PUISI, mewakili kata hati

Entah ada jiwa sastra atau tidak, yang pasti dua bulan seorang kawan mengirimi saya email, isinya membuat hati saya nelangsa , sedih, marah, gemas, dll.

Puisi ini pernah saya kirim ke Bundo Nakjadimande untuk ikut berpartisipasi di kolom mendadak  pelatihan puisi

Inilah puisi yang keluar dari hati:

-Dari ibu dan aku tentang ayah…-

Pandang memagut sejuta bayang haru
Hatiku menjerit mendengar tangisanmu
Selaksa kabut bergayut dikelopak matamu
Sejuta rasa berbaur tanpa irama tanpa nada, sendu
Tabah, sabar, sedih, haru, berbaur menyatu

Nak, ia telah pergi ke pangkuan Ilahi…
Tak kembali walau tuk sekali
Ia telah tiada tapi usah kau lara
Sedu sedanmu hanya kan sia-sia
Tak cukup kata tuk buatnya kembali ada

Kokoh tubuhnya berganti, ringkih dimakan usia
Hitam rambutnya berbaur uban menyela
Sinar matanya tetap tajam walau kian redup
Semua demi kita,… ya, demi kita, agar tetap bertahan hidup

Dua puluh empat tahun berselang
Dua puluh empat tahun yang tak mungkin diulang
Dua puluh empat tahun ia terbaring menyisakan belulang
Dua puluh empat tahun ia pergi tanpa pernah melihatmu pulang

Ia tiada namun semangatnya tetap menyala didada
Ia pergi namun mimpi-mimpinya selalu menyertai

***

Kemarin, kupulang bersiul riang
Ingin kukabarkan padamu aku tlah temukan belahan jiwaku
Namun, kau tak kujumpa…hanya bunda yang kusua
Calon mantumu, bakal ibu dari cucu yang kau rindu tak sempat kau beri restu
Tapi, aku tahu, kau pasti setuju pilihanku

Sejenak ku pergi
Mungkin hampir sepuluh menit tinggalkan monitor ini
Ku menjerit… ya, menjerit walau dihati
Air mata tak mampu kubendung, berderai tiada henti
Sesak nafasku menahan rasa
Kelu lidahku menelan luka
Berat dadaku terhimpit duka
Isak tangisku tertahan
Tak lagi mampu kutahan

Yah…
Anakmu datang ke peraduanmu
Mengumandangkan doa pada-Nya dipusaramu
Semoga Ia terima amal dan ibadahmu
Tak sempat kukecup kerutan didahimu
Tak pernah ku usap keriput ditanganmu
Tak sekalipun kusandarkan kepalaku didadamu
Kurindu bibirmu menyentuh ubun-ubun kepalaku
Ya Allah kuatkan hatiku, ampuni dosa ayah ibuku
Amin.

Garut, Rabu, 9 Des 2009

Ditulis dalam puisi. 6 Comments »

6 Tanggapan to “PUISI, mewakili kata hati”

  1. cetakbiruku Says:

    betul2 keluar dari hati nih …kata-katanya….salam kenal mas

  2. dykapede Says:

    Kunjungan dikala sore hari menunggu datangnya warna kehidupan malah hari dengan keindahan bintang bulannya, puisinya boleh disandang kalau ada kompetisi atau perlombaan, salam…

  3. dykapede Says:

    Selamat pagi…

  4. Bisnis di Rumah Says:

    Akhirnya bisa juga BW nih…
    dah lama banget ga berkunjung n mapir ke rumah saudara2 nih…

    ternyata lama ga berkunjung, aku ketinggalan nih sama kalian…
    maklum gi banyak banget kerjaan n kesibukan, jadinya jarang banget deh mw BW..

    sekarang sih dah bisa BWan tiap hari, sekaligus nyambung silaturahmi lagi nih, dah lama ga ngobrol n nyoret2 di blog orang, kangen banget rasanya hehehe…

    nyambung tali silaturahmi sekalian promo usaha baru nih…
    yah usaha kecil2an sih, cuma bisa mendapatkan keutungan yg lumayan besar juga sih ;))

    salam kenal

    bisnis oriflame online

  5. dafiDRiau Says:

    Semoga sukses pada kompetisi ini

  6. zipoer7 Says:

    Salam Takzim
    Sahabat mohon maap mau ngajak ikutan Earth Hour nanti malam, ikutan yuk kesini
    Terima kasih
    Salam Takzim Batavusqu


بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: