Saat Duka Menyapa…

Sebut saja namanya Hamidah. Midah, begitu orang-orang memanggilnya. Janda tanpa anak, belum genap dua puluh empat tahun, masih teramat muda untuk menyandang gelar janda. Lahir dan  dibasarkan dipinggiran  ibukota. Pinggiran  bukan   sekedar area-X yang abu-abu dengan ancaman tergusur –untuk memperhalus ‘digusur’-, tapi betul-betul dipinggiran karena memang dipinggirkan.

Midah, sulung enam bersaudara pasangan Rahmat dan Aminah (sengaja disamarkan dengan nama-nama ini agar tidak kentara pribumi atau pendatang). Hidup bersama kedua orang tuanya dalam gubuk sederhana, teramat sederhana bila melihat disekelilingnya berdiri gedung-gedung tinggi menjulang menantang. Hidup dari mengurus dan menjual sayuran yang mereka tanam diatas sepetak tanah milik seorang kaya berhati agak dermawan, ya agak sermawan  sebab ia masih menerima seperempat dari hasil tanahnya yang tak seberapa bila disbanding segudang property yang ia miliki.

Keluarga Midah sungguh patut ditiru dan layak dicontoh. Dalam kesederhanaan -lebih tepatnya kemiskinan- hati mereka teramat kaya, taat beribadah, rutin berinfak walau hanya dengan selembar ribuan. Bahkan,  mereka masih sempat memasukkan koin-koin receh lima ratusan berwarna kuning atau putih kedalam kotak amal jariyah di musholla tempat mereka shalat dan mengaji.  Mereka sepertinya telah mendengar ucapan para ulama, “Sedekah seribu mengalahkan sedekah seratus ribu.” Seribu dari tangan si miskin papa yang amat berharga dan seratus ribu yang tiada bermakna dari orang sekaya om Bill Gate, atau bahkan mungkin mereka sama sekali tidak  tahu hal itu, hanya kepekaan sosial dan pengalaman sehari-hari mengajari mereka untuk selalu berbagi dengan saling memberi. Sungguh indah, bila semua penduduk negeri ini seperti mereka. Subhanallah.

Midah, Janda tanggung ini punya cita-cita mendirikan TK dan TPA. Ia ingin agar anak-anak disekitar tempat tinggalnya melek agama, bisa membaca dan menulis. Sungguh cita-cita besar dan  mulia jika melihat kondisinya yang serba sulit.

Tiga tahun lalu, Midah masih gadis hingga suatu hari seorang kerabatnya datang membawa kabar, seorang kenalannya ingin melamar. Satu minggu kemudian mereka  berkunjung, dua hati setuju, dua keluarga sepakat memberi restu. Hati wanita mana yang tidak bahagia akan mendapat pendamping hidup, hati Midah berbunga.

Tanggal walimah ditentukan, keluarga Midah berbenah, mereka kelabakan, darimana biaya pernikahan mereka dapatkan. Akhirnya setelah kesana kemari tanpa membawa hasil yang berarti, mereka menemui Juragan, orang kaya didaerah mereka yang terkenal sebagai Raja Riba. Dengan syarat ini dan itu sampai mulut Juragan berbusa, mereka kembali  membawa uang dua juta, mereka lega untuk sementara, satu lubang tertutupi walau sebenarnya sepuluh lubang telah tergali.

Mereka menikah, bahagia, canda tawa, seperti layaknya semua  pengantin muda yang dimabuk cinta.  Kedua orang tua Midah tersenyum, satu anggota keluarga mereka telah memasuki satu fase hidup yang dulu pernah mereka lewati.

Tak ada angin tak ada api, kemesraan itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Sang suami minggat,  meninggalkan Midah. Yang sangat menyakitkan, sang suami menyebarkan isu dan kejelekan Midah serta keluarganya (yang tidak pernah terbukti mereka lakukan) kesemua tetangga, bahkan -maaf- hubungan suami istri yang seharusnya ditutup rapat ia ceritakan tanpa sensor sama sekali, sungguh nista. Maka, pepatah Barangsiapa menabur angin akan menuai badai tidak berlaku disini. Ya, sebab badai tidak hanya menerjang penabur angin akan tetapi meluluh lantakan semua yang ada dihadapannya, bahkan seringkali penabur angin hanya duduk menonton badai yang tercipta dari angin yang ia tabur, ini sangat banyak terjadi kawan, Tsunami ditengah kota merenggut sekian nyawa yang salah  satunya sahabat dekat  Midah,  bahkan semburan Lumpur ditengah kota juga  tak kalah dahsyat dengan Elnino, Tornado dan  Katrina.

Midah mengalami depresi berat selama beberapa bulan, ia mengurung diri di dalam kamar. Berat badannya surut, semangatnya susut. Tak ada makanan masuk, hanya air minum, itupun dengan agak dipaksa. Kini, Midah hanya tinggal  tulang berbalut kulit terbaring lemah diatas tempat, tidur menunggu kematian datang menjemput atau sebaliknya menanti keajaiban.

Bila hati telah terluka susah mencari obat penawarnya, bahkan tabib handalpun bisa dibuat putus asa.  Bilapun sembuh, ada bekas luka  menganga ibarat paku yang dicabut dari papan kayu, ia tercabut namun lubang dalam bahkan berkarat menetap disana dan mustahil untuk ditautkan seperti semula. Sebegitukah bila hati tersakiti, semoga tidak harus mengalami.

Allah selalu menyayangi hambanya yang ingat kepada-Nya. Ajal sudah ditentukan waktunya, walaupun diseruduk sapi gila atau tertimpa pesawat jatuh, nyawa akan tetap diam tak pergi kemana. Sebab, ia hanya akan pergi jika sang penjemput telah tiba.

Adalah Alya, sahabat Midah saat sekolah dulu.

bersambung …

arhsa@yahoo.co.id

NB.

Jika judul yang saya tulis diatas sudah ada yang menggunakan, mohon memberi tahu agar saya ubah. trims

بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: