Mengembalikan Tradisi Keilmuan

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) [العلق/1-5]

        Ayat pertama yang Allah Swt. turunkan adalah perintah untuk membaca, Iqra. Baik ayat Qauliyah maupun Kauniyah.  Dalam perintah ini terkandung banyak maksud. Yang paling jelas adalah kemampuan manusia untuk terus meningkatkan diri. Artinya, ketika Allah Swt.    memerintahkan manusia untuk membaca, maka dalam diri manusia telah tersedia perangkat-perangkat yang mendukung tercapainya hasil bacaan berupa pengetahuan.

     Manusia memiliki media input berupa pendengaran (as-sam’u), penglihatan (al-bashoru) dan hati nurani (al-Fuaadu). Perpaduan  seimbang antara ketiga peringkat ini melahirkan Ma’rifatullah yang hasilnya adalah Al-Hidayah. Terbukti kemudian bahwa manusia memiliki memori kompleks berupa otak yang belum ada tandingannya.

( وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل : 78)

“Dan Allah Swt.  mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”  (An-Nahl 78)

            Setelah membaca adalah menulis,  Alladzi ‘allama bil-qolam.  Karena menulis berarti menyimpan apa yang telah dibaca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja (dua arah). Dengan tulisan, kita bisa mengajari, menyebarkan ide, melontarkan gagasan, menyampaikan kritikan atau hanya sekedar memberi tanggapan.

            Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Membaca tanpa menulis berarti membiarkan apa yang ada di dalam otak tidak tereksplorasi dengan sempurna. Sebaliknya menulis tanpa membaca berarti menyampaikan sesuatu tanpa dasar yang valid dan autentik, pada waktu tertentu akan menyebabkan suatu kekeliruan fatal.  Amanah Ilmiah adalah suatu keniscayaan.

Masa Kejayaan Umat Islam

            Bila melihat latar belakang budaya,  Bangsa Arab adalah sebuah bangsa yang terbelakang. Norma seakan tidak ada. Hukum rimba adalah satu-satunya pijakan. Sehingga yang kuat semakin kuat untuk kemudian memakan yang lemah, yang lemah semakin tak berdaya dan menjadi mangsa. Begitu pula fenomena agama pagan yang sudah mendarah daging. Tuhan (dalam persepsi mereka) menjelma menjadi arca dan patung yang bahkan mereka buat sendiri dari  batu, kayu bahkan dari roti, bila mereka lapar, tuhan pun dikonsumsi. Sungguh kerancuan beragama yang teramat akut.

         Akan tetapi, dunia kemudian tercengang. Romawi dan Persia tak mampu bicara, apalagi Yunani yang hampir binasa dari percaturan peradaban dunia. Bangsa Arab yang dalam kacamata seluruh penghuni bumi tidak termasuk nominasi untuk menguasai peradaban, karena memang tidak memiliki faktor-faktor utama yang bisa di jadikan barometer majunya sebuah bangsa, ternyata justru menjadi tuan yang diakui oleh barat dan timur.

            Keajaiban apa yang merubah mereka secara fantastis dan fenomenal? Jawabannya ternyata hanya satu yaitu  Islam. Islam mendorong mereka untuk maju.  mendidik  mereka untuk berfikir kritis.  mengajak mereka untuk membaca dan menulis. Mengkaji dan terus memahami.  Pola berfikir kritis inilah yang  membuat mereka  menghasilkan karya-karya baru dalam berbagai bidang.

            Hasil dari itu semua adalah terciptanya Peradaban Islam yang gemilang. Melampaui bangsa-bangsa lain yang sezaman. Khilafah Rasyidah, Umawiyyah, Abbasiyyah dan Andalusia adalah bukti nyata kemajuan yang dicapai kaum muslimin.

           Bila kita baca sejarah, akan kita dapati pakar-pakar keilmauan mayoritas adalah ulama-ulama muslim. Kedokteran, geografi, oftik, kartografi, farmasi, kimia, astronomi, matematika, dan yang lainnya. Patut untuk di banggakan, ketika Eropa di abad pertengahan hanya memiliki seorang jenius bernama Leonardo da Vinci yang mumpuni dalam beberapa bidang keilmuan, ternyata kaum muslimin memiliki puluhan tokoh  yang memiliki multiple intelligence.

         Sebagai contoh, kejeniusan Ibnu Sina di bidang kedokteran menghasilkan karya menumental Al-Qanun Fi Ath-Thibbi, pernah menjadi referensi kedokteran utama di universitas-universitas Eropa abad pertengahan selama hampir enam abad..

        Ibnu Rusyd yang faham dengan sangat baik filsafat Yunani, sehingga mampu memberikan koreksi dan catatan kaki atas kekeliruan yang ada di dalam buku mereka  ternyata juga seorang Hakim di Andalusia (Spanyol) dan sekaligus seorang faqih yang dari tangannya terlahir Bidayatul-mujtahid, sebuah rujukan perbandingan madzhab dalam ilmu fiqih yang sampai sekarang tetap di perhitungkan.

       Tokoh lain yang tidak kalah masyhur diantaranya: Al-Khawarizmi pencipta Al-Jabar (ilmu ukur) yang fenomenal, Al-Haitsam penemu Kamera Analog (kamar gelap), Al-Idrisi bapak kartografi dari Pulau Sisilia. Bahkan Galileo yang terkenal dengan teleskopnya ternyata terdahului oleh ulama-ulama di Baghdad yang telah lebih dulu menciptakan observatorium untuk mengamati pergerakan dan fenomena bintang- bintang. Al-kohol, al-kalin, sinus, kosinus, tangent, azimuth dan istilah-istilah lain lahir dari rahim keilmuan  kaum muslimin.

          Begitu pula di bidang fiqih, hadits, tafsir, ilmu kalam, dan  tarikh peletak dasarnya adalah  kaum muslimin. Itu semua ada karena mereka memegang teguh Tradisi Keilmuan yang terkonsentrasi pada dua hal yaitu membaca dan menulis.

 

Masa Kemunduran

         Prinsip perputaran roda sepertinya mengenai kaum muslimin dengan telak. Karena ternyata mengejar untuk mencapai suatu prestasi itu amat sulit, akan tetapi  mempertahankan prestasi itu untuk tetap ada dalam genggaman ternyata lebih sulit. Karena kompetisi ada dalam segala bidang. Maka ketika perasaan bahwa prestasi itu telah di capai, menyebabkan ketidak hati-hatian sehingga akibatnya peradaban besar yang telah dicapai itu, memudar bahkan kemudian sirna. Dan kaum muslimin kemudian menjadi penonton yang dalam banyak kasus justru menjadi pembeo dan pangsa pasar yang membeli barang milik mereka, berasal dari mereka dan di tempat mereka, dengan kualitas yang berbeda. Hal itu tidak terlepas dari dua factor utama yaitu Internal dan Eksternal.

        Factor internal adalah melemahnya semangat kaum muslimin untuk tetap memelihara Tradisi Keilmuan (membaca dan menulis) karena melihat prestasi gemilang yang telah dicapai. Adapun factor eksternal sanga banyak jumlahnya. Namun di sini kita kerucutkan menjadi beberapa hal pokok yang substansial. Pertama,  Jatuhnya Bagdad ditangan Hulagu khan yang menyebabkan berakhirnya kekuasaan Abbasiyah. Kedua, Perang Salib dan Pengusiran kaum muslimin dari Andalusia. Setelah sekitar tujuh abad  Granada, Toledo dan  Sevila menjadi pusat peradaban Islam. Ketiga, Imperialisme bangsa Eropa yang membawa berbagai misi dan aktifitasnya, ekspansi, zending, orientalisme, Westernisasi dan factor eksternal lainnya.

Masa kebangkitan kembali (An-Nahdhoh)

            Fenomena ini telah membangunkan dan menyadarkan tokoh-tokoh islam dari tidur panjang. Maka kebangkitan pun dimulai dengan berbagai bentuknya. Syiekh Muhammad bin Abdul Wahab merenovasi sisi akidah. Syeikh Jamaludin al-Afghani mengambil sisi pemikiran yang kemudian di lanjutkan secara estafet oleh Syeikh Muhammad Abduh dan Syeikh rasyid Ridha. Kemudian di lanjutkan oleh tokoh-tokoh selanjutnya dengan spesialisasi dalam bidang masing-masing.

            Ibarat sebuah bunga yang sudah membuka kuncup tak jadi mekar karena terganggu hama. Kebangkitan ini pun di gerogoti oleh hama yang di sebabkan oleh virus-virus yang sengaja diciptakan dan di suntikan kedalam. Ahmadiyah, liberalisasi, pendangkalan akidah, inkar sunnah, inkar nabi, inkar Qur`an (hermeunetika). Bahkan di luar, telah menunggu tangan- tangan berkuku tajam yang siap merenggut dan mencampakan peradaban ini agar tercerabut dari percaturan. Kekafiran dan kemunafikan memang selalu beriringan dan bergandeng tangan.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ [البقرة/120]

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. ” (Al-Baqarah 120)

           Untuk mengcounter itu semua di perlukan pribadi-pribadi handal yang berakidah kuat, lurus dalam beribadah, berakhlak mulia dan  berwawasan luas. Itu semua tidak akan dapat di capai kecuali ketika kaum muslimin merevitalisasi tradisi keilmuan yang pernah dimiliki, berfikir kritis, selalu  membaca dan tak berhenti menulis. Perjuangan itu telah dimulai, maka kita punya tanggung jawab untuk melanjutkannya. Semoga cita-cita itu tercapai pada generasi kita, bilapun tidak, maka kita telah memberikan kontribusi (musahamah) untuk mencapainya dengan maksimal. Wallahu a’lam bishshowab.

 

Referensi :

  1. البداية والنهاية
  2. تاريخ الخلفاء
  3. Baghdad, Salah Zaimeche, Ph.D. Foundation For Science Technology and Civilisation, June 2004, Manchester, United Kingdom. www.fstc.co.uk.
  4. Islamic Contribution Toward Civilization, Haidar bammate, penerjemah: Fikri, (Kontribusi Intelektual Muslim Terhadap Peradaban Dunia.), Darul Falah,Jakarta, 2000.
  5. Republika-online.co.id.  sub judul : Khazanah Republika.

NB:

Tulisan ini pernah di muat di Buletin Figur. untuk kalangan terbatas. 

Ditulis dalam Tak Berkategori. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Mengembalikan Tradisi Keilmuan”

  1. jtxtop1 Says:

    keren mas😀 ,


بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: