KEMATIAN, SUATU KENISCAYAAN

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

 Satu tahun kebelakang (Kamis-Jum’at 6-7 September 2012 M/19-20 Syawwal 1433 H) istri saya memberi kabar bahwa dua orang tetangga di kampung meninggal dunia. Yang satu wanita setengah tua dan yang satu lagi laki-laki separuh baya.

Beberapa bulan yang lalu, (10 Pebruari 2013 M – 29 Rabiul Awwal 1434 H) istri saya kembali memberi kabar bahwa dua orang tetangga di Kampung meninggal dunia. Dua-duanya laki-laki separuh baya.

Awal bulan Juli 2013 (sebelum Ramadhan), giliran uak (kakak ibu) saya yang dipanggil ke hadirat ilahi. Saya melihat jelas wajah al-marhum saat kain kapan bagian wajahnya dibuka untuk masukan kedalam liang lahat. Wajah tua yang teduh dengan sedikit senyuman, seakan pertanda ridho dijemput untuk kembali ke tempat asal.

Ibarat daun yang telah menguning di sebuah pohon, akan terlepas dari tangkai jika telah datang masanya. Tapi, manusia berbeda dengan daun, kematian bukan hanya niscaya bagi mereka kaum tua, ia bisa menyapa anak muda, balita bahkan bayi yang masih berada dalam rahim ibu yang mengandungnya.

Setiap kali mendapat berita kematian, selalu ada yang tesentak dalam diri saya. Perasaan bahwa mati sepertinya tidak akan pernah menghampiri akan tetapi kenyataan memberi fakta bahwa satu persatu orang-orang yang kita kenal dan orang yang kita cintai tenyata meninggal mendahului. Bahkan, ayah saya telah kembali keharibaan Allah Swt. 27 tahun yang lalu, tepatnya saat saya baru berumur 3 tahun.

Rasa tersentak itu mewujudkan kesadaran sejenak. Kesadaran, bahwa saya juga akan merasakan mati dan meninggalkan semua yang saya cintai dan saya miliki di dunia. Hanya berbalut kapan dan berteman amal setitik yang belum tentu diterima. Sejenak, ya, karena setelah beberapa saat rutinitas, kesibukan, senda gurau, fatamorgana dunia kembali membuat saya terlena, seakan kematian adalah suatu hal yang mustahil. Padahal, sejak kita dalam rahim ibu sudah dicatat bahwa kita akan mati, hanya masalah waktu yang tidak kita tahu sehingga mayoritas manusia tidak mempersiapkan tamu istimewa ini.

Dialog para penggali kubur

Jika ada orang yang meninggal dan saya kenal, saya berusaha ikut shalat jenazah (al-hamdulillah tempat tinggal berada di lingkungan pesantren, sehingga terbawa melakukan hal-hal positif) dan kalau bisa ikut mengantar sampai mayat tersebut dikuburkan. Tapi, sekarang tidak selalu bisa seperti dulu, sebab sudah berpindah tempat tugas ke kota lain dengan jarak 4-5 jam perjalanan dari tempat saya tinggal.

Ketika melihat prosesi pemakaman, keimanan naik beberapa tingkat. Kesadaran untuk berbuat kebaikan dan menjauhi kemaksiatan pun ikut menguat. Saat mayat dimasukan ke dalam lahad dan ditimbun tanah merah, saya berpikir suatu saat giliran saya yang menjadi objek penguburan. Jantung berdetak lebih kuat, saya pasti mati. Hanya masalah waktu. Lalu apa yang akan saya bawa?!

Di perjalanan pulang dari pemakaman, saya berjalan beriringan dengan para penggali kubur. Relawan kampung yang tidak dibayar dan tanpa pendaftaran, mereka datang sendiri setiap kali ada yang meninggal. Kebetulan ada seorang wanita tua meninggal. Dan salah seorang diantara penggali kubur yang ikut menggali kubur untuk wanita tersebut meninggal juga sejenak setelah kubur siap digunakan saat mereka istirahat sambil menikmati makanan ringan yang disediakan buat mereka. Hari itu suasana ramai karena ada yang meninggal setelah membantu menggali kubur.

Al-hamdulillah, lingkungan kampung tempat saya tinggal sudah terbentuk dengan suasana islam yang kuat sehingga masyarakat hanya merasa kaget namun tidak mengaitkan dengan hal-hal yang berbau syirik. Di perjalanan pulang tersebut, terjadi dialog diantara mereka yang inti sarinya saya rekam dan saya tulis disini.

Lelaki1 : heueuh nya, ari umur mah teu apal. Boa isukan mah giliran urang. (Iya, ya. Usia orang siapa tahu. Mungkin besok giliran kita)

Lelaki2 : masih untung manehna mah aya nu ngurus, nu nyolatan, nu ngamandian, nu ngurebkeun. Engke giliran urang mah can puguh aya nu ngurus. Boa dimana maot na oge. (Dia masih beruntung ada yang mengurusi, menshalati dan menguburkan. Nanti giliran kita belum tentu ada yang mengurusi. Entah dimana nanti kita meninggal).

Lelaki3 : heueuh tuda, maot teh asa moal, tapi da bakal kabeh oge. (Iya sih. Sepertinya kita tidak akan mati. Padahal, semua juga pasti mati.)

Barangkali, kita juga merasa seperti itu. Merasa akan hidup selamanya padahal tidak. Karena sebagai makhluk fana kita pasti mati dan kembali kapada sang pencipta. Mungkin juga ada diantara kita malah kalah oleh logika para penggali kubur diatas yang berfikir (dan merasa khawatir) bagaimana jika saat mereka mati nanti tidak ada yang mengurusi jenazahnya.

Boa isukan mah giliran urang

Ada satu pepatah yang menyebutkan “I’mal lidunyaaka ka annaka ta’isyu abadan wa’mal li akhirotika ka annaka tamutu ghodan”. “Bakerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup abadi. Tetapi, bekerja juga untuk akhiratmu seakan-akan engkau meninggal esok hari”. Hal ini dengan sangat jelas juga tercatat dalam Al-Qur`an dengan redaksi sebaliknya mendahulukan akhirat:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Al-Qashas: 77)

Silahkan lihat fenomena mesjid (selain mesjid pesantren atau lembaga pendidikan), yang rutin shalat berjamaah hanya beberapa baris orang-orang tua separuh baya. Orang yang sudah merasa dekat dengan kematian sehingga berusaha menambah amal di sisa umur yang masih tersisa. (contoh ini hanya di beberapa tempat yang pernah saya kunjungi saja, untuk daerah-daerah yang semangat keislamannya tinggi, maka perlu diapresiasi dan diteladani,).

Lalu, kemana para pemuda? Mayoritas bekerja siang dan malam untuk bisa hidup. Banting tulang sampai tulang terbanting-banting. Saking cape-nya, tulang sulit ditekuk untuk rukuk. Kepala dijadikan kaki dan kaki dijadikan kepala. Saking pusingnya, kepala susah diajak untuk bersujud. Peras keringat, saking keras terperas keringat itu habis sampai tak tersisa, sehingga saat diajak shodaqoh dan zakat, dengan masam berteriak, “Apa yang mau di zakati keringat sudah habis, bersih.”

Yang lain, bermalas-malas karena saku penuh, rumah mewah, harta melimpah. Mau ini dan itu tinggal telpon, layanan delivery dengan tangkas mengantar sampai ke teras. Butuh apapun, langsung pesan, cost on delivery (COD). Bahkan, sampai saat tongpes pun masih bisa dengan gagah shoping di pusat-pusat perbelanjaan, gesek karu kredit, beres. Padahal, hutang dengan bunga berlipat siap mencekik sampai napas melompat.

Sisanya, menjadi penganut Kabayanisme, duduk manis tapi berpangku tangan. Mengharap langit menurunkan hujan emas. Menunggu wangsit ada harta Qorun yang bisa digali sambil merem. Ngarengkol, morongkol, sila tutug sideang nyanghareupan hawu, atawa nangkeup tuur.

Barangkali, jika ingin sedikit mengurut lutut dan memijit kening agar mau diajak rukuk dan sujud, ada baiknya sekali-kali ikut mengantar jenazah dan menyaksikan prosesi penguburan sampai usai. Mudah-mudahan bisa menjadi pengingat bahwa kita juga akan diperlakukan sama suatu saat nanti. Paling tidak ada sebaris kalimat yang bisa dipajang sebagai cendera mata dari area pemakaman, “Boa Isukan Mah Giliran Urang”.

Berbuat baik sekarang bukan setelah mati!

Dalam beberapa ayat Al-Qur`an disebutkan bahwa orang-orang yang sudah meninggal yang belum beramal shalih meminta kepada Allah agar dikembalikan ke Dunia ‘walau sejenak’ untuk beramal shalih. Sebab, hanya amal shalih yang akan menyertai seorang manusia untuk bertemu dengan Tuhan-nya.

Kekayaan, jabatan, keturunan jika tidak menjadi amal shalih hanya akan menjadi penuntut di pengadilan akbar kelak. Maka, ada tuntutan dari Rasulullah bahwa Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak- yang shalih adalah amal shalih yang pahala terus mengalir walaupun orangnya sudah meninggal.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

Artinya: “Jika seorang manusia mati terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

Diakhir surat Al-Munafiqun, Allah Swt. Memperingatkan hambanya untuk tidak dilalaikan oleh rasa cinta kepada harta dan anak sehingga lupa mengingat kepada Allah. Pada ayat selanjutnya Allah Swt. Mengarahkan hambanya untuk berinfak dengan sebagian harta yang ia miliki sebelum kematian datang menjelang. Agar tidak ada penyesalan sehingga meminta untuk dikembalikan ke duania sekedar untuk berinfak.

 وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

Artinya: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (10) Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (Al-Munafiqun: 77)

Jadikan kematian sebagai pengingat!

Jika sekarang kita punya smartphone canggih yang bisa menyalakan alarm untuk mengingatkan waktu meeting, waktu deadline, waktu deal bisnis, waktu lobi-lobi politik, maka kita juga harus punya alarm transendental yang bisa mengingatkan batas waktu terakhir dari hidup kita.

Alarm itu adalah kematian. Semakin sering kita mengingat mati, semakin sering kita menyadari waktu begitu cepat namun amal begitu lambat. Maka ada , Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda:

أكثروا ذكر هاذم اللذات الموت

رواه الترمذي و النسائي ، وصححه ابن حبان

Artinya: “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (kematian)”.

2 Tanggapan to “KEMATIAN, SUATU KENISCAYAAN”

  1. Rotmianto Says:

    Assalamww… kunjungan balik, Pak Arhsa, terima kasih atas doa dan dukungan pada e-DDC sy yg sederhana itu. sy masih hrs bnyak belajar, dari panjenengan juga terutama.. smg sukses selalu buat Pak Arhsa🙂

    • arhsa Says:

      Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
      Masya Allah, sungguh bahagia Mas Rotmianto berkenan mengunjungi blog saya yang sederhana. Kita sama-sama belajar mas. Saya sedang mempelajari Java dengan Netbeans, ingin rasanya membuat aplikasi bermanfaat, seperti untuk media pembelajaran Bahasa Arab dll. Maka saya sangat antusias saat melihat banyak pemuda seperti Anda menghasilkan karya-karya yang bermanfaat.

      Amin. Semoga doa ini juga diamini para Malaikat dan kembali kepada Mas Rotmianto.

      Lanjutkan berkarya melewati batas usia!


بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: