Sang Pembelajar

 Anak laki-laki itu hanya tamat Sekolah Dasar (dulu Sekolah Rakyat). Kemudian masuk Madrasah Thawalib yang didirikan bapaknya. Tapi sering membolos. Bahkan kemudian berhenti sekolah dan mengikuti Tukang Kaba (tukang cerita keliling).

Usia bertambah. Membangkitkan kesadaran. Tanpa ilmu Ia bisu, tanpa agama Ia hina. Ia  belajar dan terus belajar. Otodidak sejati. Tidak pernah lagi mengenyam pendidikan fomal, menengah maupun bangku kuliah. Ia telaah Kutubut-turats berbahasa Arab. Ia pelajari literasi berbahasa Inggris. Ia kunyah buku-buku sastra. Ia lahap sejarah. Ia kaji buah karya para pemikir muslim dan  barat. Dalam kamusnya, tak ada dikhotomi ilmu agama dan ilmu dunia, semua Ia baca. Tak ada klasifikasi disiplin ilmu yang menyekat, untuk berhenti belajar. Ia berusaha keras, menguasai semua.

Suatu ketika, ia mencium tangan ayahnya, meminta ijin untuk pergi. Mengembara entah kemana. Padahal, Ia berniat melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Ia mencari biaya sendiri. Setelah sampai disana, barulah Ia berkirim surat bahwa Ia sudah berada di tanah suci. Sang ayah terharu, air matanya menitik. Anak yang susah diatur itu sudah menemukan jati dirinya.

Waktu berlalu, puncak kematangan intelektual ia capai. Sederet karya tulis menjadi warisan berharga yang ia tinggalkan untuk generasi bangsa yang hidup setelahnya. Silahkan baca Buku ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk’, akan Anda dapati bahwa pengarangnya orang yang faham sastra dan tren budaya di zamanya.  Silahkan baca buku ‘Dari Perbendaharaan Lama’, akan anda dapati bahwa pengarangnya orang yang faham Sejarah Islam. Sejarawan budayawan yang nyastra. Dalam buku tersebut, Ia menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, lebih cepat 4 abad dibandingkan tulisan yang ada di buku-buku sejarah Indonesia, abad ke-11. Ia bahas sejarah ibarat sebuah kisah.

Silahkan baca ‘Tafsir Al-Azhar’, akan anda dapati bahwa pengarangnya orang yang memiliki wawasan luas. Bukan hanya literasi milik kaum muslimin yang dijadikan referensi, tapi karya-karya para pemikir barat seperti Arnold Toynbee dan yang lain juga terdapat disana. Jangan lupa! Buku itu ia tulis didalam penjara!2 Penjara ia jadikan bangku kuliah untuk menghasilkan karya yang tidak kalah kualitasnya dengan mereka yang belajar formal dibawah bimbingan Doktor dan profesor!

Silahkan baca buku-buku lain yang Ia tulis seperti: Tasauf Modern, Dibawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, dan yang lainnya, akan anda dapati bahwa pengarangnya adalah orang yang menguasai banyak hal. Ia menulis banyak buku, 1 ratusan makalah, esei dan artikel yang tersebar diberbagai media masa. Ia juga menguasai jurnalistik. Menjadi pemimpin beberapa majalah, seperti Pedoman Masyarakat, Gema Islam dan Panji Masyrakat.

Saat diamanahi menjadi ketua MUI (Majlis Ulama Indonesia) 26 Juli 1975, ia berhadapan frontal dengan penguasa Orde Baru. Ada budaya baru para pemimpin saat itu, ikut menghadiri perayaan natal bersama kaum kristiani. Demi menjaga aqidah umat Islam, ia mengeluarkan fatwa: Haram hukumnya bagi seorang muslim untuk ikut merayakan natal. Ia dipaksa dan ditekan untuk menarik kembali fatwa tersebut. Tapi, bak batu karang yang kokoh menghadapi deburan ombak, ia menolak untuk menarik fatwa yang telah ia ucapkan. Penolakan itu ia perkuat dengan pengunduran dirinya sebagai ketua MUI saat itu (18 Mei 1981).

Ia mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari UKM (Universitas kebangsaan Malaysia) 7 Juli 1974. bahkan, gelar Profesor pun kemudian ia dapatkan. Sang pembelajar itu adalah seorang Ulama Besar yang tidak hanya diakui di Indonesia tapi juga di Malaysia dan Thailand. Ia adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama HAMKA (1908-1981).3 Putra dari DR. Abdul Karim bin Amrullah, yang lebih dikenal dengan Haji Rasul, pelopor gerakan Ishlah (tajdid) di Minangkabau. 4

Membangkitkan Minat Belajar

Perhatikan sosok Hamka pada bahasan diatas! Sang Pembelajar, otodidak yang menguasai berbagai disiplin ilmu: Sejarah, Tasauf, Sastra, Politik, Jurnalisme, Tafsir, Sosiologi, Politik, Bahasa, dan disiplin ilmu yang lainya. Dalam dirinya terkumpul lebih dari tujuh disiplin ilmu. Padahal, ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang kontinyu dari jenjang pendidikan paling rendah sampai strata tertinggi.

Ilmu dan wawasan yang dimiliki Hamka didapat dengan otodidak. Otodidak yang tercermin dalam kemauan yang tinggi untuk membaca dan berinteraksi dengan orang-orang berilmu. Saat kecil beliau belajar dari tukang Kaba, semacam tukang cerita keliling. Saat tinggal di Mekah beliau bekerja sebagai tukang jilid. Sambil bekerja ia rajin membaca buku-buku dan kitab-kitab yang dijilidnya.5

 Anda boleh berkata, ‘Wajar beliau sukses, lihat siapa ayahnya!”. Ungkapan seperti ini ada benarnya. Namun, tidak selalu benar. Hidayah, kecerdasan, kemauan dan kesuksesan tidak serta merta diwariskan dari seorang ayah. Bukankah anak Nabi Nuh durhaka! Bukankah banyak anak-anak raja dan pembesar larut dalam kemegahan, bersenang-senang dengan kekayaan orang tuanya dibandingkan duduk terpekur menelaah buku?! Jika Hamka tidak membangkitkan minat belajar dalam dirinya, akankah ia berhasil? Bukankan sang ayah lebih cenderung membiarkanya karena Ia susah diarahkan?

Mengasah Potensi Diri

Dalam diri setiap orang terdapat potensi kecerdasan yang sangat besar dengan jumlah yang beragam.  (silah kan baca artikel penulis yang telah diterbitkan Figur Darussalam dengan judul ‘Mengenal dan Mengembangkan Talenta dengan Pendekatan Multiple Intelligences’). Kecerdasan akan terasah dengan membangkitkan minat untuk belajar. bisa jadi Anda dianugerahi Allah beragam kecerdasan, tapi karena minat Anda hanya diarahkan pada satu hal saja, pada masalah sepele yang kurang berguna, potensi besar itu terkubur dibawah alam sadar.

Banyak orang yang hidupnya biasa-biasa saja, bahkan cenderung terpuruk. Padahal, potensi yang dimilikinya sangat banyak. Hanya karena minatnya lebih banyak diarahkan pada masalah-masalah sepele yang kurang berguna. Life style, musik,  food, dan seabrek kegiatan yang masuk dalam kategori ma laa ya’niihi.

Sebaliknya, banyak orang dengan potensi biasa dan bahkan minim namun mampu meraih kesuksesan. Mereka  berusaha mengenali potensi yang dimiliki. Mereka sadar, potensinya tak seberapa, tapi tetap yakin bahwa potensi bisa dikembangkan. Apapun caranya, yang ada dalam dirinya hanya kalimat sukses dan berhasil, mesti harus melewati seribu kali kegagalan. Ada yang mengatakan, “Gagal biasa, bangkit dari kegagalan luar biasa dan membangkitkan orang lain dari kegagalan sangat luar biasa.”

Trial and Error

Minat akan bertambah kuantitasnya dengan sering mencoba. Trial and error. Ketika melihat suatu ilmu, cobalah! Bisa jadi Allah menakdirkan Anda sebagai seorang pakar dari ilmu tersebut. Bukankah Rasulullah Saw. telah menyampaikan, “Man yuridillaha bihi khoiron yufaqqihhu fid-din”. “Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan ada pada diri seseorang, Allah menjadikan orang itu faham ilmu agama” (HR. Bukhori dan Muslim).

Jika anda ingin mengusai suatu keterampilan/skill (komputer, letter, menjahit, kaligrafi, gymnastik, dll), cobalah! Agar minat anda terasah! Bisa jadi Anda kelak mahir dan sukses dengan keterampilan tersebut. Cobalah dan perhatikan niscaya Anda jadi orang yang tahu!

Tumbuhkan minat Anda pada segala hal dan cobalah semuanya, bisa jadi Anda seorang pemilik multi talenta seperti Hamka. Minimal, kita telah ngamumule semua potensi yang telah anugerahkan Allah Swt.  sebagai tanda bersyukur. Bukankan Allah telah berjanji akan mengangkat derajat orang yang berlimu?! Bukankan Allah telah berjanji akan menambah nikmat orang yang bersyukur?!

Antara Kemampuan dan Kemauan

Kemampuan tidak serta merta equivalent dengan kemauan. Begitu juga sebaiknya. Bahkan, kemauan seringkali tidak sekedar berpijak diatas pondasi kemampuan. Berapa banyak orang yang kemampuanya standar tapi berhasil karena memiliki kemauan yang mem-baja. Begitu juga berapa banyak orang yang memiliki kemampuan tinggi malah terpuruk karena menyia-nyiakan kemampuannya.

Kemauan yang keras akan merubah segala. Merubah status, merubah pola fikir dan  merubah kondisi. Menghasilkan social climbing (pendakian sosial). Seorang anak petani dengan kemauan kuat mampu meraih sukses menjadi seorang guru. Ia meninggalkan status orang tuanya dan naik beberapa level keatas. Sebaliknya, anak seorang pemimpin, memiliki kemampuan, memiliki kesempatan, memiliki dana melimpah, namun minim kemauan, akhirnya menjadi penghuni jeruji besi. Turun drastis dari level yang diduduki ayahnya menuju level paling rendah. Wa tilkal-ayyamu nudawiluha bainan-naas… (Ali Imron: 140)

Tidak ada kata terlambat

Seorang Kakek-kakek berumur 80 tahun. Menemukan kesadaran untuk belajar. Maka, ia belajar kepada Imam Abu Hanifah selama empat puluh tahun. Kemudian berfatwa (mengamalkan ilmunya) selama empat puluh tahun. Jadi, total usianya seratus enam puluh tahun, subhanallah. 6

Anda harus mencatat! Syeikh Az-Zarnuji menulis dalam Ta’limul-muta’allim, ‘tsumma aftaa ba’da dzalika’ bukan ‘Tsumma ‘allama/darrosa ba’da dzalika’. Itu artinya, Sang kakek belajar sungguh-sungguh (bukan sekedar meng-karbit belajar beberapa minggu menjelang ujian) sampai menguasai ilmu yang ia pelajari. Dalam Islam, siapapun boleh mengajar. Satu ayat atau dua ayat harus diajarkan. Tapi, tidak sembarang orang bisa mengeluarkan fatwa. Hanya Khalifah, Qadhi (hakim Islam) atau ulama besar (mujtahid) yang keluasan ilmunya diakui oleh umat yang boleh memberikan fatwa dalam masalah agama. Dan ternyata, Kakek itu adalah Hasan bin Ziyad Al-Lu`lu`i. Seorang murid sekaligus sahabat Imam Abu hanifah, berotak cerdas dan faqih,  menjadi Qadhi wilayah Kufah (Irak). Beliau meninggal tahun 204 H/819 M. 7

Jadi, kakek tua itu Sang Pembelajar sejati yang tidak disekat oleh batasan usia. Sang pembelajar yang memiliki kemauan kuat dan tidak kalah oleh remaja dan pemuda yang masih memiliki kekuatan fisik melimpah. Kakek itu kuat otak dan kemauan walaupun kalah otot dan baru menyadari potensi kecerdasanya setelah berumur delapan puluh tahun. Long Life Education.

Seorang ulama lain, mengalami sakit parah yang kemudian mengantarkan kepada kematianya. Sebelum meninggal, seorang sahabatnya datang menengok. ia juga seorang ulama. tapi memiliki kemampuan dalam bidang yang berbeda. Ulama yang sedang sakit ini bertanya kepada temanya yang menjenguk  tentang suatu masalah yang belum ia fahami. Sahabatnya menjawab dengan jelas sampai ia faham. Kemudian bertanya, ‘Saya heran melihat engkau. Dalam keadaan sakit parah yang menunjukan gejala kematian, masih bertanya tentang ilmu?” ia menjawab, “Bukankah kewajiban kita adalah mencari ilmu tanpa melihat batasan waktu.” Subhanallah. Ketika badan dibungkus kain kapan dan pipi menyentuh liang lahat, disitulah terminal akhir pencari ilmu.

Istiqamah

Satu kata yang mudah di ucapkan namun sulit dilakukan, istiqamah (kontinyuitas). Ketika minat sudah berhasil ditumbuhkan. Potensi telah diasah. Trial and error menjadi rutinitas. Kesuksesan berada dalam genggaman. Hati-hatilah! Ada beberapa virus yang siap menyerang. Diantara virus tersebut adalah Futur dan Takabur.

Futur adalah melemah setelah semangat. Berhenti setelah sebelumnya bergerak.8  Manusia adalah makhluk yang lemah, rajin keluh kesah dan cepat merasa lelah. Futur sangat dekat dengan manusia jika tidak dihindari dengan sekuat tenaga. Innal-insana khuliqa haluu’a idza massahusy-syarru jazuu’a. (Al-Ma’arij: 19-20)

Gejala futur akan tampak ketika dalam jiwa muncul perasaan hampa, hilang semangat dan tidak ada gairah. Padahal, Ia menghadapi satu proyek yang tadinya Ia perjuangkan dengan segenap kesungguhan. Ia sedang meraih mimpi besar dan cita-cita tinggi yang di rancang dengan penuh perhitungan. Karena futur datang, semua jadi hilang. Prestasi menguap.

Manusia bukan Malaikat yang tidak akan mengalami futur. Jika Malaikat diperintah ruku’, akan ruku’ sampai hari kiamat. Jika diperintah sujud, akan sujud sepanjang zaman. Yusabbihunal-laila wan-nahar la yafturun (Al-Anbiya: 20). Maka, sadari saat futur datang menjelang! Jangan sampai futur membuat kita berhenti berfikir, jeda berbuat dan putus beramal.

Takabur adalah perasaan bahwa dirinya lebih dari orang lain baik ilmu, harta, keturunan, jabatan, kekuatan, atau banyaknya jumlah pengikut. Menganggap orang lain berada dibawahnya.

Takabur lebih cepat masuk kepada orang yang berilmu. Yaitu orang berilmu yang tidak mendapatkan cahaya taufik. Sebab, ketika seseorang berilmu namun tidak mendapat cahaya dari Allah, ia akan merasa unggul dan menganggap orang lain lebih rendah seperti binatang.

Orang berilmu yang takabur adalah manusia yang paling bodoh. Sebab, seharusnya setelah berilmu ia harus lebih tawadhu dan bertakwa bukan sebaliknya menyombongkan diri dengan ilmu yang dimiliki. 9

 Sang Pembelajar

Hamka dan Kakek tua (Hasan bin Ziyad) yang haus ilmu seharusnya menjadi idola kita. Tidak  pernah merasa cukup (dengan ilmu). Jadilah tanah gembur yang menyerap air dan menumbuhkan benih-benih ilmuan. Jika tidak mampu, jadilah tanah liat padat yang menampung air menjadi telaga agar orang lain bisa menceduk air pengetahuan untuk menghilangkan dahaga ilmiah. Jangan menjadi padang pasir tandus yang hanya ditumbuhi kaktus. Belajar terus dan terus belajar. Membaca dan menulislah agar menjadi bekal, media introsfeksi, bahan referensi dan dokumentasi perjalanan intelektual kita.

Referensi dan data:

  1. Buku yang ditulis Hamka lebih dari 100 judul. Penulis baru sempat membaca beberapa judul saja: Tenggelamnya Kapal Vanderwijk, Tasauf Modern, Dari Perbendaharaan Lama, dan Tafsir Al-Azhar juz 30.
  2. Hamka dipenjara oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro Malaysia.
  3. Penulis me-review biografi singkat Hamka karena sesuai dengan judul yang dibahas, tanpa melihat latar belakang golongan. Alasan lain, referensi tentang beliau cukup tersedia sementara referensi ulama dan tokoh lain belum penulis miliki.
  4. Majalah Islam Sabili, no. 16 th.xv 21 pebruari 2008/14 shafar 1429. Seabad Buya Hamka, Merindukan Ulama Pejuang.
  5. Wawancara Majalah Islam Sabili dengan Rusydi Hamka (salah seorang putra Hamka).
  6. Kitab Ta’limul-Muta’allim, Syeikh Az-Zarnuji, hal. 36.
  7. Mausu’ah Syamilah, ishdar 2.8, Kitab basantren, Ta’lim muta’allim, hal. 49. (disertai hawamis tapi tidak disertai nama pentahqiq)
  8. ‘Afat ‘alath-thariiq’, Syeikh DR. Sayyid Muhammad Nuh, hal. 3
  9. Az-Zawajir ‘an iqtirafil-kabair, juz 1, hal. 182.

***

Tulisan ini tersedia dalam format PDF, silahkan kunjungi halaman
download

3 Tanggapan to “Sang Pembelajar”

  1. uni Says:

    Wow dah kumplit bgt reviewnya, terimakasih sahabat, atas reviewnya yg begitu padat ^^

  2. lista de email Says:

    nice website. very cool content. thank you!!!


بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: