USB-ku kecebur, eh… kerendam!!!

"USB-ku kecebur" Jum’at 3 Desember 2011, di tempat saya mengajar ada pelatihan Sablon Manual dan Digital yang diadakan oleh Bamus (organisasi/kumpulan masyarakat sunda di Jakarta).

karena penasaran, saya  daftar untuk jadi peserta walau sebelumnya tidak masuk daftar karena sudah penuh. tapi, alhamdulillah kata panitia (jazakallah ya Ustadz atas kesempatan yang antum berikan) ada yang tidak hadir dan bisa jadi pengganti.

seperti biasa, senjata yang selalu saya bawa adalah pena dan buku (minimal kertas walau selembar). ada senjata baru yang telah tiga tahun telah menjadi pelengkap, flashdisk. flasdisk saya masukan saku batik. sesi kedua dilaksanakan ba’da jum’at. otomatis saya ganti pakaian, dan flashdisk tertinggal di saku baju batik.

Ahad, 5 Desember 2011, saya mau mentransfer file, mencari-cari flashdisk. tidak ketemu. tanya istri (oh iya, saya udah menikah. mohon maaf tidak mengundang blogger semua, maklum kalo mau nikah suka agak pelupa, he.. sekarang malah sudah punya anak, alhamdulillah) juga tidak tahu. Baca entri selengkapnya »

Linux Sabily Al-Badr 11.04 on My Computer

O’ Allah.
It’s amazing
I’m very happy.

I wrote this post using Linux Sabily Al-Badr 11.04 (the latest version of Ubuntu Muslim Edition)
i’ve downloaded it two days ago.

 

here some screenshoot :

 

maktabah elkirtass

(perpustakaan digital berisi kitab-kitab klasik islam. baru diisi beberapa kitab)

 

Ditulis dalam Linux. 6 Komentar »

JANGAN BERHENTI MEMBACA !

Ilmu bagi seorang pendidik ibarat persediaan logistik yang harus dijaga agar jangan menipis dan habis persediannya. Dalam suasana perang, saat persediaan logistik menipis, habis atau berhasil dikuasai musuh, akan terjadi kekalahan signifikan yang bisa meluluhlantakan eksistensi. Tengok sejarah, saat Rasulullah saw. menguasai sumur-sumur di areal perang Badar, Quraisy hanya mampu berdiri tegak beberapa saat dan kemudian bertekuk lutut. (Lihat: Sirah Nabawiyah –pelajaran dari kehidupan nabi-, DR. Musthafa As-Siba’i, hal. 67, pererjemah Shalihin Rasyid, Era Intermedia, Solo. Atau lihat: سيرة ابن هشام – ج 1 / ص 620)

Ilmu bagi seorang pendidik ibarat pedang bagi seorang pejuang (mujahid). Bisa digunakan untuk membela diri atau menyerang. Jika pedang itu tajam, akan tercipta kemenangan. Namun sebaliknya jika tumpul atau hanya disarungkan, seakan-akan dengan suka rela menjadi seorang pecundang.

Ilmu bagi seorang pendidik ibarat pelita ditengah gelap malam. Jika ia ada dan tersedia maka jalan terjal penuh duri masih bisa dilewati. Akan tetapi, jika ia padam, jalan lurus dan lenggang pun seakan menanjak dan penuh onak.

Ilmu, tidak akan ada dengan serta merta. Meniup sekali, kemudian rangkaian kata dan untaian kalimat masuk dengan lancar kedalam akal pikiran hanya terjadi di dunia dongeng. Membakar buku, mencampur abu dengan air, meminumnya dan ilmu hadir secara kasyaf  hanya dagelan konyol orang-orang pandir.

Layaknya sebuah komputer, ada input, proces dan output. Ilmu juga memerlukan input agar bisa di-print out. Input ilmu pengetahuan adalah membaca. Dengan membaca intensif, seorang ‘alim akan mampu menghasilkan karya, lancar berbicara, lugas mengulas, mudah menelaah, kreatif menulis, kritis berfikir, bijak memutuskan, dan lebih  hati-hati dalam berperilaku.

Memaksa diri untuk memulai membaca sangat berat, dan akan lebih berat jika tidak pernah mau untuk memulai. Membaca adalah proses merubah untuk berubah. Setelah seseorang membaca ia akan sampai pada suatu ilmu, ilmu itu harus mampu merubah pola fikir, watak dan perilaku. Inilah yang sulit, inilah yang dihindari, inilah momok menakutkan bagi mereka yang malas membaca. Merasa takut saat bacaan itu menjadi ilmu ternyata tak mampu untuk mengamalkan dan mengajarkan. Takut terkena delik sebagai seorang ‘alim yang tidak ‘amil. Padahal, saat membaca ditinggalkan, dengan otomatis ia kena delik memelihara kebodohan. Nah lho! Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam karya. 10 Komentar »

Mengembalikan Tradisi Keilmuan

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) [العلق/1-5]

        Ayat pertama yang Allah Swt. turunkan adalah perintah untuk membaca, Iqra. Baik ayat Qauliyah maupun Kauniyah.  Dalam perintah ini terkandung banyak maksud. Yang paling jelas adalah kemampuan manusia untuk terus meningkatkan diri. Artinya, ketika Allah Swt.    memerintahkan manusia untuk membaca, maka dalam diri manusia telah tersedia perangkat-perangkat yang mendukung tercapainya hasil bacaan berupa pengetahuan.

     Manusia memiliki media input berupa pendengaran (as-sam’u), penglihatan (al-bashoru) dan hati nurani (al-Fuaadu). Perpaduan  seimbang antara ketiga peringkat ini melahirkan Ma’rifatullah yang hasilnya adalah Al-Hidayah. Terbukti kemudian bahwa manusia memiliki memori kompleks berupa otak yang belum ada tandingannya.

( وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل : 78)

“Dan Allah Swt.  mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”  (An-Nahl 78)

            Setelah membaca adalah menulis,  Alladzi ‘allama bil-qolam.  Karena menulis berarti menyimpan apa yang telah dibaca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja (dua arah). Dengan tulisan, kita bisa mengajari, menyebarkan ide, melontarkan gagasan, menyampaikan kritikan atau hanya sekedar memberi tanggapan.

            Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Membaca tanpa menulis berarti membiarkan apa yang ada di dalam otak tidak tereksplorasi dengan sempurna. Sebaliknya menulis tanpa membaca berarti menyampaikan sesuatu tanpa dasar yang valid dan autentik, pada waktu tertentu akan menyebabkan suatu kekeliruan fatal.  Amanah Ilmiah adalah suatu keniscayaan. Baca entri selengkapnya »

BERKAH MAKAN SAHUR

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَة

Artinya: “Makan sahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat berkah.” (HR. Bukhari)

Al-Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani menyebutkan dalam Kitab Fathul baari bahwa yang dimaksud dengan berkah disini adalah: pertama: pahala dari Allah. Kedua: menambah kekuatan tubuh dan semangat dalam menjalani puasa. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan berkah disini adalah bangun pagi dan berdoa saat makan sahur.

Akan tetapi, yang paling benar yang dimaksud dengan berkah saat sahur adalah bermacam-macam. Pertama: Mengikuti Sunnah Rasulullah Saw. Kedua: Membedakan diri dengan ahlul Kitab. Ketiga: Menguatkan tubuh. Keempat: Menambah semangat. Kelima: Memerangi kebiasaan jelek yang bisa menyebabkan rasa lapar yang berlebihan. Keenam: Membiasakan untuk bersedekah bagi pemina-minta atau orang yang hadir bersama saat sahur. Ketujuh: Membiasakan diri untuk berdoa pada waktu mustajabah. Kedelapan: Menyempatkan diri untuk berniat puasa bagi yang lupa dan belum berniat sebelum tidur.

Ibnu Daqiq Al-’iid mengatakan: “Sahur bisa dikategorikan sebagai Amalan Akhirat. Sebab, melaksanakan ibadah sunnah jelas mendapatkan pahala dan tambahanya. Bisa juga menjadi Amalan Duniawi. Sebab, ia menguatkan tubuh dan menghindarkan orang yang berpuasa dari penyakit yang membahayakan dirinya.

Adapun berkah sahur sebagai pembeda dengan Ahlul Kitab, sebab mereka meninggalkan sunnah sahur ketika berpuasa. Ini adalah salah satu bentuk alasan yang menyebabkan tambahan pahala bagi orang yang berpuasa daln melaksanakan sahur. Para ahli tasauf berpendapat bahwa Sahur berkaitan erat dengan hukum berpuasa. Puasa mewajibkan orang untuk menahan syahwat perut dan kemaluan, dan sahur terbukti dapat menjawab hal itu.

Sahur sah dengan mengonsumsi porsi minimal dari makanan dan minuman. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menyebutkan :

” السحُورُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ ، فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “

Artinya: “Sahur itu mengandung berkah. Maka, janganlah salah seorang diantara kalian meninggalkanya, walaupun hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya para Malaikat membaca shalawat (mendoakan) kepada orang-orang yang melaksanakan sahur.”

Dalam riwayat lain, Sa’id bin Manshur meriwayatkan:

” تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِلُقْمَةٍ “

Artinya: “Makan sahurlah kalian walaupun hanya sesuap.”

‘arhsa@yahoo.co.id

Referensi:

Maktabah Syamilah versi 2,8. ,   ( صحيح البخاري – (ج 7 / ص 3)   , فتح الباري لابن حجر ( ج 6 / ص  71

Ditulis dalam Seputar Ilmu. 4 Komentar »

Menyapa Dunia, Menyambung Tali Silaturrahim

salam buat semua.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ditulis dalam Tak terkategori. 1 Komentar »

PUISI, mewakili kata hati

Entah ada jiwa sastra atau tidak, yang pasti dua bulan seorang kawan mengirimi saya email, isinya membuat hati saya nelangsa , sedih, marah, gemas, dll.

Puisi ini pernah saya kirim ke Bundo Nakjadimande untuk ikut berpartisipasi di kolom mendadak  pelatihan puisi

Inilah puisi yang keluar dari hati:

-Dari ibu dan aku tentang ayah…-

Pandang memagut sejuta bayang haru
Hatiku menjerit mendengar tangisanmu
Selaksa kabut bergayut dikelopak matamu
Sejuta rasa berbaur tanpa irama tanpa nada, sendu
Tabah, sabar, sedih, haru, berbaur menyatu

Nak, ia telah pergi ke pangkuan Ilahi…
Tak kembali walau tuk sekali
Ia telah tiada tapi usah kau lara
Sedu sedanmu hanya kan sia-sia
Tak cukup kata tuk buatnya kembali ada

Kokoh tubuhnya berganti, ringkih dimakan usia
Hitam rambutnya berbaur uban menyela
Sinar matanya tetap tajam walau kian redup
Semua demi kita,… ya, demi kita, agar tetap bertahan hidup

Dua puluh empat tahun berselang
Dua puluh empat tahun yang tak mungkin diulang
Dua puluh empat tahun ia terbaring menyisakan belulang
Dua puluh empat tahun ia pergi tanpa pernah melihatmu pulang

Ia tiada namun semangatnya tetap menyala didada
Ia pergi namun mimpi-mimpinya selalu menyertai

***

Kemarin, kupulang bersiul riang
Ingin kukabarkan padamu aku tlah temukan belahan jiwaku
Namun, kau tak kujumpa…hanya bunda yang kusua
Calon mantumu, bakal ibu dari cucu yang kau rindu tak sempat kau beri restu
Tapi, aku tahu, kau pasti setuju pilihanku

Sejenak ku pergi
Mungkin hampir sepuluh menit tinggalkan monitor ini
Ku menjerit… ya, menjerit walau dihati
Air mata tak mampu kubendung, berderai tiada henti
Sesak nafasku menahan rasa
Kelu lidahku menelan luka
Berat dadaku terhimpit duka
Isak tangisku tertahan
Tak lagi mampu kutahan

Yah…
Anakmu datang ke peraduanmu
Mengumandangkan doa pada-Nya dipusaramu
Semoga Ia terima amal dan ibadahmu
Tak sempat kukecup kerutan didahimu
Tak pernah ku usap keriput ditanganmu
Tak sekalipun kusandarkan kepalaku didadamu
Kurindu bibirmu menyentuh ubun-ubun kepalaku
Ya Allah kuatkan hatiku, ampuni dosa ayah ibuku
Amin.

Garut, Rabu, 9 Des 2009

Ditulis dalam puisi. 6 Komentar »

Istiqamah?!

sedikit skali orang yang bisa istiqamah, sebab manusia memiliki rasa bosan yang sangat parah, maka variasikan aktivitas agar tidak terserang virus futur yang bisa menggerogoti fondasi istiqamah yang belasan tahun kita bangun, jangan biarkan fondasi itu tumbang hanya karena dihempas angin sepoi-sepoi, ingatlah masih ada topan, tornado, elnino, katrina, dan seabrek badai lain yang siap mengempaskan kita. perkuatlah dan pertahankanlah, jangan sampai istiqamah keropos hanya karena masalah sepele, akankah kita gadaikan idealisme dengan harga murah?!!!

Ditulis dalam 1. 11 Komentar »

Antara Kita dan Tokoh Idola

Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah, berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah, namun sayang mereka tidak pernah merasa defisit, padahal sama sekali tidak meneladani keutamaan mereka. “Barang siapa lambat amalnya, tidak akan menjadi cepat karena nasabnya.”

KH. Rahmat Abdullah, UKD hal. 32.

Generasi paling orisinil dalam meniru biasanya mereka yang hidup satu zaman dengan sang idola. Tengok Muhammad Rasulullah, kepribadian dan akhlaknya begitu kentara dalam jiwa para sahabat. Lihat buah karya Mark yang begitu mengakar dalam jiwa Lenin, Stalin dan kambratnya yang lain. Lihat Nazi, pada zamanya begitu kokoh dan kuat sebab sang Fuhrer ada bersama mereka.

Generasi setelah itu, terkadang hanya mengenal nama besar yang begitu harum (negative maupun positif). Bahkan bisa jadi tanpa menelaah apakah idola yang ia ikuti sekuntum mawar yang semerbak mewangi atau justru serpihan bunga bangkai yang berbau busuk. Hanya sedikit yang mengikuti bersandikan pemahaman tentang siapa yang ia idolakan, selebihnya hanya kumpulan manusia yang disatukan oleh sifat, sikap, kepentingan, dan yang tidak kalah penting: fanatisme buta yang terkadang sangat membabi buta.

Coba Tanya anak muda, kenapa mengidolakan mendiang Michael Jackson, Kurt Cobain, Che Guevera, dll? Jawaban bisa beragam: gue banget, macho, pahlawan, jiwa muda, ideology dll. Tapi coba tanyakan apakah mereka kenal dengan baik siapa idolanya itu hingga mati-matian di-beo-i sampe mati? pasti geleng kepala, hanya sekedar tahu dari berita, potongan artikel dikoran, sedikit tulisan dibuku, informasi dari teman atau guru, dll. Hanya sdikit yang faham, sekali lagi: hanya sedikit.

Terkadang, idola hanya dipajang di dinding, dicetak dikaos, dirajah di lengan, dada bahkan paha. Semua tidak masalah, silahkan pasang photo marilyn Monroe, superman, elvis dan yang lainnya agar menjadi tanda rasa cinta, bukti nge-fans abiez.

Apakah itu bentuk peng-idolaan yang ideal?

Jika mereka-mereka yang disebut diatas diperlakukan seperti itu, maka silahkan saja. Akan tetapi jika Muhammad Sang Idola hanya dipasang namanya didinding tapi tak sekalipun digumamkan dalam dzikir, atau hanya disebut namanya dengan nada tanpa makna, atau ditulis tapi tidak diteladani, apa kata akhirat.

Bukankan telah ada dalam diri Rasulullah teladan (contoh) yang baik? Idola adalah ruh tak kentara yang menjadi teman akrab tempat berbagi, curahan rasa, bahkan pemberi kebijakan. Idola adalah pribadi imaginer yang akan terus mengikuti bahkan terkadang mendikte pemikiran dan perilaku. Maka, carilah idola yang ideal agar kita seperti Umar Al-Faruq bukan Karl Mark, seperti Sholahuddin bukan stalin. Jangan salah memilih idola, sebab ia akan menyertai hatta hingga ke liang lahat bahkan akhirat.

جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ، كيف تقول في رجل أحب قوما ولم يلحق بهم ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( المرء مع من أحب ) . الراوي: عبدالله بن مسعود المحدث: البخاري – المصدر: الجامع الصحيح – الصفحة أو الرقم: 6169 خلاصة الدرجة: [صحيح]

“Messenger of Allah, what about a man who loves some people but cannot match their good deeds?” The Prophet replied: “You, Abu Zarr, will be with those whom you love.” Abu Zarr said: “I love Allah and His messenger.” The Prophet replied: “You will be with whom you love.”

فالمعجب بلاعب أو بأي شخص مشهور تجده يتابع أخر أخباره وتحركاته ، يبحث عما يحبه ، بل ويقلده مع الوقت في ملبسه ، مشيته ، كلامه ، فهو في الحقيقة مُحب … فهنا سنجدد حبنا لمن هم أولى بمتابعة أخبارهم ، صفتهم الخلقية والخُلقية ، في صورة جُمل قصيرة تزيد من حبنا لهم

“saat anda melihat ada orang yang kagum dengan seorang pemain (ex. Bola, dll) atau orang terkenal, maka ia akan berusaha mencari kabar terbaru tentangnya, karakteristiknya, apa yang ia sukai, bahkan kemudian mengikuti cara berpakaian, cara berjalan, cara berbicara, dll. Maka itu adalah bentuk rasa cinta. Maka perbaharuilah rasa cinta itu untuk sang idola yang layak diikuti akhlaknya.

"    http://www.facebook.com/pages/You-will-be-with-whom-you-love-lmr-m-mn-b/109214366269?v=info

Akhirnya:

• jangan pernah bangga jika anda dijadikan idola, ingatlah hanya sedikit yang mengenal siapa anda sebenarnya dan mencintai anda dengan tulus. Selebihnya, hanya kumpulan manusia yang memuji tanpa hati, mencintai tanpa cinta, masihkan ingin dieluk-elukan manusia tanpa hati dan perasaan?

• Untuk anda para pencari idola, idola sedikitnya akan ikut membentuk karakter anda, maka carilah idola yang betul-betul bias menjadi penuntun kejalan yang lurus, pengingat dari alpa, penyemangat disaat lesu, motivator yang mendorong untuk maju dan sukses. Jika anda seorang muslim, maka idola pertama adalah Rasulullah Saw. Kenali dan ikuti dia, anda dijamin bahagia.

• Be your self, jadilah diri sendiri, optimalkan kemampuan, energi, bukan untuk menjadi seperti idola, tapi jadikan ia gambaran, panutan, teladan, manusia tidak sama, maka kenapa mesti mati-matian ingin sama dengan sang idola?! Hanya satu yang harus diperlakukan seperti itu: Muhammad Rasulullah Saw.

arhsa@yahoo.co.id

Ditulis dalam Pemikiran. 17 Komentar »

MENYAPA SEMUA, I miss u all

lebih dari satu bulan blog ini terbengkalai, tidak diupdate bahkan komen2 pun tak sempat saya jawab.

mohon maaf untuk semua.

Ditulis dalam diary. 2 Komentar »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.