Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah, berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah, namun sayang mereka tidak pernah merasa defisit, padahal sama sekali tidak meneladani keutamaan mereka. “Barang siapa lambat amalnya, tidak akan menjadi cepat karena nasabnya.”
KH. Rahmat Abdullah, UKD hal. 32.
Generasi paling orisinil dalam meniru biasanya mereka yang hidup satu zaman dengan sang idola. Tengok Muhammad Rasulullah, kepribadian dan akhlaknya begitu kentara dalam jiwa para sahabat. Lihat buah karya Mark yang begitu mengakar dalam jiwa Lenin, Stalin dan kambratnya yang lain. Lihat Nazi, pada zamanya begitu kokoh dan kuat sebab sang Fuhrer ada bersama mereka.
Generasi setelah itu, terkadang hanya mengenal nama besar yang begitu harum (negative maupun positif). Bahkan bisa jadi tanpa menelaah apakah idola yang ia ikuti sekuntum mawar yang semerbak mewangi atau justru serpihan bunga bangkai yang berbau busuk. Hanya sedikit yang mengikuti bersandikan pemahaman tentang siapa yang ia idolakan, selebihnya hanya kumpulan manusia yang disatukan oleh sifat, sikap, kepentingan, dan yang tidak kalah penting: fanatisme buta yang terkadang sangat membabi buta.
Coba Tanya anak muda, kenapa mengidolakan mendiang Michael Jackson, Kurt Cobain, Che Guevera, dll? Jawaban bisa beragam: gue banget, macho, pahlawan, jiwa muda, ideology dll. Tapi coba tanyakan apakah mereka kenal dengan baik siapa idolanya itu hingga mati-matian di-beo-i sampe mati? pasti geleng kepala, hanya sekedar tahu dari berita, potongan artikel dikoran, sedikit tulisan dibuku, informasi dari teman atau guru, dll. Hanya sdikit yang faham, sekali lagi: hanya sedikit.
Terkadang, idola hanya dipajang di dinding, dicetak dikaos, dirajah di lengan, dada bahkan paha. Semua tidak masalah, silahkan pasang photo marilyn Monroe, superman, elvis dan yang lainnya agar menjadi tanda rasa cinta, bukti nge-fans abiez.
Apakah itu bentuk peng-idolaan yang ideal?
Jika mereka-mereka yang disebut diatas diperlakukan seperti itu, maka silahkan saja. Akan tetapi jika Muhammad Sang Idola hanya dipasang namanya didinding tapi tak sekalipun digumamkan dalam dzikir, atau hanya disebut namanya dengan nada tanpa makna, atau ditulis tapi tidak diteladani, apa kata akhirat.
Bukankan telah ada dalam diri Rasulullah teladan (contoh) yang baik? Idola adalah ruh tak kentara yang menjadi teman akrab tempat berbagi, curahan rasa, bahkan pemberi kebijakan. Idola adalah pribadi imaginer yang akan terus mengikuti bahkan terkadang mendikte pemikiran dan perilaku. Maka, carilah idola yang ideal agar kita seperti Umar Al-Faruq bukan Karl Mark, seperti Sholahuddin bukan stalin. Jangan salah memilih idola, sebab ia akan menyertai hatta hingga ke liang lahat bahkan akhirat.
جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ، كيف تقول في رجل أحب قوما ولم يلحق بهم ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( المرء مع من أحب ) . الراوي: عبدالله بن مسعود المحدث: البخاري – المصدر: الجامع الصحيح – الصفحة أو الرقم: 6169 خلاصة الدرجة: [صحيح]
“Messenger of Allah, what about a man who loves some people but cannot match their good deeds?” The Prophet replied: “You, Abu Zarr, will be with those whom you love.” Abu Zarr said: “I love Allah and His messenger.” The Prophet replied: “You will be with whom you love.”
فالمعجب بلاعب أو بأي شخص مشهور تجده يتابع أخر أخباره وتحركاته ، يبحث عما يحبه ، بل ويقلده مع الوقت في ملبسه ، مشيته ، كلامه ، فهو في الحقيقة مُحب … فهنا سنجدد حبنا لمن هم أولى بمتابعة أخبارهم ، صفتهم الخلقية والخُلقية ، في صورة جُمل قصيرة تزيد من حبنا لهم
“saat anda melihat ada orang yang kagum dengan seorang pemain (ex. Bola, dll) atau orang terkenal, maka ia akan berusaha mencari kabar terbaru tentangnya, karakteristiknya, apa yang ia sukai, bahkan kemudian mengikuti cara berpakaian, cara berjalan, cara berbicara, dll. Maka itu adalah bentuk rasa cinta. Maka perbaharuilah rasa cinta itu untuk sang idola yang layak diikuti akhlaknya.
" http://www.facebook.com/pages/You-will-be-with-whom-you-love-lmr-m-mn-b/109214366269?v=info
Akhirnya:
• jangan pernah bangga jika anda dijadikan idola, ingatlah hanya sedikit yang mengenal siapa anda sebenarnya dan mencintai anda dengan tulus. Selebihnya, hanya kumpulan manusia yang memuji tanpa hati, mencintai tanpa cinta, masihkan ingin dieluk-elukan manusia tanpa hati dan perasaan?
• Untuk anda para pencari idola, idola sedikitnya akan ikut membentuk karakter anda, maka carilah idola yang betul-betul bias menjadi penuntun kejalan yang lurus, pengingat dari alpa, penyemangat disaat lesu, motivator yang mendorong untuk maju dan sukses. Jika anda seorang muslim, maka idola pertama adalah Rasulullah Saw. Kenali dan ikuti dia, anda dijamin bahagia.
• Be your self, jadilah diri sendiri, optimalkan kemampuan, energi, bukan untuk menjadi seperti idola, tapi jadikan ia gambaran, panutan, teladan, manusia tidak sama, maka kenapa mesti mati-matian ingin sama dengan sang idola?! Hanya satu yang harus diperlakukan seperti itu: Muhammad Rasulullah Saw.
arhsa@yahoo.co.id

