Siapakah Pelajar? (bagian 2)

(Seri Menjadi Pelajar Berprestasi. Bagian 1b)

 [download tulisan ini dalam format PDF]

 

Keempat: ath-tathollub, mencari berulang-ulang dan mencari di beberapa tempat

            Kemampuan otak manusia sungguh luar biasa, diantara keistimewaan otak adalah daya ingat yang menakjubkan. Otak tidak pernah overload, tidak pernah kekurangan kafasitas, tidak pernah bertanya apakah informasi yang baru kita dapat harus disimpan (save) atau dibiarkan hilang. Tidak seperti komputer yang selalu bertanya setiap terjadi input baru baik berupa gambar, angka, hurup, suara, dan data masuk lainya.

            Otak seperti live streaming, tapi semua hasil streaming-nya tersimpan dalam hardisk yang tidak memiliki batas kafasitas, diatas jutaan terabyte. Hampir tidak ada kalimat “Low disc space on brain!” seperti yang terjadi pada hardisk “Low disc space on drive …!”. Keunggulan lainnya, proses penyimpanan informasi dan data baru ke otak sebagian besar tidak disadari oleh manusia, kecuali hasil proses belajar formal yang dilakukan dengan kesadaran penuh.

Nothing perfect (tidak ada yang sempurna). Maka, diantara kehebatan otak tersebut masih ada batasan-batasan diluar kesempurnaan. Diantara hal tersebut adalah ‘kemampuan mengingat’. Ada perbedaan signifikan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Penyebab perbedaan kemampuan mengingat bisa bermacam-macam. Penyakit, keterbelakangan mental, gizi buruk, kekerasan fisik, gangguan psikhis, usia tua, dan sebab-sebab lainnya.

Dalam belajar, semua kelebihan dan kekurangan harus proporsional (pada tempatnya). Bahkan, kalau bisa kelebihan harus meningkat dan kekurangan harus menyusut. Maka, pengulangan          (at-tikror/repeat) adalah salah satu strategi belajar yang termasuk salah satu makna dari kata ‘tholaba’ dalam Bahasa Arab.

Itu artinya, seorang pelajar harus memahami dengan baik kemampuan otaknya dalam mengingat. Jika ia memiliki kadar ingatan seperti Imam Al-Bukhori dan Imam Syafi’i atau para ulama lain yang bisa hafal dengan beberapa kali membaca, silahkan abaikan judul ini. Tapi, jika termasuk pemilik kadar mengingat standar bahkan minimum, maka jadikanlah pengulangan sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam belajar.

Ada pepatah yang mengatakan, “As-sabqu harfun wat-tikroru alfun.” Belajar satu huruf, mengulang seribu kali. Artinya ilmu yang dipelajari akan menempel dengan kuat saat mengalami pengulangan yang banyak dan kontinyu. Pepatah lain yang mengatakan “Fil i’adah ifadah.” (didalam pengulangan ada pemberian manfaat).

Silahkan perhatikan para penghafal Al-Qur`an, mereka selalu menjaga pengulangan hafalan dengan kontinyu. Ada yang rajin murojaah (mengulang) per lembar, per juz atau sesuai kemampuan dan jadwal masing-masing. Ada yang mengulang dengan membaca ayat-ayat tersebut saat shalat wajib atau shalat tahajud, ada yang berkelompok seorang mengulang dan yang lain memperhatikan dan memperbaiki kesalahan. Semua dalam rangka pengulangan.

Ternyata, Rasulullah Saw. sangat memperhatikan masalah pengulangan ini. Sehingga beliau sering kali mengulang-ngulang ucapanya sampai tiga kali agar bisa ditangkap dan dipahami oleh pendengar. Terutama dalam hal-hal yang memiliki tingkat urgensi tinggi. Silahkan perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari; إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلاَثًا، وَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا (Rasulullah Saw. jika mengucapkan salam ia mengulanginya sampai tiga kali, jika menyampaikan suatu kalimat ia mengulanginya sampai tiga kali). [7]

Mencari di beberapa tempat artinya jangan cukup dengan apa yang kamu pelajari sekarang. Yang sekarang kamu pelajari adalah kunci dasar, tangga nada yang harus disempurnakan sehingga menjadi irama yang harmoni.

Jika sekarang kamu belajar dua jilid buku fiqih karya Imam Zarkasyi (rahimahullah) maka ada kitab-kitab lain yang siap untuk kamu telaah; Al-Mabsuth (karya Muhammad bin hasan Asy-Syaibani 5 jilid, atau karya As-Sarkhosi 30 jilid, madzhab hanafi). Al-Mudawwanah (karya Imam Malik, madzhab mailki) atau yang sudah kamu kenal Bidayatul-Mujtahid. Al-Umm (karya Imam As-Syafi’i) atau yang sudah kamu kenal Kifayatul-akhyar, fathul mu’in dan I’anatut-tholibin. Al-Mughni (karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, madzhab hanbali. Atau yang membahas empat madzhab sekaligus seperti Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah (karya Abdurrahman Al-Jazairi). Begitu juga ilmu-ilmu lainnya seperti tauhid, tafsir, hadits, siroh, tarikh, dst.

Bukan hanya mencari dari beberapa sumber materi (kitab), tapi juga mencari beberapa guru dan mencari dari berbagai kota dan dan negara serta pusat-pusat ilmu lainya. Jika proses ini kamu lakukan maka akan ada pencapaian fenomenal yang kamu dapatkan yaitu kematangan ilmu, kematangan berfikir, kematangan beramal, kematangan beribadah, kematangan ruhiah. Sungguh benar sabda Rasululullah; man yuridillah bihi khoiron yufaqqihu fid-din.[H.R. Bukhari]

Kelima: ath-tholibah; al-haajah, kebutuhan (need)

            Ilmu sejatinya adalah kebutuhan. Statusnya sama seperti makanan untuk menghilangkan lapar, udara untuk bernapas, dan air untuk menghilangkan dahaga. Ilmu bukan sekedar alat yang digunakan untuk mencapai tujuan spesifik; mendapat harta, mendapat jabatan, mendapat penghormatan, mendapat pengakuan, dan tujuan tendensius (keinginan tersembunyi) lainnya.

            Ilmu adalah kebutuhan mendasar yang harus dimiliki setiap manusia. Seperti pondasi yang menopang bangunan dan tiang yang menyangga beban. jika manusia tidak menjadikan ilmu sebagai kebutuhan, maka ibarat bangunan yang didirikan diatas pondasi yang rapuh. Tidak akan mampu menahan beban bangunan apalagi menahan terpaan angin dan hantaman badai. Padahal, tantangan dalam hidup sangat kompleks, bukan sekedar menahan angin dan badai, tapi juga menahan tuntutan hidup dan membingkai keinginan hawa nafsu.

            Kenyataan di lapangan menyebutkan bahwa segala sesuatu yang tidak didasari dengan ilmu hanya berakhir dengan kegagalan, bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan kehancuran. Maka, sungguh Allah Swt. maha benar dan maha tahu atas desain yang ia bangun di alam ini. Sehingga Firman-Nya yang pertama adalah perintah untuk berilmu dengan perantaraan membaca. (Al-‘Alaq: 1-5)

Maka, kamu sebagai pelajar harus menjadikan ilmu sebagai kebutuhan, bukan sekedar alat untuk mencapai suatu tujuan. Jika kamu menjadikan ilmu sebagai kebutuhan, maka ilmu yang kamu dapat akan bersenyawa dengan dirimu. Menjadi energi dan pendorong kearah kemajuan dan pencapaian prestasi. Seperti gula atau garam yang larut di dalam air, seperti hujan yang meresap ke dalam tanah. Seperti udara yang kamu hirup, seperti makanan yang kamu makan dan seperti minuman yang kamu minum. Menyatu dengan aliran darah, daging dan tulang. Mengiringi desah nafas baik dalam tidur maupun terjaga. Inilah salah satu rahasia kenapa setan tidak mau mengganggu saat disitu terdapat orang berilmu walaupun ia dalam keadaan tidur.

Keenam : ithlab, Pelaksanaan (amal)

Pelaksanaan atau amal adalah puncak dari ilmu. Berilmu berarti beramal. sehebat apapun ilmu yang kamu miliki, setinggi apapun strata dan prestasi yang kamu raih, jika tanpa amal tentu semua hanya sia-sia, membuang waktu, energi dan umur. Dengan demikian, ilmu apapun yang kamu pelajari kemudian kamu kuasai harus bermanfaat dan bernilai ibadah. Sebab, ilmu adalah salah satu penyebab terbukanya hidayah, bukan alat untuk menyesatkan diri sendiri apa lagi menyesatkan orang lain.

Jika semua pemilik ilmu melaksanakan semua ilmu yang mereka miliki sesuai dengan arahan agama, maka akan muncul Qur`an-Quran yang berjalan di atas bumi. Pada masa sahabat, mereka mempelajari ayat-ayat al-Qur`an secara bertahap, sepuluh ayat-sepuluh ayat, dipelajari dan dipahami kemudian diamalkan. Setelah, itu baru mempelajari ayat-ayat selanjutnya. Tak heran jika generasi para sahabat adalah generasi terbaik, prototype (model percontohan) yang harus kita teladani.

Kesimpulan

Walaupun hanya dari pendekatan etimologis minus terminologis, mari kita satukan semua makna pelajar diatas (berbahasa indonesia dan arab) menjadi satu kesatuan, pelajar adalah orang yang mempelajari ilmu dengan meneladani guru, membaca dan mengulang-ngulang pelajaran, mencari dari berbagai tempat dan sumber, menjadikan ilmunya bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Jika penulis boleh menyimpulkan dengan mengacu kepada sistem pendidikan yang ada sekarang, Tilmidz lebih pas untuk jenjang TK-SD, dengan menguatkan pondasi akidah, akhlak dan ibadah dengan amalan praktis. Muta’allim dan Daris untuk jenjang SLTP-SLTA, dengan mempersiapkan mutunul ‘ulum (teks-teks pelajaran), mempelajari kompetensi dasar dari setiap ilmu. Tholib untuk jenjang sarjana dan pasca sarjana, memahami ilmu sebagai aplikasi yang harus menyebabkan pemiliknya semakin tunduk tawadhu, menghasilkanan kemajuan berfikir dan berperilaku.

Tentu saja kesimpulan tersebut tidak bersifat mutlak. Sebab, santri-santri di pesantren sangat memungkinkan untuk melakukan semuanya melewati batas jenjang-jenjang pendidikan, karena tersedianya fasilitas dan lingkungan yang kondusif. Bahkan, para pelajar muslim tempo dulu tidak mengenal istilah jenjang pendidikan tapi mereka bisa sukses. Begitu juga mereka-mereka yang belajar autodidak bisa berhasil dan tidak kalah kualitasnya dengan mereka yang belajar formal.

Bangsa ini memiliki banyak orang pintar, tapi kenapa tidak menjadi solusi? Sebab, pintar minus akhlak belum menjadi solusi atas semua kompleksitas hidup. Manizdada ilman wa lam yazdad minallohi hudan lam yazdad illa bu’dan (barang siapa bertambah ilmu namun tidak bertambah hidayah (keimanan), tidak akan bertambah baginya kecuali semakin jauh dari Allah Swt.). Pelajar muslim harus berdiri di posisi ini, hadir sebagai problem solving (pemecahan masalah).

Penutup

Penulis berharap, setelah membaca artikel ini, setiap pelajar memahami siapa sebenarnya pelajar, apa tugas pelajar dan bagaimana seharusnya menjadi seorang pelajar. jika semua itu difahami akan tercipta satu generasi rabbani yang menjadi pewaris para nabi yang menjadikan islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Amin.

Referensi:

1. KBBI Offline, http://www.ebsoft.web.id

2. Lisanul ‘Arab, Ibnul Mandzur, juz 3, hal. 478, Daar Shodir, Beirut, cet. 3, 1414 H.

3. Ta’lim Muta’allim, Syeikh Az-Zarnuji,

4. Tajul ‘Arus min Jawahiril Qomus, Az-Zubaidi, Darul Hidayah, juz 9, hal. 380.

5. المعجم الوسيط (1/ 279)

  1. التربية والتعليم فى الدول الاسلامية خلال القرن 14 من التبعية الى الأصالة – حمد بكرالعليان، دارالأنصار،قاهرة، 8

7. Shahih Bukhari, 1/30

8. Pencarian referensi dibantu Maktabah Syamilah versi resmi 1, update versi 3.48

Edit akhir : Jum’at-Ahad, 12-14 April 2013 M

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: