz adalah pelajar atau pembantu khusus bagi seorang guru ( أَن المُرَاد مِنْهُ المتعلّم، أَو الْخَادِم الخاصّ للمعلِّم ). [2]

Tilmidz adalah istilah yang digunakan untuk pelajar pada jenjang dasar sampai menengah. Pada jenjang tersebut pelajar biasanya sangat tergantung pada guru yang mengajar. Mengikuti apa yang mereka ajarkan dan apa yang mereka arahkan, sehingga disebut sebagai pengikut.

Dalam hal ini, ada syahid (bukti) bahwa suatu ketika Khalifah Harun Al-Rasyid melihat anak-nya sedang menuangkan air untuk gurunya ketika berwudhu. Khalifah menegur guru tersebut, “Kenapa engkau tidak suruh dia untuk menuangkan air dengan satu tanganya dan mencuci kakimu dengan tangannya yang lain.” [3]

Maka, titik tekan dari tilmidz adalah guru menjadi teladan dalam semua aspek terutama akhlak dan pelajar berusaha meneladani semua hal-hal positif yang dicontohkan oleh guru. Jadi, lebih menitik beratkan pada akhlak (amal praktis) dibanding pemberian materi (teoritis).

 

Makna kalimat Muta’allim.

Muta’allim berasal dari akar kata ‘alima (عَلِمَ) yang darinya muncul istilah ilmu (عِلْمٌ), dan ta’allama (تَعَلَّمَ) yang menjadi asal istilah muta’allim (مُتَعَلِّمٌ) . Az-Zubaidi dalam kitab Tajul ‘Arus mengutip pendapat Ar-Raghib Al-Asbahani bahwa ilmu artinya ‘mengetahui sesuat dengan sebenar-benarnya’ (إدْراكُ الشَّيءِ بِحَقيقَتِه ).

Ilmu terbagi dua; Teoritis, bisa sempurna dengan pengetahuan saja seperti pengetahuan tentang adanya alam semesta. Dan Praktis, tidak sempurna kecuali setelah dipraktekan, seperti ilmu tentang ibadah (shalat, zakat, dll.).

Ar-Raghib menyebutkan bahwa ta’lim (pengajaran) secara spesifik (khusus) membutuhkan pengulangan (تكرير) dan pengayaan (تكثير) sehingga penghasilkan efek (pengaruh) bagi muta’allim. Dari pendapat tersebut bisa difahami bahwa esensi (titik tekan) dari muta’allim adalah usaha untuk mempelajari ilmu dengan pengulangan dan pengayaan sehingga menguasai ilmu tersebut dengan sebenar-benarnya.

Makna kalimat daris.

Daris (دارس) berasal dari kata darasa (درس) artinya membaca (قرأ) (kitab/buku) dengan berulang-ulang sehingga mudah untuk dihafal. Dari darasa muncul tiga istilah yang sangat populer, yaitu; ad-dars (pelajaran), al-mudarris (guru) dan al-madrasah (sekolah).

Ad-Dars, sejumlah ilmu yang dipelajari pada waktu tertentu (المقدار من الْعلم يدرس فِي وَقت مَا). Al-Madrasah, tempat belajar dan mengajar (مَكَان الدَّرْس والتعليم). Al-Mudarris, laki-laki yang banyak belajar, banyak membaca dengan menulis dan selalu mengulang-ngulang pelajaran atau bacaannya (الرَّجُلُ الكَثِيرُ الدَّرْسِ، أَي التِّلاَوَةِ بالكِتَابة والمُكَرِّر لَهُ). (lihat Tajul ‘Arus dan Mu’jam Wasith). [4] [5] Untuk lebih memahami makna darasa bisa dipelajari dua ayat berikut:

{وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ} [آل عمران: 79[

Artinya: “Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.”

{أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ} [القلم: 37]

Artinya: “Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?.”

Makna kalimat tholib.

Tholib berasal dari akar kata tholaba. Ibnul Mandzur dalam Lisanul Arab menyebutkan beberapa makna dari akar kata (طلب) . Makna-makna tersebut menggelitik hati penulis karena berhubungan erat dengan kondisi pelajar saat ini. Berikut adalah beberapa makna tersbut:

Pertama: الطَّلَبُ (ath-tholabu) : مُحاوَلَةُ وِجْدانِ الشَّيءِ وأَخْذِهArtinya : usaha untuk menemukan sesuatu dan mengambilnya.

Kedua: طَلَبَ (tholaba) :   رَغِبَArtinya : Menyukai

Ketiga: الطِّلْبَةُ (ath-thilbah) : مَا كَانَ لكَ عِنْدَ آخرَ مِنْ حَقٍّ تُطالِبه بِهِ Artinya : Anda memiliki suatu hak pada orang lain yang harus diambil/dituntut.

Keempat: التَّطَلُّبُ (ath-tathollub) : الطَّلَبُ مَرَّةً بَعْدَ أُخرى و طَلَبٌ فِي مُهْلة مِنْ مَوَاضِعَ Artinya : mencari berulang-ulang atau mencari di beberapa tempat.

Kelima: الطَّلِبَةُ (ath-tholibah) : الحاجةُ Artinya : kebutuhan, hajat(need).

Keenam: إِطْلابُ (ithlab) : إِنجازُها وقضاؤُهاArtinya : menyediakan dan melaksanakan.

Mari kita bahas lebih dalam makna-makna kata ‘tholib’ diatas sehingga bisa difahami menjadi satu kesatuan makna.

Pertama: At-tholabu, usaha untuk menemukan sesuatu.

Pelajar harus memiliki semangat mencari sampai menemukan apa yang ia cari. Bukan sekedar menunggu disuapi, terutama mereka yang sudah berada disekolah menengah atas atau di kelas yang lebih tinggi. Berusaha untuk mengerti apa yang dipelajari, memahami yang sulit dan bertanya sampai kesulitan tersebut teratasi.

Dari semangat ‘untuk menemukan sesuatu’ inilah banyak pelajar muslim (kemudian menjadi ulama) yang menjadi pakar pada bidangnya, bahkan pakar dalam beeberapa bidang sekaligus. Dari tangan mereka lahir mahakarya berupa kitab-kitab yang jumlah tiap kitabnya bisa belasan jilid tebal.

Hampir semua disiplin ilmu ditemukan (atau didesain ulang) oleh para ulama (dulunya ‘pelajar’) muslim. Ilmuan barat hadir menyempurnakan dan memodifikasi karya-karya tersebut (plus mengklaimnya) ketika pelajar-pelajar muslim generasi selanjutnya tidak lagi memahami esensi at-tholabu (usaha untuk menemukan sesuatu). Minimal menghasilkan sesuatu sesuai kafa`ah (kemampuan) masing-masing (dalam hal ini ‘profesi guru dan pelajar’) seperti (contoh sederhana) menulis satu artikel yang bermanfaat.

 

Kedua: Tholaba: roghiba, Menyukai

Suka adalah modal utama dalam belajar. Kalau tidak suka pada suatu materi/pelajaran mustahil pelajar akan mengeluarkan segenap usaha untuk bisa menguasai materi tersebut. Jadi, syarat pertama adalah sukai semua materi, jangan ada yang di anak tirikan. Faham atau tidak faham, berapa persen pemahaman yang didapat itu masalah lain. Yang pasti jangan sampai ada materi yang tidak disukai.

Tidak suka sama dengan tidak mau belajar. Tidak mau belajar berarti tidak mau peduli. Apa yang terjadi pada materi yang tidak dipedulikan? Tidur, main, mengganggu orang, mencari kesibukan sendiri, atau mungkin keluar dari kelas dan mencari kegiatan lain diluar. Kegiatan yang dilakukan diluar kelas pada jam pelajaran pasti bukan sesuatu yang positif! Pada titik ekstrim, pelajaran yang tidak disukai hanya akan diperjuangkan agar tidak rosib sehingga tidak menjadi killing point.

Mayoritas pelajar tidak suka dengan matematika. Kenapa bisa begitu? Karena sejak awal sudah tidak suka dengan matematika. Ketika seseorang tidak suka dengan sesuatu, tidak akan ada ketertarikan untuk mengenal hal tersebut.

Padahal, jika di awal matematika dianggap sama dengan pelajaran lain, bisa jadi kamu menguasai matematika. Pelajaran yang sulit akan bisa dikuasai dengan usaha keras dan kontinyu. Tapi ketika rasa tidak suka sudah mendominasi maka tidak akan ada usaha yang dilakukan untuk menguasainya. Jadi, sukai lebih dulu, mampu atau tidak, menguasai atau tidak itu adalah hasil usaha yang nanti menentukannya.

Dalam Muqadimah buku At-Tarbiyah wat-ta’lim fid-duwal al-islamiyah khilalal-qorn 14 minat-tab’iyah ilal-asholah, Hamd Bakr Al-‘Ulyani menulis, “Kita harus memperhatikan bahwa seorang pelajar bukan sekedar pemilik ijazah. Akan tetapi ia adalah seorang pembawa ilmu yang dengannya ia akan menjadi lebih unggul dibandingkan orang lain. Ijazah adalah bukti bahwa ia memiliki ilmu dan saksi bahwa dirinya telah menguasai ilmu tersebut.

Dari sini, tampak jelas bahwa belajar bukan sekedar mendapatkan pengetahuan (talaqqi al-ma’lumat) tetapi juga menyebarkan ilmu tersebut dengan metode yang benar dan mendidik menusia dengannya.” [6]

Ketiga: At-thilbah, Menuntut hak

Kata طلب yang disebut oleh Ibnu Mandzur diatas memiliki makna “Memiliki suatu hak pada orang lain yang harus diambil/dituntut.” Itu artinya, ilmu ibarat milik kita yang belum kembali. Hikmah yang terserak. Harus diambil dan dimiliki. Jika tidak diambil berarti sama dengan membiarkan barang berharga (milik pribadi) terbuang dengan percuma.

Jika masalah materi, kedudukan, prestise dan hak-hak lainnya begitu dipermasalahkan dan dituntut, maka ilmu sejatinya menjadi hak paling utama yang harus dituntut dan dimiliki.

Bersambung…

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: