Dakwah, Amal yang Mesti Berbuah

Tulisan Ust. Rahmat Abdullah (Allahu Yarham) selalu enak untuk dibaca, terkadang kritik sosialnya pedas tapi tidak membuat panas, Menusuk tapi tidak menyakiti, menohok ulu hati namun tidak membuat muntah, mengiris namun tidak menguliti.

Dalam Al-A’mal ia menulis, “Banyak orang merasa telah beramal, tetapi tidak ada buah apapun yang ia petik dari amalnya, baik itu perubahan sifat, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan keterampilan beramal. Bahkan tidak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi mengira beramal baik…”

Semoga Allah merahmati Rahmat, hambanya. Sungguh ia pemilik nama yang sarat akan makna, banyak memberi makna tanpa pernah merasa bermakna. (kelak saya memberi nama anak saya Rahmat Abdullah ‘Azzam, perpaduan dua tokoh besar, perpaduan ilmu dan amal. Semoga bisa mengikuti mereka.)

Ya, amal mesti berbuah. Karena amal adalah proses dan bukan buah. Shalat adalah amal dan buahnya adalah selalu ingat kepada Allah swt. dimanapun dan kapanpun, sehingga shalat yang dilakukan akan mencegah pelakunya dari perilaku keji dan munkar. ”Dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (Thaha: 14)” Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ankabut: 45)

Jika kemudian shalat terus maksiat jalan (STMJ), maka jangan salahkan shalat (sebagai amal). Akan tetapi, tanya shalat seperti apa yang telah dikerjakan? Sempurnakah syarat dan rukunnya? Dengan ilmukah melaksanakannya? Ataukah hanya sekedar menggugurkan kewajiban agar tidak terkena delik Tarkus-Shalah. Maka jangan heran bila hukum ciptaan manusia selalu dilanggar, karena ketentuan Tuhan saja masih diabaikan. Perintah shalat sudah diamandemen menjadi lima kali saja, apakah kita masih mau mengajukan hak angket? Tuhan pemberi intruksi bukan penerima interupsi.

Zakat adalah amal. Buahnya adalah kepekaan sosial terhadap sesama dan kemudian menghasilkan buah lain yaitu terselesaikannya problematika masyarakat, kemiskinan, pengangguran dan menghilangkan kriminalitas.

Haji adalah amal. Buahnya adalah kesadaran bahwa kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Harta dan kedudukan hanya sementara dan akan ditinggalkan saat nafas berakhir, saat muka mencium liang lahat yang sempit. Saat berkumpul di padang Arafah, saat itu pula diingatkan bahwa akan ada perkumpulan akbar yang dihadiri semua manusia, saat kita ditanya tentang semua kenikmatan yang kita dapatkan, darimana dan digunakan untuk apa?

Setelah haji usai, harta dan dunia terlihat begitu kecil tak bermakna. Saat kembali dari haji, usahlah mengulang haji itu sampai sekian kali. Rasulullah saw. Hanya melaksanakannya sekali saja, padahal ada banyak waktu yang bisa beliau gunakan. Ada banyak hal yang bisa dilakuakan dengan kelebihan harta yang dimiliki, menyapa para janda, mengusap kepala anak yatim, membantu mereka yang diputus kerja. Sederhanaya, pastikan apakah tetangga disekitar merasakan apa yang kita rasa? Minimal, apakah dapur mereka mengepul? Tak hanya itu, buka periuknya, bisa jadi hanya ada batu yang direbus untuk menghentikan jerit tangis dan perih perut anak-anak mereka yang kelaparan. Ini adalah kenyataan yang betul-betul terjadi bukan sekedar dongeng.

Inilah amal, inilah buah amal. Riya, sum’ah dan saudaranya yang lain akan selalu mengekor dan membuntuti, tapi hati yang tanpa jelaga (meminjam istilah Ust. Rahmat) akan membuat semuanya sirna.

Dakwah adalah amal, buahnya begitu banyak. Dua puluh tahun kebelakang adalah saksi bahwa dua puluh tahun kemudian buah dakwah itu ranum, sebagian telah dipetik dan sebagian lain menunggu waktu. Buah itu begitu nyata, karena amal telah ditanam sekian lama. Hama demi hama telah dibasmi tanpa insektisida. Lalat, ulat bahkan bangsat-bangsat keparat.

Ada kekhawatiran bila buah-buah amal yang menunggu waktu untuk dipetik justru dimangsa hama varian baru karena antibody yang melemah. Atau buah itu ranum dan diambil monyet karena para pelaku amal tengah asyik masyuk membeli buah instan di mall-mall. Atau bisa jadi buah itu ranum dipohon kemudian jatuh membusuk tak sempat dipanen karena estafeta amal terputus, penerusnya tak sempat menyiram, merawat dan memupuk, bahkan untuk memetik dan memanen buah yang teramat ranumpun tidak sempat. Sungguh sayang.

Dakwah ini amal, maka akan selalu ada yang melestarikan ditengah kekhawatiran yang mendalam. Sebab, dakwah sebagai amal mestilah berbuah. Bila sebagian orang enggan untuk menlanjutkan amal ini, enggan pula memetik buahnya, tidak masalah, akan ada para pemelihara baru yang didalam hati mereka bibit-bibit amal tumbuh dan berkecambah, bukan sekedar pemetik dan pemanen, tapi pengembang (depelover amal).

Mereka inilah yang akan men-compile dakwah dengan berbagai aplikasinya. Ibarat linux, dakwah akan menurunkan distro-distro baru yang memiliki kelebihan masing-masing, sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan akan tetapi kernel-nya tetap sama dan tidak pernah berubah.

Dakwah di parlemen (pemerintahan) adalah salah satu distro hasil para programmer dakwah yang sangat handal, turunan distro Madinah yang berhasil di-compile di Timur Tengah. Dengan berbadai plug-in dan add-in yang terinstal didalamnya, ia sekarang tengah kita gunakan disini pada saat ini.

Mari kita instal distro itu agar menghasilkan out put (buah), bukan sekedar mampu membajak software dakwah dan mengkliam sebagai programmer dakwah yang handal, saya salaf atau saya khalaf kemudian terbukti masih dalam Level Basic, sekedar untuk menggunakan Ubuntu saja kelabakan, lalu bagaimana bisa mengotak-atik Slackware dan menghasilkan distro turunan yang sesuai dengan tuntutan zaman? Ada baiknya, kita baca tutorialnya, ada di Al-Ahkam As-Shulthaniyah-nya Al-Mawardi atau As-Siyasah As-Syar’iyah-nya Ibnu taimiyah.

Hm… ternyata linux-pun bisa digunakan untuk berdakwah. Tentu saja, karena Linux anti pembajakan, seperti dakwah yang bukan untuk membajak apalagi dibajak, dakwah adalah amal yang mesti berbuah. sekali lagi, mesti.

NB. Mohon dikoreksi kata, kalimat dan istilah yang salah penempatannya.

By. arhsa@yahoo.co.id, https://arhsa.wordpress.com

Ditulis dalam Dakwah. 6 Comments »

6 Tanggapan to “Dakwah, Amal yang Mesti Berbuah”

  1. Indojobs.org Says:

    yups setuju. Zakat memang amal…

  2. My Surya Says:

    Saat ini, adalah masa untuk bertanam bibit-bibit terbaik. Lalu merawat, hingga berbuah. Wallaahu a’lam bisshawab…🙂

    *) Mohon bimbingannya sahabat, dan thanks for share

  3. online paid survey Says:

    I do not even know how I stopped up here, but I thought this submit was once
    good. I do not recognize who you are however definitely you are going to a well-known
    blogger if you happen to are not already. Cheers!

    • arhsa Says:

      Thank’s for visiting here.
      I’m just an ordinary man try to write and share my humble post
      I Hope this blog help or inspirate anyone read it.


بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: