Antara Identitas Simbolis dan Identitas Ideologis

Muqadimah

Identitas adalah tanda pengenal yang sifatnya mutlak. Tanpa identitas tidak ada kejelasan pribadi yang bisa dipertanggung jawabkan. Seorang penduduk suatu negara pasti memiliki kartu tanda penduduk sebagai identitas bahwa dia termasuk penduduk negeri tersebut. Dalam ranah mikro, seorang pelajar pasti memiliki kartu pelajar sebagai identitas bahwa ia bagian dari lembaga pendidikan tempat ia belajar. Seorang muslim juga memiliki identitas yang menunjukan dia sebagai bagian dari umat islam.

Identitas ada yang simbolis dan ada juga yang idiologis. Keduanya sama-sama identitas namun isinya sangat jauh berbeda. Identitas simbolis lebih bersifat manusiawi dan universal sedangkan identitas ideologis lebih berdasar pada bimbingan wahyu transendental (ukhrowi). Identitas simbolis lebih menekan pada bentuk pengenalan dan penegasan pribadi sedangkan identitas ideologi adalah ruh dari pribadi tersebut.

Identitas Simbolis

Seorang muslim yang pernah melaksanakan Ibadah haji kemudian menambahkan awalan ‘H.’ sebelum namanya adalah salah satu contoh identitas simbolis. Sebab, penambahan awalan ‘H.’ tersebut bukan jaminan haji mabrur , hanya Allah Swt. yang tahu kualitas ibadah seorang hamba. Sejatinya, melaksanakan ibadah haji adalah identitas ideologis jika dilakukan dengan ikhlas dan sempurna syarat serta rukunnya. Maka, kita harus selalu memohon kepada Allah agar ibadah haji kita menjadi identitas simbolis sebagai penegasan bahwa kita seorang muslim yang taat sekaligus menjadi identitas ideologis sebagai bukti bahwa setelah berhaji ketakwaan kita semakin meningkat dan selalu terawat.

Peci putih yang dipakai pak haji pun merupakan identitas simbolis. Sebab, peci putih itu juga bukan jaminan haji mabrur dan betapa banyak anak-anak di pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan islam yang menggunakan peci putih tersebut padahal mereka belum melaksanakan ibadah haji. Begitu juga peci hitam.

Baju koko yang kita (umat islam) pakai juga merupakan identitas simbolis. Sebab, baju koko bukan merupakan barometer ketakwaan. Baju koko juga bukan pakaian milik islam atau berasal dari Jazirah Arab sebagai tempat Islam bermula, baju koko berasal dari budaya Cina. Adapun baju takwa, menurut beberapa sumber berbeda dengan baju koko. Jika baju koko asli dari budaya Cina maka baju takwa adalah kreasi Sunan Kalijaga yang me-modifikasi baju sujan (pakaian tradisonal sehari-hari pria jawa).

Baju takwa hasil kreasi Sunan Kalijaga, beliau memasukan identitas ideologis ke dalam pakaian tradisional Jawa. Diantaranya; pada leher baju terdapat tiga kancing yang melambangkan iman, islam dan ihsan. Pada bahu kanan dan bahu kiri masing-masing terdapat tiga kancing melambangkan dua kalimah syahadat. Pada kedua lengan kiri dan kanan terdapat enam kancing (masing-masing tiga kancing) melambangkan rukun iman. Pada bagian depan terdapat lima kancing melambangkan rukun Islam. 1

Sarung yang begitu populer digunakan oleh umat islam di negara kita dalam beribadah juga merupakan identitas simbolis. Sebab, dibelahan dunia lain banyak umat islam yang shalat mengenakan celana panjang, gamis, kemeja, jas dan tanpa sarung. Bahkan diantara kita ada yang menggunakan sarung untuk beribadah ternyata juga menggunakan sarung untuk menahan rasa dingin saat meronda atau menjadikanya selimut saat tidur. Bahkan, pada beberapa kasus kriminal di kampung (daerah Garut) jaman baheula, ‘bangsat’ menggunakan sarung sebagai teregos (topeng).

Untaian Tasbih (sibhah) yang kita gunakan saat berdzikir juga merupakan identitas simbolis. Sebab, tidak menggunakan tasbih pun tidak akan mengurangi jumlah pahala dzikir tersebut. Bahkan, tasbih juga digunakan oleh pemeluk agama lain sebagai identitas, dengan ukuran jumbo dibanding tasbih yang umum digunakan umat islam. Diantara kita (yang muslim) pun sangat banyak yang betul-betul menjadikan tasbih sebagai identitas simbolis dengan memajang di dinding ruang tamu, menggantung di mobil atau gantungan kunci.

Jadi, identitas simbolis bisa jadi pembeda namun bukan penentu. Memasang semua identitas simbolis tidak otomatis menjamin ketakwaan seorang muslim. Namun, jika niat dalam menggunakan identitas simbolis adalah untuk menguatkan identitas ideologis, maka hal itu sangat baik sebagai upaya pengkondisian. Sebab, banyak diantara identitas-idantitas simbolis yang bisa mengingatkan dari lupa dan menyadarkan dari kemaksiatan yang akan dilakukan. Setelah bergelar Haji akan lebih berusaha untuk mengekang hawa nafsu. Saat memakai baju takwa dan peci akan malu untuk mendekati kemaksiatan, saat memegang tasbih akan malu untuk berkata keji.

Identitas ideologis

Seorang muslimah yang dengan sepenuh hatinya mengenakan jilbab demi menjaga kesucian dirinya dan mentaati perintah Robb-nya, sejatinya ia sedang memasang identitas ideologis dalam dirinya. Sebab, jilbab bukan produk budaya suatu kabilah juga bukan bagian dari adat suatu bangsa, tapi ia adalah perintah Allah yang sangat tegas dalam Al-Qur`an:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا  – الأحزاب : 59

Artinya:“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Ahzab: 59)

 Jilbab sebagai identitas ideologis sangat kentara dan begitu terasa di daerah-daerah minoritas muslim (‘aqoliyah muslim). Di Perancis, swiss, Jerman, dan negara-negara eropa lainnya muslimah yang mengenakan jilbab mengalami penindasan fisik, psikhis bahkan sampai pada tingkat pembunuhan2.

Bahkan, pakaian biasa (apapun modelnya selama tidak menyalahi aturan syariat) yang kita kenakan dan kita niati untuk menutup aurat (sesuai ketentuan syar’i) dan melindungi kehormatan diri maka sudah masuk kategori identitas ideologis. Sebagai antitesis atau penolakan terhadap perilaku terbalik yang dilakukan aktifis femen beberapa waktu lalu dengan menggelar demontrasi nudis di depan mesjid dan kedutaan Tunisia di sejumlah negara Eropa.3 Mereka mengkampanyekan bahwa tubuh adalah milik pribadi yang bebas dieksplorasi dan di pamerkan tanpa penutup. Naudzubillah.

Seorang muslim yang melakukan ibadah shoum (puasa) baik Ramadhan, senin atau kamis, ayyamul-bidh, asyuro, arafah, daud, maupun shoum-shoum yang lainya menunjukan orang tersebut sedang mengukuhkan identitas ideologisnya.

Puasa bukan monopoli kaum muslimin sebab agama lain juga ada yang mensyariatkan puasa. Bahkan, dalam ilmu kedokteran ada beberapa kondisi yang mengharuskan puasa seperti menjelang operasi. Akan tetapi, shoum adalah puasa yang syarat dan rukunnya telah ditentukan oleh Allah dengan jelas dalam Al-Qur`an dan hadits, bukan sekedar produk kedokteran apalagi produk mistis agar bisa menguasai ilmu kebal dan sebagainya.

Shoum sebagai identitas ideologis ternyata mendapat respon positif dan penghargaan, non muslim di Barat sangat kagum dengan umat islam yang mampu bertahan menjalani ibadah shoum sebulan penuh di musim dingin atau sebaliknya di musim panas. Bahkan, ada beberpa bintang sepak bola muslim terkenal yang tetap memilih shoum padahal ia ikut bermain sepak bola.

Membaca Al-Qur`an adalah identitas ideologis. Sebab, bukan hanya ritual membaca tapi membaca sebagai bentuk ketaatan, ketundukan, mengharap pahala yang semuanya masuk dalam bingkai ibadah. Bahkan, jika membacanya disertai kemampuan berbahasa Arab, kemampuan mengkaji dan meneliti, akan tercipta pencapaian ilmiah yang sangat bermanfaat. Dalam konteks ini, pembaca tersebut sudah mengikuti wasiat Rasulullah Saw. Untuk berpegang teguh pada Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Memunculkan identitas pribadi

Apa identitas pribadi kita sebagai seorang muslim? Memakai baju koko, memakai peci, memakai sarung, menggunakan tasbih? Yang paling penting adalah identitas pribadi kita yang berbeda dari orang lain. Dengan identitas apa kita dikenal oleh makhluk dan Khalik (AllahPencipta)?

Rasulullah Saw. dan para sabahat memberi banyak contoh yang bisa kita ikuti. Abu bakar selalu berpuasa sunnah, mengunjungi orang sakit, mengantar jenazah, selalu shalat witir sebelum tidur karena takut tidak bisa bangun malam, bershadaqah dengan seluruh harta yang ia miliki. Umar bin Khattab selalu shalat malam, membela orang yang lemah, keras terhadap orang kafir yang memusuhi Islam. Utsman bin Affan selalu bershadaqah dengan nilai yang tidak bisa dihitung. Membeli sumur Ruumah, mendanai perang, membagikan dagangan dengan gratis saat musim paceklik. Begitu juga para sahabat lainnya dengan identitas ideologis mereka masing-masing.

Ada banyak identitas ideologis yang bisa kita mulai atau kita lanjutkan (bagi yang sudah memulai). Shalat duha, shalat tahajud, membaca Al-Qur`an, memberi shadaqah rutin per minggu, membaca buku islami, mengirim sms nasihat, twitt kalimat bermakna, posting artikel bermanfaat, update status facebook dengan tulisan yang bisa memberi motivasi atau berisi penyadaran bagi orang lain, mengenakan jilbab, dan lain-lain.

Tidak perlu memaksakan kuantitas, lakukan dengan bertahap (gradual), mulailah dengan jumlah minimal namun rutin dan berkualitas. Dua rakaat, satu halaman, Rp. 1000, akan sangat bermakna jika kontinyu. Berbeda dengan belasan rakaat, belasan lembar, Rp. 100.000 namun hanya sekali dan setelah itu ditinggalkan sama sekali.

Identitas pribadi ideologis seperti inilah yang akan menjadi bekal bagi kita baik saat kita hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Sekecil apapun identitas ideologis yang Anda miliki nilainya bisa jadi sangat besar dan begitu berarti dalam pandangan makhluk lain dan pandangan Allah swt. Sebab, ada contoh menarik, seorang wanita tua di inggris yang masuk Islam karena (maaf) celana dalam milik beberapa mahasiswa muslim.

Kisah nyata ini dikisahkan Dr. Sholeh Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris, disana ada seorang wanita tua yang bekerja di bagian laundry (cuci pakaian). Ia menemukan bahwa (maaf) celana dalam milik orang islam (mereka mahasiswa dari Saudi Arabia) cenderung bersih dibandingkan milik non muslim.

Setelah dikonfirmasi, ternyata mereka selalu istinja setelah buang hajat, dan hal itu diajarkan dengan detail dalam Islam.4 Dari jawaban inilah hidayah itu masuk kedalam hati perempuan tua itu, ia pun mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi seorang muslimah dengan wasilah celana dalam yang menjadi bagian dari identitas ideologis para pemiliknya. Subhanallah.

Penutup

Merasa Banggalah bahwa Anda seorang muslim yang memiliki identitas simbolis dan ideologis yang berasal dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Isyhadu bi anni muslim (Saksikanlah! Bahwa aku seorang muslim). Kalimat ini pun bagian dari identitas ideologis.

Referensi dan Inspirasi:

1. http://www.inibajukokomurah.com/blog/sepintas-sejarah-baju-koko/

2.http://muslimdaily.net/opini/specialfeature/pelarangan-cadar-jilbab-menara-masjid-usulan-salib-pada-bendera-eropa-perang-salib-mulai-mengglobal.html#.UV_4CleDmSo

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/08/08/m8f32q-muslimah-di-prancis-ditangkap-karena-menolak-lepas-jilbab

http://delitua.heck.in/motif-sesungguhnya-dibalik-pelarangan-ji.xhtml

http://www.voa-islam.com/news/world-world/2009/07/30/554/muslimah-eropa-menolak-melepas-hijab/

3. http://www.bersamadakwah.com/2013/04/astaghfirullah-kelompok-wanita-ini.html

4.http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/kisah-mualaf-seorang-wanita-karena-celana-dalam.htm#.UWAthVeDmSo

Ahad, 14 Oktober 2012 M / 28 Dzul-qo’dah 1433 H

Edited : Jum’at, 16 November 2012 M / 2 Muharram 1434

Edit akhir : Sabtu, 6 April 2013 M / 25 Jumadil Awwal 1434

4 Tanggapan to “Antara Identitas Simbolis dan Identitas Ideologis”

  1. MSF Says:

    “Muslim bersedia tampil beda berdasarkan identitas yang diletakkan ad-Din” tulisan yang mencerahkan, selamat.

  2. Hairiah Riah Says:

    Jilbab juga termasuk identitas simbolis juga kan? Sekarang jilbab tidak dapat mewakili identitas Ideologis seseorang. Oh ya, saya setuju kalau identitas ideologis itu lebih penting dari identitas simbolis

    • arhsa Says:

      Jilbab tetap Identitas Ideologis sebab jelas perintahnya dalam Al-Qur`an. yang jadi masalah adalah, ada yang menggunakan jilbab namun belum faham bahwa ia mengenakan identitas ideologis yang seharusnya membuat ia menjadi shalihah, memiliki kesadaran untuk mengenakan namun tanpa pemahanan yang benar, atau karena mengikuti tren, ini kembali ke individunya bukan ke jilbab sebagai identitas ideologis.


بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: