Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi Meninggal

Kemarin, Kamis, 21 Maret 3013 M – 9 Jumadil Akhir 1434 H seorang ulama besar muslim kelahiran Turki berkebangsaan Syiria,  Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi telah meninggal dunia. Rasa sedih yang  mendalam saya rasakan, satu-satu para ulama besar meninggal dunia. Padahal, regenerasi ulama termasuk salah satu yang paling sulit dilakukan.

Beliau meninggal saat mengajar dan penyebab kematianya karena bom bunuh diri (entah dari pihak mana), dua puluh orang lainya ikut meninggal bersama beliau (dari berbagai sumber).

Muhammad-Said-Ramadhan-Al-Buthi-Crop

sumber gambar : http://www.hasanalbanna.com/harokah/wp-content/uploads/2012/02/Muhammad-Said-Ramadhan-Al-Buthi-Crop.jpg

Seperti yang saya tulis diatas bahwa kaderisasi ulama sangat susah, ketika seorang ulama (sebetulnya kalimat yang pas adalah ‘alim’, ulama adalah bentuk jama/plural dari alim) meninggal belum tentu ada pengganti yang kredibilitas dan kafasitasnya sama dengan ulama yang meninggal tersebut. berbeda dengan pejabat, belum sampai pada akhir masa jabatan calon pengganti sudah berjubel, antri bahkan dengan cara kurang bersih.

Walaupun Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi telah meninggal dunia dan belum tentu ada kader baru (murid beliau banyak jumlahnya dan tersebar diseluruh dunia) yang bisa mengisi kekosongan yang beliau tinggalkan, ternyata beliau telah meninggalkan bentuk kaderisasi lain yaitu berupa tulisan.

Ada banyak buku yang beliau tulis, satu diantaranya yang saya miliki (sudah saya baca tahun 2009 tapi baru saya beli awal bulan kemarin di Islamic Book Fair) adalah Fiqih Siroh. Mudah-mudahan buku yang beliau tinggalakan bisa menjadi media perpindahan/pewarisan ilmu antar generasi. Sebab, salah satu tanda kiamat adalah lenyapnya ilmu yang ditandai dengan  meninggalnya para ulama.

IMG0103A

Jadi, tidak masalah para ulama itu meninggal, sebab kematian adalah keniscayaan. Tidak bisa dimajukan atau dimundurkan barang sedetik. Sebab bagi kematian hanyalah sebab, tapi waktu kematian adalah limit yang sudah digariskan Allah swt untuk hamba-hambanya.

Yang jadi masalah adalah kita yang masih hidup. Mampu dan mau kah kita meneladani dan meneruskan perjuangan mereka? bahkan, kalu bisa menempati posisi kosong yang mereka tinggalkan. Jika bisa, Al-hamdulillah. Jika, tidak bisa, maka didiklah anak, cucu, saudara, murid atau siapapun untuk bisa menjadi ulama.

Ada banyak cara, jika anda pendidik/alim, didiklah mereka. Jika Anda pedagang,  biayai (kasih beasiswa) anak-anak muslim yang cerdas untuk belajar dan menjadi ulama. Jika Anda Pejabat, buatlah kebijakan yang bisa menciptakan generasi qurani dan berilmu, bisa dengan  membuka hubungan dengan universitas-universitas islam diseluruh dunia. jika Anda seorang papa/miskin, jangan berkecil hati doa Anda tidak ada penghalang dengan Allah Swt. berdoalah agar Allah Swt. menjadikan salah satu dari anak cucu, keluarga, tetangga, kabilah, kaum, bangsa Anda generasi islami, generasi qurani, generasi yang berilmu agar Islam tetap tegak.

Saya, secara pribadi insya Allah telah memulainya, dengan mengarahkan dan membantu saudara dan anak didik saya untuk melanjutkan studi mereka, walau dengan cara yang paling sederhana dan dengan dana yang ala kadarnya. Saya tidak berkecil hati, sebab Allah Swt. menilai amal kita bukan dari kuantitas semata. sabaqa alfun miata alfin, Seribu yang di shadaqahkan orang miskin (yang untuk makan saja susah) bisa jadi lebih berharga disisi Allah Swt. daripada seratus ribu yang diberikan oleh seorang konglomerat yang sudah kelebihan harta.

Kembali, ke Syeikh Muhammad Said ramadhan Al-Buthi, terlepas pro kontra tentang gagasan, ide, opini, pernyataan, ungkapan, fatwa atau apapun tentang beliau, saya berdoa semoga Allah Swt. menerima semua amal kebaikan beliau dan membalasnya dengan berlipat ganda, saya berdoa semoga Allah Swt. mengampuni semua dosa beliau selama hidup di dunia. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu.

********************************************************

Tambahan : Dari situs Islamedia

Mengapa Syeikh Al Buthi dibunuh ?

3/23/2013 11:38:00 AM | Posted by Ulee CWG

Islamedia – Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthi dilahirkan di kampong Gelika pulau Buthan wilayah Kurdistan, Turki tahun 1929, 5 tahun setelah khilafah Utsmani dibubarkan oleh Attaruk. Ayahnya bernama Syaikh Mala Ramadhan Al Buthi, seorang alim, takwa, dan memiliki keluasan ilmu.
Hanya 4 tahun Al Buthi tinggal di kampong kelahirannya. Hingga tahun 1933 ia hijrah dibawa ayahnya ke Suriah, akibat maraknya tindakan pembersihan ulama-ulama Islam oleh Attaturk. Keluarga Al Buthi menetap di kampong ‘Ain Dewar, dekat perbatasan Turki-Suriah. Akhirnya, kampung inilah yang ditulis di akte lahir Al Buthi dan adik-adiknya.
Al Buthi mengenyam pendidikan hingga Doktor di Al Azhar. Lulus dari Sekolah Agama Islam kesohor Ma’had At Taujih Al Islami di Damaskus yang dipimpin oleh Syaikh Hasan Habannakah Al Maidani. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah Universitas Al Azhar tahun 1953 dan berhasil meraih gelar ‘Alamiyah (Syaikh) tahun 1955.
Setelah itu kembali ke kota Homs tahun 1958 dan menetap hingga 1961, menjadi guru di beberapa Sekolah Islam, hingga ditunjuk menjadi dosen pembantu di Fakultas Syariah Universitas Damaskus. Kemudian Al Buthi dikirim untuk mengambil program Doktor dan meraihnya tahun 1965. Tak lama kemudian ia ditunjuk menjadi dosen penuh di fakultas Syariah, hingga menjadi Dekan.
Al Buthi memiliki banyak karya ilmiah. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Termasuk bahasa Indonesia. Salah satunya yang masyhur: Sirah Nabawiyah.
Al Buthi dan Hafizh Al Assad 
Sepulangnya dari menimba ilmu di Al Azhar, Syaikh Al Buthi bekerja menjadi guru PNS di sekolah-sekolah milik pemerintah. Setelah itu diangkat menjadi dosen resmi di Universitas Damaskus.
Ketika Hafizh Al Assad berkuasa tahun 1970, artinya jarak antara Al Buthi lulus dari Al Azhar dan Hafizh Al Assad berkuasa sekitar 16 tahun. Hubungan Al Assad dengan Al Buthi tentu belum terjalin. Al Buthi seorang dosen, sedangkan Al Assad menjadi Presiden Suriah.
Hingga pada tanggal 16 Juni 1979, terjadi peristiwa “pembantaian Sekolah Altileri Darat di Aleppo (300 km dari Damaskus)”. Sekolah militer tersebut terletak di wilayah Romusa dekat kota Aleppo sebelah utara Suriah. Pembantaian dilakukan oleh Kapten Ibrahim Yusuf, perwira di bagian Bintal sekolah Altileri dibantu oleh Front Tempur jamaah Ikhwanul Muslimin, sebagai aksi pembalasan atas tindakan represif rezim yang salah satu komandannya adalah Hafizh Al Assad. Peristiwa tersebut menewaskan 32 Taruna dan 54 luka-luka.
Usai peristiwa tersebut, kementrian Informasi meminta Syaikh Muhammad Ramadhan Al Buthi untuk mengeluarkan fatwa syariah tentang pembantaian. Al Buthi meresponsnya dengan mengungkapkan dalil-dalil syariat yang mengharamkan aksi pembantaian.
Tak lama berselang, kesempatan Al Buthi menuju jalan istana terbuka. Tak disangka, setelah tampil di media hubungan Al Buthi dengan Hafizh Al Assad terbuka. Hingga pada tahuna 1982, Kementrian Wakaf Suriah (Kemenag) yang diwakili menterinya bernama Muhammad Al Khathib mengundang Al Buthi untuk menjadi pembicara tunggal dalam acara Festival Menyambut Abad 15 H.
Acara tersebut dihadiri oleh Presiden Hafizh Al Assad. Al Buthi memanfaatkannya untuk menyampaikan nasihat dan doa bagi Hafizh Al Assad.
Hubungan Al Buthi dengan Al Assad semakin intens. Bahkan Al Assad suka mengajak Al Buthi ke istana, berdialog hingga berjam-jam (6-7 jam), membicarakan banyak hal. Saya sempat menjadi saksi sejarah, saat 1998 berkunjung ke Suriah menyaksikan Islamic Book Fair di Damaskus ke-14, Al Buthi benar-benar dicintai rakyat dan penguasa. Tentu ada juga yang mengkritisi sikap Al Buthi, salah satunya Syaikh Usamah As Sayyid yang menulis buku bantahan terhadap pemikiran Al Buthi berjudul, “Ar Raddu Al ‘Ilmi ‘Alal Buthi”.
Mengapa Al Buthi Bersikap Manis dengan Rezim Al Assad?
Banyak tuduhan yang terlontar terhadap ‘Allamah Al Buthi. Salah satunya yang menuduh beliau sebagai mucikari, muftin (penebar fitnah), hingga pengawal setia rezim Al Assad. Bagi kita yang hidup jauh dan tidak mengalami –atau malah mencermati prahara dan tekanan politik di era 60an hingga 80-an, maka pasti akan berkesimpulan seperti di atas. Namun jika kita mau sedikit bijak, maka sikap Al Buthi itu sangat sah dan dibenarkan syariat.
Di antara landasan Al Buthi membuka dialog dengan Rezim Al Assad adalah:
1. Hubungan gerakan Islam yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimin di pelbagai Negara Arab, tengah berada di titik nadir. Tindakan represif rezim-rezim dunia Arab, dari mulai Maroko hingga Teluk, Mesir hingga Syam tengah marak. Bahkan terbukti, tindakan Hafizh Al Assad yang membumihanguskan provinsi Homs dan membunuh seluruh penduduknya yang mendukung gerakan IM, tercatat sejarah sebagai hubungan kelam antara penguasa dan jamaah IM.
2. Al Buthi memandang, rezim Al Assad dari ayah hingga anaknya Basyar Al Assad, sangat kuat dipengaruhi sekte Syi’ah Rafidhah yang cenderung membumihanguskan Muslim Sunni, seperti yang terjadi di Iran-Iraq. Perlu diperhatikan, Hafizh Al Assad naik tahta seiring dengan maraknya revolusi Khumaini yang puncaknya terjadi tahun 1979. Al Buthi memiliki komitmen, untuk menyelamatkan entitas Muslim Sunni di Suriah.
3. Tindakan represif Al Assad bukan hanya pada gerakan perlawanan secara fisik, namun juga mengarah pada non fisik. Di era Hafizh Al Assad, pengajian-majlis taklim-dan perkumpulan di atas 3 orang bukan hanya tidak diizinkan, tapi akan dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan. Jika pun ada, yang berlaku adalah pengadilan militer. Hingga banyak gerakan-gerakan Islam yang memilih jalan dakwah dengan gerakan Sufi, yang berkumpul di masjid dan berdzikir ratusan ribu kali sembari berjingkrak-jingkrak. Saya pernah mengalami itu di salah satu masjid di Manbej, salah satu kabupaten di wilayah Aleppo. Jelas, selain majlis taklim dilarang, maka penerbitan buku-buku Islam dibatasi.
Hasil Nasihat Al Buthi 
Usaha Al Buthi untuk menasihati penguasa berbuah di tataran nyata. Tentu dengan pengorbanan tak sedikit, salah satunya, Al Buthi dituduh tutup mata dengan tindakan Al Assad. Di antara hasilnya adalah:
1. Al Buthi pernah diundang selama 7 jam, berdialog dengan Hafizh Al Assad. Al Buthi lebih banyak menyimak curhatan Al Assad, hingga akhirnya Al Buthi menyarankan Hafizh Al Assad untuk membebaskan tokoh-tokoh dan tawanan politik dari Jamaah Ikhwanul Muslimin. Rentang beberapa minggu kemudian, para tapol IM dibebaskan.
2. Saya memprediksi, kesediaan Al Assad untuk membuka Suriah bagi para pengungsi Palestina setelah peristiwa Pembantaian Shabra dan Syatila terjadi pada September 1982, di Beirut, Lebanon, yang saat itu diduduki oleh Israel adalah hasil dari nasihat yang diberikan oleh Al Buthi. Bahkan Suriah membuka diri kepada HAMAS untuk membuka satus-satunya kantor Perwakilan HAMAS. (Saat itu, tidak ada satu pun negara Arab yang mau menerima HAMAS untuk membuka markas di luar Palestina – redaksi)
3. Penerbitan buku-buku Islam Sunni termasuk Al Qur’an, sangat digalakkan. Bahkan saat saya mengunjungi toko-toko buku di Suriah, penerbit-penerbit Suriah sukses menjadi penerbit-penerbit buku Islam terkemuka hingga di Mesir. Beberapa penerbit di Mesir, malah justru dimiliki orang-orang Suriah.
Termasuk maraknya majlis-majlis taklim di Damaskus yang didukung penguasa Al Assad, semisal: Kajian Hadits Bukhari oleh Syaikh Musthafa Dib Al Bugha, Kajian Fiqh dan Syariah oleh Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Kajian Sirah Nabawiyah oleh Al Buthi, hingga kajian dan Kuliah Singkat di Mujamma’ Abun Nur Al Islamy yang dipimpin oleh Syaikh Kaftaro. Dimana kurang lebih ada 25 orang mahasiswa/i Indonesia yang turut menikmati pendidikan di sekolah-sekolah tersebut.
4. Hafizh Al Assad sebelum wafatnya, mengundang Al Buthi ke kediamannya. Ia berpesan agar saat wafat, Al Buthi sukahati menjadi imam. Al Buthi pun menunaikan pesan Al Assad. Hingga peran ini, banyak yang berpendapat, Hafizh Al Assad telah melunak dari paham Syi’ah Rafidhah-nya. Dan terbukti, dukungan Suriah terhadap Libanon melawan Israel semakin menguat.
Al Buthi dan Basyar Al Assad
Hubungan manis Al Buthi dengan rezim Al Assad, berlanjut hingga kekuasaan Suriah berpindah kepada Basyar Al Assad. Singkat kata, hingga menjelang demonstrasi yang mengakibatkan revolusi dan perlawanan senjata, Al Buthi telah menjalankan fungsinya sebagai penasihat utama rezim Al Assad.
Al Buthi bersama rombongan ulama Sunni, mendatangi Al Assad dan menuntut beberapa hal:
1. Al Assad membuka diri bagi tuntutan reformasi. Hal ini disanggupi Al Assad dengan melakukan perubahan birokrasi, mengubah menteri di 6 kementrian, dan memecat Perdana Menteri.
2. Al Assad diminta untuk tidak menggunakan tindakan represif. Al Assad menyanggupi, asalkan demonstrasi anti dirinya dihentikan.
Namun mengapa Al Assad mengajukan sebuah dokumen kepada Al Buthi, bahwa pihak demonstran telah disusupi anasir-anasir Wahabi yang didukung oleh Saudi Arabia, yang justru didukung oleh AS-Barat. Di sini kembali harus bijak dalam bersikap. Dalam benak Al Buthi, kesatuan rakyat Suriah lebih diutamakan. Maka dalam pelbagai khutbah Jumat, Al Buthi menyerukan persatuan dan kesatuan itu. Al Buthi ingin memahamkan kepada semua elemen termasuk jamaah Ikhwanul Muslimin, di awal-awal demonstrasi untuk menahan diri. Karena demonstrasi dan revolusi sudah ditunggangi. Tak ada yang mengambil manfaat dari kisruh Suriah, kecuali Israel. Bahkan di salah satu khutbahnya, Al Buthi mengungkapkan hadits shahih tentang keharusan taat kepada pemimpin (amir), terlepas pemimpin itu baik atau jahat, saking pentingnya persatuan dan kesatuan serta stabilitas.
Hadits-hadits yang disampaikan Al Buthi, adalah hadits-hadits yang digunakan oleh rezim Al Sa’ud di Saudi Arabia, rezim Al Nihyan di UAE, atau Al Khalifah di Qatar, dan lain-lain. Sebaiknya kita tengok tanggal dan waktu kapan Al Buthi menyampaikan khutbah, selain kita pun harus mendengar khutbah tersebut harus utuh, tidak sepotong-sepotong.
Mengapa Al Buthi Dibunuh?
Peristiwa di Masjid Al Iman, tempat pengajian Al Buthi kemarin (22/3/13) sangat tidak masuk akal. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut:
1. Sejak lama, Al Buthi dikelilingi pengawal dari militer Al Assad. Kemanapun Al Buthi pergi, maka puluhan pengawal dan intel, memenuhi setiap langkah Al Buthi. Al Assad frustasi dengan semakin banyaknya pejabat-pejabat (termasuk Menhan) yang membelot ke pejuang Suriah. Al Buthi dikhawatirkan membelot. Bahkan saksi mata mengatakan, bahwa masjid sudah dikepung dari empat penjuru.
2. Melihat TKP, ledakan bom dilakukan jauh dari area masjid. Sedangkan di masjid, yang terjadi bukan ledakan tapi penembakan dan pembantaian. Pihak intelejen Al Assad, langsung datang melakukan pembersihan dan mengangkut seluruh mayat -termasuk korban jamaah yang terluka- ke tempat yang Al Assad dan intelejen yang mengetahuinya.
3. Dari sejak perjuangan melawan Al Assad digelorakan, Front Pembebasan Suriah sudah bersepakat tidak menyerang ulama-masjid-tempat ibadat- bahkan para pejuang memiliki etika untuk tidak melakukan serangan kecuali setelah pukul 10 malam hari.
Pertanyaannya, mengapa Al Buthi dibunuh? Menarik analisa Samir Muhsin, seorang pemerhati pergerakan Islam yang mengemukakan alasan-alasan dibunuh:
1. Al Buthi adalah khaatimus sirri (penutup rahasia), pemegang kartu truf rezim Al Assad. Karena Al Buthi lama menjadi nasihat Hafizh Al Assad. Ketika Al Buthi membelot, maka Al Assad khawatir segala aib dirinya terbongkar. Termasuk membongkar pelbagai kebijakan Al Assad yang berdamai dengan Israel, risywah, korupsi, dan pembantaian.
2. Al Buthi paham betul tokoh-tokoh yang berbaju ulama, tapi memiliki rencana busuk untuk menghancurkan kaum Sunni di Syam.
3. Al Buthi dijadikan alat oleh Al Assad untuk meraih simpati dari kalangan Sunni, untuk digunakan sebagai propaganda memecah belah kesatuan Front Pembebasan Suriah yang semakin hari semakin banyak menuai sukses.
4. Al Buthi dijadikan “maf’ul bih” dan “maf’ul liajlih” maksudnya: sinyal bahwa siapapun yang melawan Al Assad akan dibantai, termasuk orang terdekat sekalipun.
5. Al Assad melempar 2 burung dengan 1 batu. Maksudnya, mengorbankan Al Buthi agar rakyat Suriah -terutama Sunni- antipati terhadap para pejuang Front Pembebasan Suriah.
Keadaan Masjid Al Iman, lokasi gugur Syeikh Al Buthy
Kesimpulan
Saya yang sempat beberapa kali menghadiri taklim beliau, sangat yakin akan ketulusan, keikhlasan, dan muruah yang dimiliki Syaikh Al Buthi. Bahkan saya mendengar, Al Buthi tidak mengambil royalty dari buku-buku yang diterbitkan. Selain berwasiat untuk menginfakkannya di jalan Allah. Termasuk buku-buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sebagai orang yang dekat dengan kekuasaan, Al Buthi jauh dari kata borju atau memperkaya diri. Hal ini dilatarbelakangi oleh keadaan beliau sejak kecil hidup susah.
Adapun sikap beliau yang mendukung penguasa, bagi saya sangat lumrah dan masuk akal:
1. Beliau adalah salah satu saksi sejarah atas tindakan represif Attaturk di Turki yang membantai para ulama, menghancurkan masjid, memupus B. Arab. Hingga ia dan seluruh keluarganya memilih berhijrah ke Suriah. Pengalaman pahit tindakan bengis penguasa ini, tak akan bisa dihapus. Maka sikap beliau yang memilih loyal kepada pemerintah, dipahami sebagai “dakwah” untuk menjaga generasi muda Islam dan alim ulama dari pembantaian rezim Al Assad.
2. Beliau memiliki alasan yang didukung Al Qur’an dan Sunnah tentang kewajiban taat kepada pemimpin, karena beliau melihat dan merasakan, hampir tak ada pemimpin Arab yang peduli terhadap Islam selain Raja Faisal. Seluruh pemimpin Negara Arab adalah pemimpin dictator. Ingat, Al Buthi hidup di 5 generasi. Mulai generasi Raja Faruq di Mesir hingga Muursi. Dari generasi Syah Iran-Khumaeni-hingga Ahmadinejad. Beliau paham betul, kepedihan dari praktik zhalim penguasa terhadap para ulama dan aktivis gerakan Islam di seluruh negeri Arab. Oleh karena itu, beliau masuk ke dalam lingkaran kekuasaan dalam rangka menasihati, tidak lebih.
3. Sebagai alim dan mujtahid, saya meyakini, apa yang beliau lakukan dengan mendukung rezim penguasa adalah bagian dari ijtihad. Jika salah mendapatkan 1 pahala, dan jika benar mendapatkan dua pahala. Saya yakin beliau adalah sosok terbaik. Bila ada kekurangan, saya meyakini kekurangan atau khilaf adalah hal yang lumrah dari manusia. Namun kekurangan yang sedikit, tidak boleh membuat kita mencaci maki. Terlebih yang mencaci maki hanyalah bau kencur yang tak memiliki karya, amal shalih, hingga pengalaman hidup setinggi beliau.
Wallahu A’lam
Nandang Burhanuddin, Lc

sumber : http://www.islamedia.web.id/2013/03/mengapa-syeikh-al-buthi-dibunuh.html

Anda bisa menambah wawasan seputar beliau dengan link lainnya:

http://www.islamedia.web.id/2013/03/curahan-hati-syeikh-al-buthy-yang.html

http://www.islamedia.web.id/2013/03/inilah-10-karya-paling-populer-syaikh.html

2 Tanggapan to “Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi Meninggal”

  1. ayya Says:

    buku siroh nabawiyah yg ditulis beliau begitu inspiratif, memotivasi..

    • arhsa Says:

      Ya, sangat inspiratif.
      Berikut ini beberapa petikan dari kitab tersebut:
      1. Proses penulisan (karya tulis) yang pertama kali dilakukan pada masa Rasulullah Saw. adalah penulisan Sirah Nabawiyah (sejarah kehidupan Rasulullah). Dari sini, kemudian berkembang ke gerakan penulisan sejarah jazirah arab, jadi sejarah jazirah arab ditulis setelah sirah nabawiyah (dan Hadits).
      2. Metodologi penulisan Sirah nabawiyah dan hadits adalah metodologi kajian/penulisan paling ilmiah dan fundamental, tidak ada yang menyamainya di belahan dunia manapun. (ada studi teks/matan, ada studi rawi, jarh wa ta’dil, klasifikasi derajat hadits, asbabul wurud, -qawaid musthalah hadits- dll.).
      3. Sirah nabawiyah dan hadits adalah dua kunci untuk memahami Al-Qur`an sekaligus panduan untuk mengamankan apa yang ada di dalamnya.
      4. Penulisan Hadits sudah dilaksanakan pada masa Rasulullah Saw. dengan izin beliau bahkan dengan perintah beliau, setelah meyakini bahwa para sahabat sudah mampu membedakan antara bentuk ayat-ayat al-`uran yang mu’jaz (أسلوب القران المعجز) dan bentuk redaksi hadits yang baligh (أسلوب الحديث البليغ). jadi, kalau ada yang mengklaim bahwa hadits belum ditulis pada masa Rasulullah maka tertolak. dan penulisan hadits ini setelah penulisan Al-Qur`an berjalan.
      5. Sirah nabawiyah adalah disiplin ilmu yang ditulis dalam bentuk buku (bukan lisan) setelah penulisan al-quran dan hadits. tapi tulisan-tulisan asli mereka tidak sampai kepada kita karena rusak dimakan zaman, hanya terdapat dalam kitab-kitab para ulama diantaranya dalan At-Thabary.

      dan masih banyak hal lainnya
      (halaman 1-10)


بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: