Anak cerdas karena ibu cerdas

Beberapa waktu lalu (entah kapan, he..) saya pernah browsing dan dapet tulisan di sebuah blog yang mengatakan bahwa dalam majalah The Lancet disebutkan bahwa kecerdasan seorang anak didapat dari ibunya (gen).

Ust. Zakaria Sirajuddin, dosen saya dari mesir sering mengatakan bahwa mencari calon istri itu ga bisa sebulan dua bulan, setahun dua tahun, apalagi sehari dua hari dapet dijalan langsung maen comot (memangnya kue) tapi mesti lima puluh tahun lamanya (beliau bahas masalah istri kalo kita dah pada payah, yang ngantuk langsung bangun dan duduk tegak , pengalaman hehe..). lho kok, lama banget, maksudnya apa dan nyarinya gimana?

ternyata mudah, lihat siapa ibunya (keluarga atau keturunannya). oo, bulat. kalo ibunya baik maka anaknya akan baik pula (ini kaidah umum lho, dan setiap yang umum pasti menerima pengecualian, jadi jangan menyanggah dulu he…maksa). yupz, anak kyai adalah didikan kyai, anak guru didikan guru, anak pencuri didikan pencuri, logis kan. tapi banyak juga ibunya jelek anaknya baik atau sebaliknya. sekali lagi ini kaidah umum.

kenapa ibu bukan bapak? ini juga logis, dengan asumsi yang mendidik anak secara langsung adalah ibu, si bapak lebih sering diluar mencari nafkah. hmmm… statemennya sudah bisa diterima kan? maklum beliau ngambilnya dari hadits Rasulullah saw. “innal ‘irqa dassas…”(upa lanjutannya, saya buka di Maktabah Syamilah belum ketemu, mungkin salah nyari) makna bebasnya bahwa keturunan itu menentukan kualitas.

kita pasti tahu dari sejarah, anak-anak para sahabat, tabiin, para ulama (yang betul-betul ulama bukan gelar yang dianugerahkan) yang dididik oleh istri-istri mereka adalah anak-anak yang subhanallah sejuk dipandang karena memiliki akhlak karimah.

nah, jadi bagi para akhwat jangan minder, mamaku biasa aja bahkan parah. eh, ga boleh gitu, durhaka. sekarang kita perbaiki diri, gampangkan, agar anak kita nanti menjadi lebih baik.

buat para ikhwan atau suami, kita (termasuk saya) jangan mentang-mentang istri yang ngurus anak, kita payah dan parah yang penting istri shalihah, nyari anak kyai habis perkara, anak shalih semua. ga bisa begitu akh! yang baik untuk yang baik dan yang jelek (akhlaknya) buat yang jelek pula. begitu kata Al-Qur`an.

kita tidak boleh lupa bahwa suami juga sangat berperan mencetak karakter istri. tada kisah nyata, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau menjadi khalifah (setara presiden sekarang), beliau preteli semua harta kekayaan yang beliau miliki, kemudian beliau menyuruh istri tercinta untuk melepas semua perhiasan dan harta miliknya. Fatimah, sang istri nolak, “ini harta milikku pemberian ayahku.” Khalifah Umar berkata, “tapi itu dari kas negara.” mereka bersitegang. Sang Khalifah mengeluarkn jurus pamungkas untuk mendidik sang istri agar memiliki karakter ibu sejati, “berikan semua harta itu untuk dikembalikan ke negara jika tidak aku menceraimu.’ alamak, buah simalakama. tapi Iman disini berperan, karakter ibu sejati yang telah terbentuk sekarang diasah dan ditantang. hm… apa guna harta, suami shalih seperti ini belum tentu ada dua dalam seribu tahun. sang istri memberikan semua harta miliknya. wow, jadi, apakah kita masih mau berjiwa kerdil tapi tetap menginginkan istri shalihah…ck…ck dzalim kita, enak dikita tapi enek disana.

hm…. so what?

the show must going on.

just begin, mari merubah diri. jangan revolusioner radikal, bertahap saja tapi kontinyu. tarbiyah dzatiyah begitu para ikhwan menyebutnya. mendidik diri untuk mengevaluasi diri, menambal kekurangan, menghiasi kelebihan, amal unggulan setiap hari, shalat berjamaah, infak walau cuma seribu perak, dua rakaat duha tak mengapa.

baca buku tentang keluarga, belajar dan terus belajar. Ayat pertama yang Allah turunkan adalah perintah untuk membaca, tinggal sesuaikan konteksnya. saya membaca buku tentang komputer karena ingin bisa, kalo anda yang mau nikah bulan depan baca buku tentang pernikahan, banyak tuh karangan mas fauzil adzim. yang dah punya momongan silahkan buku trik mendidik anak shalih atau bisa baca kiat keluarga ust. muttamimul ula yang anaknya hafizd/ah semua. subhanallah.

intinya mah (keluar bahasa sundana) harus dinamis, upgrade terus, update terus, kalo jalan kan kedepan, iya kan ibu-ibu hehe… (anggap aja yang baca ibu-ibu).

kemudian….

kita masuk keranah empirik yang dekat dengan kita (maksudnya saya). bukan masalah percaya atau tidak percaya, ilmiah ga ilmiah, tapi saya mau sedikit menuliskan pengalaman kecerdasan yang saya miliki (wuih.. ngaku-ngaku cerdas).

penasaran?…. tar deh dilanjut..

****Tulisan ini dah diperbaiki, sekarang bahasanya agak santun he… tapi afwan belum dilanjut.****

By. arhsa@yahoo.co.id

Ditulis dalam Tak Berkategori. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Anak cerdas karena ibu cerdas”

  1. atifhidayat Says:

    iya bro bener…….

    tp bagaimana menurut anda bila…

    (misalnya ada anak kiai+bu nyai tetapi anaknya kurang patut manjadi contoh…

    apa yang menjadi penyebabnya,,,,

    makasih ya…

    salam kenal jga….

    • arhsa Says:

      tujuan mencari pasangan yang baik adalah untuk menghasilkan keturunan yang baik. maka orang tua harus mempersiapkan diri untuk mendidik anaknya semaksimal mungkin. akan tetapi jika setelah orang tua berusaha maksimal dalam mendidik (sesuai ajaran Islam) kemudian anak tidak sesuai dengan yang diharapkan, tentunya hidayah hanya Allah yang tahu.
      sejarah mencatat bahwa anak Nabi Adam (Qabil), anak Nabi Nuh dan istri nabi Luth tidak layak menjadi contoh, padahal mereka hasil didikan seorang nabi, lalu bagaimana dengan level dibawah nabi?
      saya punya tulisan seputar masalah ini, Insya Allah akan saya posting.
      Jazakallah atas komentarnya, saya tunggu kunjungan antum berikutnya dan salam kenal juga.


بسم الله الرحمن الرحيم

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: